KISAH ADAM DAN HAWA bag-10 – Poskota.co
Wednesday, September 20

KISAH ADAM DAN HAWA bag-10

ilustrasi
ilustrasi

POSKOTA.CO – Ketika Adam dan Hawa jatuh ke Bumi, mereka terpikat oleh kesenangan duniawi dan pada hakikatnya melupakan pertobatan. Sejak itu, mereka telah terpukau. Mabuk terpukau masih dapat diterima, tapi kenapa mereka sangat garang? Itu karena apa yang sudah saya beritahukan kepada kalian.

Ketika mereka ingin makan buah di Surga, buah itu akan jatuh ke dalam tangan mereka. Hal seperti itu tak pernah terjadi di dunia ini. Kalian menggoyangkan pohon sekuat tenaga atau bahkan memakai kait, dan buah itu tetap takkan jatuh.

Jadi, mereka mulai memeras akal mereka, berusaha memikirkan cara untuk mendapatkan banyak buah dengan cara yang paling beradab dan cepat. Mereka mendapatkan inspirasi dari kekuatan hujan dan badai.

Mereka melihat pohon-pohon bergoyang-goyang terkena angin, jadi mereka meniru dan menghembus pohon itu. Pohon-pohon itu tak bergerak sedikit pun. Lalu mereka mulai berlatih Chi-kung dan pertukaran energi.

Mulanya mereka hanya dapat menggertak pohon kecil. Ketika Chi mereka bertambah kuat, mereka mempengaruhi pohon yang besar. Alhasil, wajah mereka mulai terlihat memerah, dan suara mereka juga menjadi sangat keras dan kasar. Sebelumnya, mereka tidak perlu berbicara di Surga. Semua orang dapat berkomunikasi dengan telepati dan memahami pikiran yang lain.

HEWAN

Di sini mereka harus belajar dari hewan karena mereka ingin melindungi diri mereka. Keadaannya masih oke ketika mereka pertama datang ke sini; tapi kemudian, hewan mencium bau mereka dan mengancam untuk memakan mereka. Merasa takut terhadap hewan yang meraung, mereka tidak tahu harus berbuat apa.

Maka, karena hewan meraung, Adam, Hawa, dan anak-anak mereka juga mulai meraung. Melihat bahwa mereka lebih ganas, bahkan macan melarikan diri – berhasil! Metode mereka berhasil. Maka, mereka meneruskan dan menjadi lebih ganas, seperti macan dan singa.

Jika kita kadang melihat orang yang sangat ganas, kalian tahu bahwa begitulah cara mereka pertama mempelajarinya. Mulanya, mereka mempraktikkannya untuk melindungi diri mereka, tapi lambat laun itu menjadi kebiasaan yang mendarah daging.

SUARA PARAU

Begitulah cara kita menjadi seperti diri kita yang sekarang – Buddha yang ganas dan bersuara parau. Jika orang masih ingat seperti apa diri mereka pada saat awal, mereka akan berbicara dengan cara yang lebih lembut. Jika mereka tidak ingat, mereka meraung. Jadi, sekarang kita tahu bahwa kebiasaan kitalah yang membuat kita berbicara dengan lembut atau keras.

Kemudian muncullah bunyi siulan angin, mirip seperti suara gaduh macan dan singa. Namun, Adam masih tak bisa berbicara dengan istrinya karena dulu mereka tidak perlu berbicara di Surga. Begitu orang lain berpikir, mereka mengerti.

Tak perlu satu patah kata pun. Ketika mereka jatuh ke Bumi, kekuatan mereka hilang. Keadaannya berbeda saat mereka kehilangan kekuatan berkah. Setelah mereka meninggalkan kekuatan ini, mereka tersesat dalam dunia sekuler ini. Karena itu, mereka perlu berbicara.

Kemudian mereka merasa malu yang menjauhkan diri mereka satu sama lain. Mereka tak berani memegang tangan yang lain atau melakukan apa pun. Itu tidak sama lagi. Jadi, mereka mulai memesonai satu sama lain.

Dalam melakukannya, mereka harus belajar dari hewan, karena mereka tak dapat lagi melakukan komunikasi batin, dan mereka juga tidak tahu cara berbicara. Mereka mengamati hewan dan menirukan suara mereka. Begitulah cara mereka belajar A-B-C.

PERILAKU

Karena tak bisa belajar dari orang lain, mereka hanya dapat meniru perilaku hewan yang kacau. Ketika mereka masih di atas sana, mereka belajar dari Tuhan, dari makhluk abadi, para Buddha dan Bodhisattva (makhluk tercerahkan), yang jauh lebih elegan daripada dunia manusia.

Ketika mereka pertama datang, tak ada manusia lain, karena mereka adalah   leluhur kita. Mereka tidak punya seorang guru yang tercerahkan untuk mengajari mereka di sini, jadi mereka harus mengajari diri mereka sendiri. Namun, kebijaksanaan mereka telah terputus dan terlupakan! Begitu mereka meninggalkan pusat rohani, mereka tersesat dan tak dapat
kembali.

Mereka mabuk terpukau oleh gairah dan kesenangan sensual! Dunia sekular penuh dengan kekhawatiran yang membuat mereka lupa dengan kebijaksanaan mereka, jadi mereka harus mengurus diri mereka sendiri.
Karena tak memiliki guru, mereka belajar dari angin, hujan, guntur yang menakutkan, matahari, dan fenomena panas dan dingin yang ekstrem. Mereka belajar segala sesuatu dari alam.

Mereka juga belajar dari hewan, cara melindungi diri mereka. Kadang mereka tidak benar-benar marah, tapi ketika macan datang meraung, mereka juga meraung. Mereka meniru macan dengan baik sehingga mereka mulai terlihat seperti macan.

Mereka tidak benar-benar ganas di dalam hati mereka, tapi kadang Adam akan lupa dan bahkan meraung kepada istrinya. Istrinya juga meraung balik kepadanya. Jadi, keduanya bertindak dengan cara yang sama. Bahasa manusia dimulai dari sana, yang merupakan himpunan suara hewan.

Kita seharusnya tidak menyalahkan diri kita; kita seharusnya menyalahkan Tuhan karena memberi kita hukuman yang sangat berat. Bagaimanapun juga, Tuhan tidak sabar pada mulanya. Dia memiliki kesabaran yang paling besar, tapi Dia juga paling tidak sabar.

Dia adalah yang paling murah hati, tapi juga paling acuh tak acuh. Dia memiliki dua wajah. Dia adalah yang paling “Yin” dan yang paling “Yang”; yang paling lembut dan yang paling kuat. Inilah yang membuat Dia sangat menarik.

Sama halnya di dunia kita. Jika hanya ada sinar matahari setiap hari, kita tak tahan, dan tanaman takkan tumbuh. Kita memerlukan hujan. Namun, jika hujan turun terus-menerus, itu sangat tak nyaman bagi kita yang tinggal di dalam tenda.

Jadi, keduanya adalah penting. Namun, meski kita menyadari hukum keseimbangan Yin-Yang, kita tetap tak tahan jika pengaruhnya mengenai kita. Kia tahu ada hari yang berhujan dan hari yang cerah; ada musim dingin dan musim panas. Namun, kita sering mengeluh tentang cuaca musim panas yang panas, lengket, dan lembab.

BASAH KUYUP

Jika hujan turun, meski kita tahu itu penting bagi pertanian, kita tetap tidak tahan. Khususnya jika kita sedang mengadakan retret atau pertemuan satu atau tujuh hari. Semua orang basah kuyup, cangkir baja penuh air hujan dan tak dapat digunakan untuk minum teh Oolong. (Gelak tawa)

Hal yang sama berlaku jika kita mengalami cobaan dalam olah rohani kita. Guru telah memberitahu kita 108 kali bahwa seharusnya akan ada cobaan, dan bahwa kita mesti mempertahankan pikiran yang seimbang, melihat hal-hal baik dan buruk sebagai hal yang sama, dan memandang pujian dan cercaan secara sama.

Namun, saat kita sedang dimarahi, kita masih bermuka masam, merasa terluka, dan menunjukkan semua sikap protes kita. Satu di sini dan satu di sana, dengan banyak tanda-tanda kecil. Kita menunjukkan protes dengan semua tangan dan kaki kita – terhadap orang yang tidak kita ketahui, bahkan ketika tak ada orang yang melihat kita. (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - Fraksi Demokrat DPRD Maluku meminta KPU setempat menunjukan surat Fatwa Makamah Konstitusi yang menyatakan bahwa Keputusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) yang menetapkan inkrah. Dan itu tidak ada pengaruh terhadap hasil sengketa Perselisihan Hasil Pilkada Ulang (PHPU) Maluku putaran kedua pada 14 Desember 2013. "Kalau sudah tidak ada pengaruhnya maka perlu didorong secepatnya menerbitkan Surat Keputusan (SK) pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih," kata Wakil Ketua F-Demokrat DPRD Maluku, Melky Frans di Ambon, Rabu. KPU DIKALAHKAN Menurut dia, proses persidangan di MK itu mengadili hasil sengketa PHPU bukan sengketa administratif yang secara hukum, KPU Maluku sudah dikalahkan melalui putusan PTUN yang membatalkan SK KPU Maluku No.16/Kpts/KPU - PROV -028/IV/2013 tertanggal 24 April 2013. "Fraksi Demokrat DPRD Maluku juga mendorong KPU setempat segera diberhentikan, karena sudah purna bhakti. Sebab dengan menyerahkan surat usulan pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih pada 3 Februari 2014 dan DPRD sudah menindaklanjuti ke Menteri Dalam Negeri, maka KPU harus meletakan jabatannya," kata Melky. RAPIM Ia menjelaskan, bahwa pada 5 Februari 2014 DPRD Maluku melakukan rapat pimpinan terbatas dan hasilnya empat fraksi secara lisan memberikan dukungan sedangkan dua fraksi belum memberikan dukungan, karena perlu meminta KPU setempat memberikan penjelasan hukum secara jelas, terkait keputusan lembaga peradilan PTUN inkrah. "Fraksi Demokrat tidak setuju terhadap surat usulan KPU Maluku untuk proses pelantikan gubernur dan wakil gubernur terpilih, karena kita tidak mau proses pelantikan dipaksakan jalan dan beberapa waktu kemudian timbul persoalan baru, maka yang rugi adalah, kandidat, rakyat dan daerah," ucapnya. "Sekali lagi kami belum memberikan persetujuan karena perlu membutuhkan sebuah penjelasan hukum yang jelas dari KPU dan MA tentang Keputusan PTUN yang menetapkan inkrah mengalahkan KPUD atas pasangan cagub-cawagub Jecky-Adam," katanya. Ia menambahkan, ada enam fraksi di DPRD dalam membuat keputusan secara kolektif kolegial dan ketika ada empat fraksi yang menyatakan surat usulan KPU itu perlu ditindaklanjuti maka wajib disampaikan ke Mendagri sebab ini keputusan bersama DPRD. BELUM TERIMA Tetapi dalam prosesnya ada dua fraksi yang menyatakan belum menerima karena masih butuh penjelasan yang jelas dan jujur tentang Keputusan PTUN inkrah dan sudah ada surat perintah untuk eksekusi keputusan itu. "Mestinya sejak awal harus memberikan penjelasan kepada rakyat bahwa tidak ada permasalahan lagi, itu berarti kita semua mendorong SK diterbitkan untuk segera sidang paripurna pelantikan. Jangan menuding Fraksi Demokrat yang mengganjal, saya mau katakan tidak ada yang mengganjal Pak Said Assagaff-Zeth Sahuburua (Setia), karena kita butuh pemimpin yang definitif," kata Melky. antara