harmono 25/03/2019


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

JUDUL di media seringkali ditulis dengan kata atau kalimat yang menjual, atau membuat yang membaca terhentak hatinya. Seringkali judul tidak sama atau bahkan bisa bertentangan dengan isinya. Bagi yang membaca judul sudah tergerak hatinya entah marah atau simpati akan ada reaksi dari memberi komentar gerundelan sampai men-share ke jejaringnya. Apalagi saat ada kepentingan, maka judul akan menjadi bahan jualan atau menjadi alat pencapaian tujuan. Judul di media bisa saja mencerahkan namun sebaliknya juga bisa memprovokasi, dan parahnya jika sudah berbau kebencian hoaks pun dilakukan.

Dahulu pepatah mengatakan, fitnah lebih kejam dari pembunuhan, sekarang fitnah itu diambil alih oleh hoaks. Makna hoaks bisa menjadi dinamis tatkala dari palsu, bohong, menipu, menyesatkan, membodoh-bodohi, mengajarkan kebencian, sampai mengajak berperang antarsaudara. Itu pun masih dapat dikembangkan atau dijadikan suatu kajian secara bertingkat atau bervariasi.

Media begitu kuat mempengaruhi pikiran emosi bahkan jiwa dalam kalangan virtual. Persepsi publik pun bisa dibaca di situ. Opini publik pun bisa didesain dan dikendalikan dari media. Media yang waras berisi pencerahan. Sebaliknya media yang gila akan sarat dengan kebencian, penyesatan bahkan hoaks pun menjadi unggulannya.

Media bagai raksasa bertangan seribu menjadi sangat menangan. Apa saja, kapan saja, di mana saja, siapa saja bisa bergabung dan memanfaatkanya. Dalam media pun adu kekuatan terus terjadi, siapa kuat dia menang, siapa kalah akan dilibas. Pencerah versus provokasi monggo cerdas bermedia. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*