harmono 16/09/2018

Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

 

“Memang baik menjadi orang penting
tapi lebih penting menjadi orang baik”
(Hoegeng Iman Santoso)

POLISI ibarat sandal atau sepatu, semahalapa pun tidak akan ditaruh di kepala, tetap saja ditaruh di kaki dan dijadikan alas. Pada saat pesta, bekerja atau bepergian atau dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan apabila kita tidak memakai sepatu atau sandal akan terlihat aneh, atau mungkin juga bisa dibilang tidak normal. Suatu negara yang modern mereka untuk menjaga keteraturan sosialnya dengan menjaga keamanan dan rasa aman, di situlah kepolisian akan dibangun dan ditumbuhkembangkan.

Akan aneh jika suatu negara bila tanpa polisi. Polisi merupakan bagian dari masyarakatnya, dan sekaligus produk dari masyarakatnya, yang dalam penyelenggaraan tugasnya polisi melalui pemolisian. Ada hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antara polisi dengan masyarakatnya.

Prof Satjipto Rahardjo mengatakan, polisi yang baik adalah polisi yang cocok dengan masyarakatnya. Keberadaan polisi memang harus dekat dengan masyarakatnya. Kedekatan ini yang setidaknya harus dibangun secara sistematis, bukan sebatas kemampuan individual yang sifatnya parsial atau temporer melainkan juga dinamis mengikuti perubahan dan perkembangan serta dinamika dari masyarakat yang dilayaninya.

Mengapa demikian, karena polisi untuk mencapai tujuannya, dan berhasil menyelenggarakan tugasnya perlu dukungan dan bantuan dari masyarakat serta mendapat legitimasi dari masyarakatnya. Polisi yang tidak dekat dan tidak dipercaya oleh masyarakatnya akan mengalami berbagai kesulitan dalam penyelenggaraan tugasnya bahkan bisa menjadi konflik dengan masyarakatnya.

Kedekatan dan kepercayaan masyarakat kepada polisi merupakan produk kinerja. Apabila kinerja pllisi yang dapat dirasakan secara signifikan oleh masyarakat dengan adanya pelayanan prima kepolisian dengan adanya keamanan dan rasa aman, maka masyarakat akan memberikan kepercayaan kepada Polri.

Sejalan dengan kebijakan Kapolri yaitu, profesional, modern dan terpercaya (promoter). Makna profesional secara umum dapat dijabarkan dalam indikator-indikator sebagai berikut:

  1. Para pekerja/petugasnya memiliki keahlian/ setidaknya memiliki kompetensi;
  2. Pekerjaan yang dilakukan jelas dan terukur berdasar pada standardisasi input, proses maupun outputnya;
  3. Produk-produk kinerjanya secara signifikan dapat dirasakan hasilnya oleh masyarakat dalam pelayanan publik yang memenuhi standar kecepatan, ketepatan, keakurasian, transparansi, akuntabilitas, informasi maupun kemudahan mengakses;
  4. Etika kerja (do and don’t, serta sanksinya) berbasis pada SOP yang berisi job descriptionjob analysis, standardisasi keberhasilan tugas, sistem penilaian kinerja, sistem reward and punishment.

Makna modern di era digital, tentu dilihat dari sistem-sistem yang dibangun ada back office, aplikasi, network, sehingga dapat memberikan pelayanan 24 jam sehari, dan tujuh hari seminggu secara proaktif dan problem solving, yang didukung dengan sistem-sistem komunikasi, koordinasi, komando pengendalian dan informasi. Sistem-sistem modern ini dapat ditunjukkan adanya efektivitas, efisiensi dan memenuhi standar-standar pelayanan prima dengan petugas-petugas yang profesional.

Makna terpercaya adalah, dapat diunggulkan dan kinerjanya dirasakan membawa manfaat bagi masyarakat dengan adanya keamanan dan rasa aman. Dan di dalam melakukan pelayanan kepada publik tidak melakukan tindakan-tindakan yang menyebabkan orang tidak percaya antara lain:

  1. Memeras;
  2. Menerima suap;
  3. Menjadi backing yang ilegal;
  4. Arogan;
  5. Apatis/masa bodoh/tidak empati;
  6. Anarkis/melakukan kekerasan;
  7. Berkata kasar;
  8. Memprovokasi/menabur kebencian/menyulut konflik, dan lain sebagainya.

Figur seorang polisi yang ideal sebagai raw model memang harus dibangun. Model itu dapat kita ambil dari sosok Hoegeng Iman Santoso. Ia seorang polisi yang bersahaja, yang patut diteladani dari pemikirannya, sikapnya, gaya kepemimpinannya, keberaniannya, kecintaan dan kebanggaannya akan pekerjaannya sebagai petugas polisi. Tidak mudah menjadi polisi dalam negara yang sedang menghadapi krisis. Sulit juga menjadi polisi yang ideal dalam ketidaknormalan.

Idealisme Hoegeng sebagai polisi ia tunjukkan kedekatannya kepada masyarakat. Ia menjadi penyiar radio Elshinta, bermain musik di hawaian seniors, ia hadiri berbagai acara kemasyarakatan, bahkan saat ada konflik antara Taruna Akpol dengan mahasiswa ITB pun, Hoegeng sendiri turun tangan menyelesaikan.

Betapa ia menyadari apa arti polisi tanpa dukungan masyarakat. Polisi adalah produk masyarakatnya dan para poilisi berasal dari masyarakatnya dan akan kembali kepada masyarakat pula. Dadi polisi anane mung winates, dadi kawulo tanpo winates. “Dadi Polisi kudu ono lelabuhane, ora ono lelabuhane ora ono gunane”.

Kedekatan saat ini bisa dibangun dengan sistem teknologi informasi seperti: email, website, blog, Facebook, Twitter, jaringan SMS, telepon 110, juga sistem-sistem jejaring, dan backup yang terpadu satu dengan yang lainnya. Namun ada yang dikedepankan sebagai hubungan komunikasi secara langsung dari hati ke hati yang memang masih diperlukan. Melalui program community policing/polmas setidaknya jaringan komunikasi akan terus dapat dibangun. Bisa juga melalui forum kemitraan polisi masyarakat.
Polisi akan menjadi dekat apabila cepat merespons dan cepat bertindak bila ada laporan atau keluhan masyarakat. Dan polisi akan menjadi simbol persahabatan bila keberadaan polisi aman, menyenangkan dan bermanfaat bagi masyarakat.

Figur atau sosok pemimpin polisi seperti Hoegeng Iman Santoso masih relevan di ditumbuhkembangkan di era digital dalam membangun polisi yang profesional, modern dan terpercaya. Hoegeng Iman Santoso bisa dikatakan polisi luar biasa yang mempunyai keistimewaan yang dapat menjadi inspirasi dalam membangun polisi sipil dalam masyarakat yang demokratis.

Mungkin secara konseptual, Hoegeng tidak meninggalkan pemikiran-pemikiran atau konsep-konsep penting bagi kepolisian, namun hidup dan kehidupannya dan prinsip-prinsip hidupnya menjadi luar biasa dan mengispirasi yang patut diteladani. Pada saat birokrasi mengagungkan nilai-nilai materialistik dan korup tentu tidak akan tersentuh profesionalisme dan nuraninya, karena yang dikembangkan pendekatan-pendekatan personal.

Sikap dan pemikiran Hoegeng, bisa jadi malah menjadi duri dalam daging atau dianggap tidak mampu memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang dimilikinya. Hoegeng memang keras pada prinsip, dan ia setia pada prinsipnya walau dia sendiri harus rela disingkirkan dan bahkan dicekal. Ia tetap saja mampu menikmati dan bangga dengan apa yang dia miliki, dan ia memang konsisten serta konsekuen mengambil jalan akan hidupnya sebagai polisi.

Seseorang bangga pada profesinya karena merasa profesinya yang mulia, nilai-nilai hakikinya adalah kebenaran dan kemanusiaan. Selain itu juga sadar bahwa memang layak dibanggakan karena mempunyai prestasi dan produk kerja yang bermanfaat bagi kemanusiaan dan penegakan kebenaran.

Saat ia menjadi menteri, iuran negara tetap saja berpakaian dinas kepolisian, begitu bangga dan mencintainya polisi yang ia sandang ke mana-mana. Dalam konteks ini Hoegeng memang menjadi duta kepolisian di institusi lain. Ia sadar akan posisinya sebagai penegak hukum yang memang harus tegas, namun humanis. Ia berani menunjukkan bahwa ada polisi yang layak dan mampu menjadi menteri yang baik.

Hingga kini Hoegeng masih dikenang dan bahkan dijadikan ikon polisi yang bersih. Gus Dur dalam kelakarnya mengatakan, “polisi yang tidak dapat disuap itu ada tiga yaitu, patung polisi, polisi tidur, dan Pak Hoegeng”.

Sebagai pemimpin yang loyal, namun Hoegeng pun tergolong pemberani termasuk berani berkorban dan mengambil risiko dilepas dari jabatannya. Pada saat berseberangan dengan penguasa Orde Baru, ia berani mengatakan tidak, walau masih dalam usia yang tergolong muda sudah dipensiunkan (usia 49 tahun). Ia tunjukkan sikapnya bukan sebagai pengemis jabatan. Hal itu ditunjukkannya saat berani menolak sebagai duta besar di salah satu negara Eropa Timur.

Pada saat menjabat serasa seperti dewa, penuh kuasa, puja dan puji semua menjilatinya, tetapi saat tiada kuasa mulailah keluar semu sindrom-sindromnya, bahkan penyakit-penyakitnya pun diundangnya kembali, bagai orang yang esok akan mati jangankan berprestasi, hidup pun sudah seperti tiada arti. Inilah yang dijungkirbalikkan oleh Hoegeng. Ia tetap bersahaja dan menjadi dirinya sendiri sebagai polisi yang baik. Hoegeng sebagai orang baik, dan ia pun orang penting yang memiliki integritas yang mampu ia tunjukkan dalam pikiran, perilaku dan perbuatannya.

Integritas merupakan karakter seseorang yang mampu menyatukan pikiran, perkataan dan perbuatan. Maknanya adalah ketulus hatian, jujur tidak ada yang disembunyikan. Bukan pula menutupi suatu kebusukkan, kecurangan, atau hal-hal yang kontra produktif. Keberanian keluar dari mainstream salah satunya adalah kejujuran, tiada dusta. Kekuatan untuk bertahan dalam kondisi susah sekalipun karena habitus dan praksisnya adalah kesederhanaan. Segala sesuatu tatkala dikerjakan dengan baik dan benar, apa yang ditakutkan? Ketakutan-ketakutan muncul tatkala ada dusta, ada kesalahan, ada main mata dengan penyimpangan, menikmati dan membiarkan penyalah gunaan terus ada.

Penyelenggaran tugas yang profesional, cerdas, bermoral dan modern, yang mampu mendeklarasikan sebagai program inisiatif antikorupsi, pelayanan prima, membuat para pejabatnya memiliki nyali. Gertak apa pun yang dilontarkan padanya akan dengan mudah dijawab/ditepisnya. Sebagai contoh apa yang dilakukan Pak Hoegeng, walau kondisi ditekan, dicopot dari jabatan, diiming-imingi kenikmatan duniawi, ada kesempatan memperkaya diri, namun semua tidak dilakukan. Memilih bertahan dengan gaya hidupnya.

Integritas Hoegeng terus melegenda, menjadi inspirasi dan ikon antikorupsi. Kejujuran dan kesederhanaan merupakan pilar kebenaran, dan dari situlah nyali keberanian akan berkobar. Tiada kekawatiran, tiada ketakutan. Kesadaran, tanggung jawab dan disiplinya mampu merefleksikan suatu kecintaan dan kebanggaan pada pekerjaan bukan pada jabatan. Berani karena benar, kebenaran dilandasi kejujuran. Kesederhanaan juga merupakan kuatan untuk bertahan pada prinsip-prinsipnya walau harus kehilangan jabatan dan kesempatan-kesempatan lainnya. Kebahagiaan adalah buah dari sesuatu, bukan sesuatu. Tentu saja proses dari sesuatu. Di sinilah tataran kebahagiaan yang tidak terbeli karena bukan dalam ukuran standar materi.

Hoegeng Iman Santoso, sosok seorang polisi, yang juga seorang seniman pernah menjadi kapolri setidaknya bisa dijadikan ikon atau simbol polisi sipil. Hoegeng memang pernah dicekal, pernah dilarang hadir pada HUT Bhayangkara, para pejabat Polri takut dan menyingkir dari Hoegeng. Jangankan mengidolakan, mendekat pun takut.

Suatu ketika ada yang memesan lukisan kepada Hoegeng saat sudah selesai dan akan dibayar, pemesan meminta menghilangkan nama Hoegeng dalam kanvas lukisannya. Hoegeng berkata, tidak jadi karena beli pun tak mengapa, daripada saya harus menghapus nama saya.

Ia seniman (pelukis dan penyanyi sekaligus pemain musiknya), penyiar radio, hobi dalam komunikasi, penyayang binatang, tak neko-neko yang dipikirkannya adalah kemajuan bagi Polri. Sikap dan keteladannya memang patut dibanggakan dalam implementasi tugas Polri. Istri dan anak-anaknya pun tak jarang menjadi korban idealismenya. Apa yang dilakukan Hoegeng memang nampaknya biasa-biasa saja, tetapi kalau dipahami maknanya apa yang dia kerjakan dan yang ia lakukan dapat dikatakan sebagai polisi sipil, dan ia sudah menerapkan prinsip-prinsip polmas walau secara konseptual belum ditulisnya.

Spirit Hoegeng Iman Santoso
Polisi sebagai kumpulan orang baik yang bertugas, menjaga kehidupan, membangun peradaban dan pejuang kemansiaan. Awal konsep ini saya lontarkan banyak yang mencibir bahkan seolah tak percaya bahkan ada petinggi Polri yang mendebat saya bahwa apa dasarnya? Salah seorang ketua sebuah LSM mengatakan, kalau polisi sebagai pejuang kemanusiaan itu belum bisa, karena kenyataannya masih banyak yang tidak sesuai bahkan mengecewakan katanya.

Saya diam saja, saya renung-renungkan mengapa sulit sekali mengajukan motto atau ikon yang dapat untuk mengerem penyimpangan-penyimpangan polisi, dan tentu juga untuk menyadarkan peran dan fungsi polisi yang sebagaimana seharusnya. Padahal yo ra mateni lho yo ora ngrugekne kok yo angel, jare pingin polisi apik tapi diwenehi coro gawe apik malah ngelek elek. Duh… Gusti nyumwun pngapunten ndalem mbok bilih ingkang kenthir-kenthir meniko dipun paringi kasarasan, menawi mboten saged saras kerso o panjenengan pundhut ke mawon tinimbang ngriwuh-ngriwuh i….

Tatkala itu kuingat Hoegeng Iman Santoso, sosok polisi yang layak dijadikan ikon walaupun belum banyak polisi yang tahu apalagi bangga padanya. Hoegeng memang bukan dewa, tetapi setidaknya yang dia lakukan setidaknya mempunyai spirit:

  1. Sadar, bangga dan bertanggungjawab sebagai polisi
  2. Tulus hati dan bukan safety player;
  3. Sederhana dan tidak materialistis;
  4. Memahami dan memaknai hidup sebagai bagian dari kehidupan orang lain jadi ada tenggang rasa;
  5. Mencintai lingkungan dan satwa-satwanya;
  6. Patuh dan taat aturan;
  7. Menyeimbangkan antara kerja polisi dengan seni dan berbudaya;
  8. Tegas namun humanis;
  9. Berani menolak suap yang diberikan dari para pelaku kejahatan;
  10. Memilih berhenti daripada menghianati hati nuraninya.

Menjadi polisi memang perlu kesadaran, tanggung jawab dan kebanggaan, tanpa spirit apa yang telah Hoegeng tunjukkan dan tanpa nyali yang kuat dapat dipastikan akan dilibas situasi. Hanyut dalam gelombang korupsi dan arus KKN, yang hilang sudah jati diri dan harga diri walau semua didalihkan karena sesuap nasi.

Pada saat Polri mengalami krisis yang kompleks, setidaknya spirit Hoegeng setidaknya menjadi suatu energi baru dan kesegaran dalam kekeringan dan kehausan akan ikon-ikon yang patut dibanggakan dan diunggulkan.

Seni bagi Polisi
“Sudahlah apa yang sudah ada ikuti saja, daripada kita disalahkan. Polisi itu tidak perlu nyeni. Seni itu bukan ranah kepolisian. Polisi ya polisi titik, tidak perlu ini dan itu, apalagi kok pakai yang seni-seni, tidak perlu itu.” Sering kita mendengar ungkapan semacam itu, sedihlah hati kita ini, apalagi terucap dari polisi yang berpangkat tinggi yang berpendidikan dan berpengalamanan di dalam maupun di luar negeri.

Polisi merupakan institusi yang dibangun dengan model semi militer. Disiplin, hirarki, penghormatan, loyalitas, kesetiakawanan, baris berbaris, pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan penampilan dan kekuatan fisik, penggunaan upaya paksa, penggunaan senjata api dan bahan peledak, spirit kepahlawanan menjadi pilar-pilar karakternya. Kepolisian sering juga kaku dan seram dengan petugas-perugas yang bertampang angker. Membuat orang yang dipanggil polisi akan sering menjadi ‘greng’ (ada rasa bagaimana… atau bahkan ada rasa ketakutan).

Anak-anak kecil yang rewel pun sering diancam atau ditakut-takuti orang tuanya: “awas ada polisi”. Polisi masih hidup saja sudah diasumsikan sebagai hantu, bagaimana kalau sudah mati bisa-bisa diasumsikan sebagi hantu belau. Dalam pandangan masyarakat pada umumnya, tugas polisi adalah tugas yang diwarnai oleh kekerasan sebagai bagian upaya menegakkan hukum.

Pengejaran, penangkapan, tembak menembak, seperti yang di film-film, telah menjadi brand tugas kepolisian. Pada kenyataannya, tugas-tugas kepolisian justru banyak dibutuhkan di bidang kemanusiaan. Polisi bekerja untuk meindungi harkat dan martabat manusia serta meningkatkan kualitas hidup mereka.

Dalam pekerjaannya, polisi memang harus berani menyatakan bahwa tugasnya adalah mewujudkan dan memelihara keamanan dan rasa aman masyarakat. Kalau dianalogikan, tugas polisi adalah juga menata atau menyusun keteraturan sosial. Dalam menata memang perlu ada seninya. Keteraturan sosial memang bukan produk doktrin atau atas perintah-perintah, bukan pula hasil hafalan. Yang juga bukan foto kopi. Dalam proses menata, seni menjadi bagian penting dari keteraturan sosial.

Pekerjaan polisi memang ambigu, di satu sisi melindungi, mengayomi dan melayani. Di sisi lain mengatur, melarang, menangkap. Pekerjaan polisi sering diidentikkan dengan menangkap maling. Orang yang kedatangan polisi berpakaian dinas biasanya akan berpikiran negatif: “saya salah apa?, polisi ini mau nangkap siapa?”. Terlebih lagi dari citra polisi yang negatif di mata masyarakat, apa pun yang dilakukan oleh polisi sering dianggap tidak betul atau mereka sudah meragukannya.

Seiring dengan perkembangan dan kemajuan zaman, polisi kadang masih seperti yang dulu, kuno, kumel, petugas yang serem, sikap petugas yang arogan tidak ramah. Inilah bagian dari indikator dari citra buruk polisi di mata masyarakat. Ironis memang, tatkala masyarakat yang dilayani sudah maju, modern tetap polisinya masih konvensional, apalagi dengan gaya-gaya feodal. Cepat atau lambat akan tidak dianggap bahkan akan ditinggalkan.

Tatkala petugas polisinya juga tidak cerdas maka masyarakat pun enggan bertanya, apalagi curhat dengan polisinya. Masyarakat bisa saja memandang sebelah mata, atau meremehkan atau bahkan malah menyalah-nyalahkan. Polisi sering disudutkan dan dipojokkan, yang kadang tanpa mampu memberikan penjelasan atau argumentasi. Mencari pembela pun sepertinya sulit sekali.

Salah satu program Kapolri adalah merevitalisasi. Pemahamannya dapat dikaitkan dengan pemberdayaan atau empowering. Memanfaatkan potensi-potensi yang ada, menjadikan tantangan menjadi kekuatan dan harapan. Memberdayakan yang ada memang perlu kemampuan, kreativitas dan keberanian bahkan kerelaan berkorban.

Revitalisasi bukan hal yang mudah, bukan pula hal yang langsung bisa diterima oleh internal kepolisian maupun oleh masyarakatnya. Seni akan menjadi bagian pendukung dari revitalisasi. Seni akan mampu mendukung kreativitas dalam memberdayakan potensi. Seni dalam pemolisian merupakan suatu bagian dari kemampuan polisi memberdayakan potensi-potensi yang serba terbatas dengan cita rasa yang tinggi dalam membangun dan memelihara keteraturan sosial.

Penyelenggaraan tugas polisi memerlukan adanya dialog dengan masyarakatnya. Bukan saja polisinya tetapi juga pada infrastruktur, program-programnya hingga perilaku para petugasnya. Dialog ini bukanlah semata-mata dalam arti harafiah saja, melainkan juga dalam arti filosofis bahwa dari bangunan, peralatan, program-program bahkan hingga uniform polisi merupakan bagian dari pencitraan dan komunikasi dengan masyarakat.

Gedung-gedung kepolisian yang bercita rasa seni tinggi akan menjadi tempat publik, bisa saja menjadi cagar budaya, tempat wisata, dan sebagainya. Seragam polisi bisa jadi menjadi simbol dari pariwisata, menjadi ikon kota, menjadi ikon masyarakat. Kegiatan serah terima penjagaan atau cara polisi mengatur lalu lintas bisa menjadi suatu dialog yang efektif dalam membangun brand.

Pekerjaan polisi merupakan seni dalam mewujudkan organisasi yang pembelajar, humanis, dan profesional. Dalam konteks ini, polisi dituntut untuk dapat melakukan penyadaran, bukan karena ketakutan atau paksaan. Tentu saja polisi tidak boleh bermain-main dengan hal-hal yang ilegal.

Seni dalam pemolisian dapat dipahami, pertama; sebagai bagian dari inovasi dan kreativitas. Fungsinya merupakan sarana kontak antara polisi dan masyarakat, bukan semata-semata hubungan formal, normatif, tetapi hubungan yang saling mendukung, saling terkait, dan saling mempengaruhi.

Kedua; seni dalam pemolisian sebagai bagian dari penataan dan perlindungan terhadap lingkungan dan sumber daya alam. Pelestarian lingkungan hidup merupakan bagian dari keteraturan sosial yang juga wajib dipahami oleh petugas polisi dengan harapan para petugas polisi tidak lagi terlibat dengan hal-hal yang bersifat ilegal.

Ketiga; sebagai penjaga kehidupan, tentu dalam berbagai pelayanannya, kepolisian dirasakan aman, nyaman, asri, dan humanis. Semua itu mencerminkan upaya untuk kemanusiaan dan memanusiakan sesama.

Keempat; sebagai pembangunan peradaban pemolisian dapat disandingkan dengan produk kebudayaan berupa karya seni baik, lisan, suara, gerak, tulisan, lukis, pahat, dan tata ruang.

Pemahaman dan pendidikan tentang seni dan kesenian bagi petugas polisi merupakan frame work dalam menggunakan otak, otot, dan hati nuraninya. Dengan demikian, tugas-tugas polisi akan menjd inspiratif, informatif, dan menghibur. Contoh; berbagai novel, cerita komik, cerita anak, film layar lebar, film keluarga, dan sebagainya banyak menggambarkan kehebatan dan keberhasilan tugas polisi sebagai penjaga kehidupan, pembangun peradaban, dan pejuang kemanusiaan.

Seni akan membantu polisi mengangkat citra, membangun kepercayaan, membangun jejaring, membangun kemitraan, dan menjadikan ikon kecepatan, kedekatan, dan persahabatan.

Tanpa seni penyelenggaraan tugas-tugas polisi bisa menjadi kaku, kering, layu tidak bergairah, nampak otoriter, angker, eksklusif. Yang dilakukan bagai orang yang sedang onani. Senang dan menikmati permainan dalam dunianya sendiri, sedangkan orang di luar sana muak dan jijik melihatnya. Seni bagi profesi kepolisian akan mengubah mind set and culture set.

Apa yang dilakukan polisi akan menunjukkan kekayaan tanpa kemewahan, mengalahkan tanpa merendahkan, mampu memberdayakan dari keterbatasan, mendapat dukungan dengan penuh kerelaan, membangun dialog dalam kemitraan, membangun kesadaran tanpa paksaan.

Pemimpin dan Kepemimpinan Polri
Polri sebagai institusi besar dengan kewenangan besar, tugas dan tangggungjawab yang besar pula, yaitu mewujudkan dan memelihara kamtibmas, memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat, membangun budaya taat hukum dan penegak hukum sekaligus. Yang ada berbagai kemungkinan atau peluang disalahgunakan atau diselewengkan yang bisa juga kontra produktif.

Pemimpin Polri adalah seseorang yang mempunyai tugas dan tanggung jawab atas suatu pekerjaan atas suatu kelompok atas suatu institusi, suatu masyarakat, suatu bangsa atau negara untuk memberikan perlindungan, pengayoman, pelayanan, mengorganisasikan, mengajak orang lain mau mengerjakan apa yang menjadi tujuan bersama.

Seorang pemimpin juga memberdayakan, mengajak maju, membangun, memberikan edukasi, bisa dijadikan panutan atau teladan, berupaya meminimalisir berbagai penyimpangan.

Pemimpin Polri juga mempunyai mimpi yang jauh ke depan dan mampu membawa anak buahnya atau masyarakat yang loyal padanya menjadi terhormat, cerdas, bermoral. Karena seorang pemimpin juga membangun peradaban, meningkatkan kualitas hidup, yang tidak hanya cerdas namun juga kreatif dan inovatif, serta inspiratif. Mampu mengatasi berbagai masalah, kesulitan dan berbagai keterbatasan yang ada, bahkan dalam keadaan darurat sekalipun.

Ia juga seorang yang bijaksana, mau mendengar, selalu berusaha memahami, keputusan yang diambilnya dirasakan betul manfaatnya secara signifikan bagi yang dipimpinnya secara khusus dan masyarakat atau stakeholder lainya secara umum.

Ia juga orang yang mempunyai kepribadian yang rela berkorban bagi yang dipimpinnya. Dengan segala keterbatasannya senantiasa berusaha untuk membawa kemajuan, tiada hari tanpa perbaikan dan berbuat kebaikan.

Ia seorang yang humanis, yang senantiasa berusaha mengangkat harkat dan martabat manusia. Mampu memanusiakan manusia lainya. Jiwa raganya diberikan bagi yang dipimpinnya sebagai landasan yang kokoh bagi yang dipimpinnya agar penggantinya atau generasi mendatang dapat lebih baik, lebih mantap, lebih mudah dan tentu juga lebih sejahtera.

Kepemimpinan adalah tindakan-tindakan seorang pemimpin dalam mengimplementasikan konseo-konsep tentang pemimpin. Dengan berbagai gaya atau style yang bervariasi dan beragam bahkan satu dengan yang lainya bertentangan.

Namun demikian prinsip-prinsip yang mendasar dan berlaku umum adalah sama, menggerakan, menyatukan, memajukan, menginspirasi, melayani, mengayomi, memberdayakan, memperbaiki dan memberi transformasi, mensejahterakan, meningkatkan kualitas baik pelayanan kepada publik maupun kualitas hidup masyarakat.

Sejalan dengan pemikiran tersebut, Polri bisa menginspirasi dari Hoegeng Iman Santoso. Ia sebagai model pemimpin Polri yang setidaknya apa yang telah dilakukannya telah menorehkan tinta emas dalam keteladanan sebagai polisi yang anti korupsi. Ini menjadi oase penyejuk, yang menjadi kebanggaan di saat maraknya tudingan korupsi dan berbagai penyimpangan kewenangan dan citra negatif bagi polri.

Keteladanan seorang pemimpin lebih penting dan lebih meresap dihati anak buahnya apabila dibandingkan seribu kata-kata dan perintah-perintah. Kejujuran, keberanian, disiplin, keterbukaan, visioner, kecerdasan, empowering, ketulusan hati menjadi kekuatan seorang pemimpin.

Mencintai pekerjaan adalah dasar menjadi profesional, dasar untuk menghasilkan produk kinerja dan pelayanan prima. Mencintai pekerjaan berarti dalam melaksanakan pekerjaannya akan dengan tulus hati. Ketulusan dasarnya pada hati. Menjadi polisi hati nurani inilah yang menjadi kendali. Penuh kesadaran dan rasa tanggung jawab. Hati nurani ini juga yang bisa membangun empati, membangun simpati, mendengar suara rakyat. Fox populi fox dei (suara rakyat suara Tuhan).

Mencintai dan bangga akan pekerjaan bisa dibangun sesuai kompetensi dan hobi, tentu juga nilai-nilai yang diyakininya sebagai polisi adalah kemanusiaan. Manfaat dan kegunaan bagi harkat dan martabat manusia. Tentu juga tidak ada lagi basah dan kering, tidak ada lagi sistem clique, tanaman keras, orang kepercayaan, anak emas dan sebagainya. Semuanya dibangun berdasar kinerja dan kompetensi.

Regenerasi dan transfer kemampuan terus dilakukan dan dikembangkan tidak lagi seperti membeli kucing dalam karung saat alih generasi. Standar kompetensi dan assesment centre menjadi bagian penting dalam menyiapkan profesionalisme SDM dan transfer kemampuan maupun untuk regenerasi.

Polisi dalam menyelenggarakan tugasnya memang ambivalen, di satu sisi dia harus melindungi dan melayani, namun di satu sisi dia harus menegakkan hukum dan bertindak tegas. Namun benang merah yang dapat diambil adalah, untuk kemanusiaan, melindungi harkat dan martabat manusia, membangun peradaban. Oleh sebab itu, nilai-nilai yang menjadi kebanggaannya adalah kemanusiaan, atau setidaknya pekerjaan polisi dapat memberikan pelayanan dan perlindungan bagi masyarakat. Hal itulah yang menjadi kecintaan dan kebanggaan setiap anggota polisi. Tentu saja bukan pada pangkat, jabatan, kekayaan.

Menjadi polisi memang bukan jalan menjadi orang kaya, ini yang juga harus disadari dan diyakininya sebelum menjadi polisi. Oleh sebab itu penanaman nilai-nilai inti kepolisian, penghargaan bagi petugas-petugas polisi baik secara konseptual maupun operasional yang mampu membawa kepada profesionalisme kepolisian diberi apresiasi atau ruang untuk mengembangkannya. Dan tidak lagi dimusuhi atau dilabel perusak institusi karena memangkas previlage ndoro-ndoro kampret yang tidak berkompetensi dan korup.

Mencintai dapat dimaknai dalam mengimplementasikan pekerjaan dengan ketulusan, dengan penuh semangat, inspiratif, tanpa pamrih, tidak hitung untung dan rugi. Bangga karena mempunyai spirit pendorong dari dalam yang menjadi energi bagi upaya-upaya mewujudkan nilai-nilai yang diyakini dan dicintainya. Untuk menumbuhkembangkanya tentu saja perlu kebijakan pimpinan sebagai frame work juga sejalan dengan nilai-nilai yang diyakini sehingga antara yang ideal dengan yang aktual sejalan dan tidak ada gap yang terlalu dalam.

Apa yang dilakukan oleh Hoegeng Iman Santoso sebagai polisi mampu ia tunjukkan, ia berani memberikan teladan dalam memberikan kebenarannya sebagai polisi. Bahkan ia berani dicopot dari jabatannya oleh Pak Harto, tatkala ia berbeda pendapat atau tidak mau berkompromi dengan pelanggaran-pelanggaran yang diyakininya sebagai tindak kejahatan.

Polisi memang kumpulan orang baik yang profesional, cerdas, bermoral dan patuh hukum sebagai aparat yang humanis, tegas dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat yang dilayaninya. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*