HOEGENG: KESADARAN DAN TANGGUNG JAWAB


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

POLISI sebagai kumpulan orang baik, pelindung pengayom, pelayan dan penegak hukum yang juga dapat dipahami sebagai penjaga kehidupan, pembangun kebudayaan, pejuang kemanusiaan sekaligus. Pemuliaan tugas polisi bukan seperti orang autis yang memuji dan asyik dengan diri sendiri dan tidak peduli pada orang lain dan lingkungannya. Tetapi memikirkan bagaimana produk-produk dan kinerjanya bermanfaat bagi sesama dan bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat, terbangunnya peradaban serta tumbuh dan berkembangnya solidaritas sosial yang tinggi.

Aneh memang apabila kita melihat kemewahan di sana-sini, dengar obrolan tentang harta kekayaan hasil yang tidak jelas, belum lagi bincang-bincang tentang jabatan-jabatan basah, menggosip sana-sini, mencibir dan mencari kesalahan orang. Fakta ini menjadi yang aktual dan yang dipamerkan atau yang tersosialisasikan dalam mindset masyarakat atau siapa saja yang melihatnya.

Tanpa sadar apa yang ditunjukkan, apa yang dilakukannya memcerminkan suatu perbuatan yang merusak nilai-nilai yang ideal. Seorang teman mengatakan, “Saya sadar di kita ini memang yang diperlukan dan yang disukai ndoro-ndoro kita itu masih uang, ya saya menyesuaikan. Kebetulan saya juga tidak ahli bidang-bidang lain Tetapi kalau cari uang saya tidak kalah lah. Maka ya itu saja yang saya kembangkan”.

Bisa dibayangkan label seperti itu begitu meresap dan diyakini kawan saya tadi sampai-sampai dia mengikrarkan diri jago urusan duit. Dia merelakan sebagai polisi yang tidak jago di profesinya. Sadar atau tidak ia telah diperbudak sistem yang korup yang sebenarnya telah mengkhianati Polri. Bagaimana dia kelak memimpin kalau sejak kecil sudah kecanduan uang.

Kembali kita menengok ke belakang sang inspirator “Hoegeng Iman Santoso”. Ia jauh dari hidup glamour, ia pangkat tertinggi di Polri (waktu itu). Sebagai Kapolri tentu penuh puja dan puji di sana-sini, ia menerapkan prinsipnya bukan saat menjadi Kapolri, tetapi sudah dirintisnya sejak ia muda. Sebagai anggota Polri, Hoegeng sadar dan bertanggung jawab dirinya menjadi duta, menjadi ikon, menjadi pembaharu dalam sikap dan moral yang selalu dia lakukan di mana-mana.

Menjadi polisi memang bukan atas keterpaksaan atau karena sesuatu apalagi demi materi, tetapi karena kesadaran dan kecintaan serta kebanggaan akan pada tugas dan tanggung jawab sebagai penjaga kehidupan, pembangun peradaban dan pejuang kemanusiaan hendaknya menjadi spirit bagi setiap anggota Polri. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *