HAPPY MAY DAY – Poskota.co

HAPPY MAY DAY

Chryshnanda DL

Oleh: Crisnanda DL

HARI buruh yang dirayakan setiap 1 Mei menjadi hari bahagia bagi kaum buruh. Buruh sebagai kelompok pekerja yang memiliki hak dan kewajiban yang berkaitan dengan produktivitas.

Massa dari kaum buruh menjadi soft power bagi pembangunan dan berbagai upaya peningkatan kualitas hidup.

Masalah antara kaum proletar dengan para kapitalis yang disharmoni menjadi pemicu konflik. Upah, dan hak-hak kesejahteraan buruh menjadi isu ‘seksi’ sebagai tema di Hari Buruh.

Berkumpulnya buruh dari segala penjuru menuju kantor legislatif maupun eksekutif menjadi trade mark May Day, sehingga ada kesan menakutkan, anarkis, macet, dan sebagainya.

Para buruh seringkali mengalami luka batin, dijadikan kuda tunggangan habis manis sepah dibuang.

Luka batin kaum buruh seringkali diungkapkan dalam aksi-aksinya di jalanan. Memblokir jalan, konvoi tanpa standard safety, membawa mobil dengan perlengkapan sound system dan pengeras suara yang dijadikan mobil komando.

Hari buruh, menjadi simbol hari perjuangan bagi kaum proletar untuk memperoleh hak dan perlakuan yang layak dari kaum pemodal.

Tuntutan gaji yang sesuai dengan UMR, jaminan kesehatan, penggunaan tenaga kerja out sourching, penggunaan pegawai kontrak, perlakuan-perlakuan yang manusiawi dari pengusaha dan sebagainya.

Buruh menjadi hard power dan soft power dalam civil society diwadahi dalam komunitas-komunitas/serikat/ forum-forum dan sebagainya.

Penguasaan massa menjadi tren dan sebagai power nilai tawar, tak jarang malah memaksakan kehendak. Hak-hak buruh secara manusia memang harus diperjuangkan dan dihargai, ditingkatkan kompetensinya.

Buruh merupakan golongan kelas yang cukup representatif bagi pengukuran tingkat kesejahteraan masyarakat suatu negara. Tatkala golongan ini hidup sejahtera/sesuai standar hidup layak inilah bisa menjadi cermin bagi kualitas hidup masyarakat.

Tak jarang para buruh ini dijadikan batu pijakan saja, alat dan soft/hard power bagi aktor-aktor intelektual mencapai tujuanya. Mereka akan menjadikan buruh objek/tungganganya/topeng kemanusiaanya.

Buruh ke jalan semua terganggu? Semestinya tidak tatkala ada saluran-saluran komunikasi dan ada kemampuan diplomasi.

Sayang memang ke jalan sekarang menjadi simbol kebanggaan, apalagi bisa anarkis dan membuat susah banyak orang. Di sinilah May Day semestinya menjadi ajang kemanusiaan.

Kelompok massa buruh terkadang mudah tersulut emosinya untuk melakukan tindakan anarki.

Para buruh memerlukan pemimpin yang bijaksana. Yang dapat menjembatani, menyatukan pandangan dan mampu membuat kesepakatan di antara mereka untuk melakukan aksi bersama.

Para pemimpin buruh menjadi tokoh sentral dalam gerakan atau aksi-aksi kaum buruh, yang kepadanyalah harapan hidup lebih baik disandarkan padanya.

May Day hari berbahagia bagi kaum buruh maupun warga lainnya. Tatkala May Day dirayakan dengan cara-cara elegan, bijaksana dan tanpa anarkisme, fun bahkan menjadi happy. Memberi kesempatan bagi kaum buruh bersuka cita dalam koridor tertib dan taat hukum.

Berbagai kegiatan May Day yang bisa membuat happy dapat dimulai dari lokasi-lokasi aksi yang menjadi lokasi car free day, diisi dengan berbagai acara hiburan, door prize, kegiatan kesenian, kegiatan kemanusiaan maupun yang lainnya. Bahkan para buruh pun dapat membawa pesan-pesan bagi kemanusiaan dan keteraturan sosial.

May Day

Sebagai ikon perjuangan dan kemanusiaan
May Day adalah ikon atau bahkan ritual para buruh dan siapa saja yang peduli kepada para buruh untuk membangun citra buruh yang berbudaya. Walaupun orasi-orasi, penyampaian-penyampaian pendapat tetap ada namun pengemasan hari buruh itu bukan lagi dengan teriakan-teriakan yang menakutkan atau dengan cara-cara gerombolan-gerombolan orang-orang tak beraturan melainkan dengan berbagai kegiatan kebudayaan maupun kesenian sehingga menampilkan May Day sebagai ikon perjuangan dan kemanusiaan yang inspiratif bahkan menjadi ikon pariwisata yang dinanti dan dinikmati sebagai suatu hari yang sakral dan penuh makna.

Tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh biasanya ditandai dengan demonstrasi dari berbagai kalangan buruh yang menyampaikan tuntutan, harapan. Tak jarang anarkisme terjadi, hari yang sakral tadi ditumpangi
kelompok-kelompok tertentu untk menciptakan kerusuhan, kekacauan bahkan tindakan-tindakan kontra produktif terjadi. Imej May Day sebagai hari yang menakutkan. Polisi berjaga-jaga dan bersiaga dengan berbagai kekuatan yang siap mengamankan dengan pola-pola yang reaktif.

May Day sebagai hari yang sakral dan penuh makna, maka semua kegiatanya bisa dikemas dengan berbagai atraksi-atraksi kebudayaan baik tari-tarian, drama, dialog, monolog, parodi, lawakan, baik yang diparadekan atau dengan perarakan dan sebagainya. Tentu saja simbol kecerdasan, dan peradaban menjadi bungkus yang bisa menjadikan perjuangan kemanusiaan bukan lagi dengan hal-hal anarkis melainkan menjadi suatu ritual atau kegiatan kebudayaan.

Cara melihat dan memperlakukan sesuatu memang sangat penting, dan sudah semestinya didudukkan pada posisi yang fair, netral dan dalam upaya-upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat.

May day sebagai ikon untuk solusi tanpa anarki. Mengubah imej May Day dari yang nyebel-nyebelin, urakan, potensi menjadi konflik anarkis, menjadi solutif, humanis dan tidak menimbulkan anarkisme.

Bagi petugas polisi apa yang bisa dilakukan sebagai polisi yang profesional, cerdas, bermoral dan modern antara lain:

  • Ada political will bahwa polisi dibangun sebagai penjaga kehidupan, pembangun peradaban, dan pejuang kemanusiaan.
  • Penerapan polmas (community policing) sebagai model pemolisiannya.
  • Melakukan kegiatan-kegiatan pemetaan wilayah dan masalah serta potensi untuk membangun karakter dalam masyarakat.
  • Melakukan dialog dan kemitraan dengan berbagai unsur buruh.
  • Membentuk forum-forum atau dewan-dewan sebagai bagian dari solidaritas sebagai soft power.
  • Menyiapkan pola-pola perayaan May Day dengan berbagai alternatif dan ide-ide kesenian yang didialogkan dan dijadikan agenda acara pada May Day.
  • Sepakat dengan para pemangku kepentingan untuk tidak melakukan anarkisme.
  • Kampanye-kampanye kemanusiaan dan pembangunan karakter bangsa ada di semua lini.
  • Manfaatkan May Day sebagai wadah mengekspresikan May Day sebagai polisi pembangun peradaban dan pejuang kemanusiaan
  • Siap dengan pola-pola tindak baik pra, saat dan pasca.

 

Solusi tanpa anarki
Kesadaran akan pengembangan dan peningkatan kualitas buruh sudah semestinya menjadi bagian dari perjuangan kemanusiaan. Berjuang tetap harus rasional dan pada koridor-koridor nilai, norma, etika, moral dan hukum serta hak-hak hidup manusia lainya.

Tatkala May Day mampu menjadi ajang solusi tanpa anarki, maka sebenarnya kualitas perjuangan dan kemanusiaannya akan mampu menginspirasi dan memberdayakan bagi yang lainya dalam suatu peradaban bangsa yang demokratis.

May Day sebagai hari sakral ikon perjuangan kemanusiaan seluruh dunia dapat menjadi hari yang membahagiakan, membanggakan, mampu menginspirasi serta mengekspresikan ide-ide dan gagasan-gagasan sebagai pembangunan karakter bangsa yang berbudaya. Semoga. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_11694" align="alignleft" width="406"] Komjen Budi Gunawan[/caption] POSKOTA.CO - Jimly Asshiddiqie salah sati tim 9 yang dimintai pendapat Jokowi setuju dengan usulan Mensesneg Pratikno mengimbau agar Komjen Budi Gunawan mundur sebagai Kapolri. "Itu sangat indah dan ideal," ungkapnya di gedung KPK, Jakarta Selatan, Selasa (3/2/2015). Menurutnya masalah konflik KPK Vs Polri memang berawal dari ditetapkannya Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka transaksi mencurigakan, padahal saat itu selangkah lagi mantan ajudan Megawati itu akan menjadi Kapolri. Kepada masyarakat dan khususnya jajaran Polri diminta untuk mensuport tegaknya hukum. "Ini untuk kepentingan bersama,Kita harus sama-sama menyelamatkan institusi KPK maupun Polri" tambahnya. Sebelumnya, Mensesneg Pratikno mengimbau agar Komjen Budi Gunawan mundur sebagai Kapolri. Menurut mantan Rektor UGM itu, akan sangat indah jika Budi mundur. Kalau tidak mundur berarti dilema antara politik dan hukum ini harus diselesaikan," kata Pratikno kepada wartawan di Istana Negara.