harmono 22/08/2017
Brigjen Pol Crisnanda Dwi Laksana

PADA saat sekolah di SD Kedungsari 2, tahun 1970-an cara hidup sehat mulai ditanamkan. Sekolah itu di tengah sawah jauh dari pemukiman dan di tepi Sungai Manggis. Sekolah ala SD Inpres yang halamannya becek, hampir seluruh siswanya nyeker alias tanpa alas kaki.

Suatu ketika di kelas ada pertanyaan dari guru wali kelas; “Siapa yang di rumah sudah melaksanakan empat sehat lima sempurna?”
Kesehatan yang sempuran pada poin kelima ini adalah minum susu. Dengan kondisi ekonomi orang tua murid, boleh dikatakan hampir-hampir tidak mungkin memberi anak-anaknya susu.

Saat itu saya dengan lantang menjawab; “Saya bu guru”.

Tiba-tiba seluruh mata memandang saya. Mana mungkin kata mereka. Saya tetap ngotot, saya tiga kali sehari minum susu.

Suatu hari teman saya yang bernama Ino (Suwito Suwarsono) main ke rumah, dan ingin melihat susu apa yang saya minum. Tatkala ia melihat ibu saya mengambil air susu dari masakan nasi, langsung berteriak; “Kui tajin (itu tajin)”.

Saya tidak peduli yang dikatakan Ino, dan saya tetap meyakini sebagai susu.

Cerita di atas ketika dikaitkan dengan reformasi birokrasi, kembali saya teringat bahwa yang terpenting dan mendasar adalah spiritnya, passion-nya bukan dari hal lain. Mereformasi birokrasi dimulai dari pemimpinnya, berani tidak untuk melakukan.

Kalau dalam analogi kisah susu yang sebenarnya tajin, keyakinan untuk mau dan mampu mereformasi merupakan modal dasar. Kemauan ini menjadi bagian dari kebijakan yang akan diambilnya. Walaupun di luar maind stream. Tajin diyakini sebagi susu. Di dalam mereformasi birokrasi ini yang dapat dilihat adalah dari:

1. Kepemimpinan,
2. Kebijakan-kebijakan yang diambilnya,
3. Bidang adminstrasi,
4. Bidang operasionalnya,
5. Inovasi-inovasi dan kreativitasnya sebagai penguatan yang dengan gigih terus dilakukan.

Kisah minum tajin tersebut menggambarkan bahwa untuk menjadi sempurna tidak harus dengan susu, dari tajin pun bisa. Dalam konteks reformasi birokrasi yang paling mendasar adalah perubahan mind set.

Mengubah ‘mind set’
Perubahan mind set memerlukan kemauan, kemampuan dan keberanian. Perubahan mudah dikatakan, implementasinya dapat dipastikan tidak mudah. Kaum mapan dan nyaman akan mempertahankan mati-matian. Mereka ketakutan kehilangan previledge-nya. Mereka bisa melawan bahkan berupaya mempertahankan status quonya dengan segala cara.

Melawan langsung bisa saja mengalami kegagalan. Seolah tidak mungkin dengan kondisi yang serba terbatas untuk mampu melakukan perubahan diperlukan orang-orang yang bisa menjadi agen perubahan. Mungkin ibaratnya mereka sekelas tajin bukan susu, namun keberadaannya akan mampu menjadi pioner-pioner yang saling menguatkan untuk memberdayakan potensi yang ada.

Kalau saja menunggu adanya kesempurnaan tentu tidak akan pernah terjadi. Kapan sehat tatkala menunggu susunya ada. Tidak ada susu, tajin pun jadi. Kalau tidak dari sekarang, kapan lagi. Kalau bukan dari kita, siapa lagi. (*)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :