DIMANA KITA BERADA CIPTAKAN KAMPUNG SPIRITUAL – bag.tujuh – Poskota.co

DIMANA KITA BERADA CIPTAKAN KAMPUNG SPIRITUAL – bag.tujuh

20CINGHAIPOSKOTA.CO – Sangat murah, pada mulanya. Tanah yang saya beli untuk orang-orang di Miaoli, beberapa dari kalian tahu, sangat murah karena tak ada orang yang pergi ke sana. Orang Taiwan bilang, “Burung bahkan tidak bersarang di sana!” (Gelak tawa) Itu tempat yang sangat tandus, itulah maksud mereka.

Bahkan burung tidak datang dan bersarang di sana; itu artinya tempat itu sangat buruk. Tak dapat bertahan hidup karena tak ada air, sangat kering. Tak ada apa-apa di sekitar sana, dan tanahnya juga tidak begitu subur, semacam tanah yang sangat lengket, yang digunakan orang untuk membuat batu bata.

Itu adalah tanah liat yang khusus, sangat lengket. Kalian tidak bisa menanam banyak tanaman di sana. Kalian harus bekerja sangat keras untuk membuat tanahnya menjadi gembur, kemudian kalian bisa menanam sesuatu; tapi tidak banyak. Jadi, tidak terlalu banyak orang tinggal di sekitar sana dan tak banyak orang membeli tanah di sana.

Kemudian kami datang dan membeli sejumlah lahan dari pemilik tangan kedua; kami tidak tahu banyak tentang itu. Dia mengatakan bahwa dia dapat menjualnya kepada kami, menjual hak-haknya kepada kami dan kemudian kami dapat mengolahnya dan menanam sesuatu di sana.

Tapi, belakangan ini, beberapa tahun belakangan ini, saya kira kumpulan lain, kelompok lain ingin mengambilnya kembali. Saya tidak tahu pasti apa yang ingin mereka lakukan dengannya.

Tapi, oke saja. Dunia ini adalah fana. Kehilangan apa pun, oke saja. Kita tidak membawa apa-apa ke dalam dunia ini, jadi kehilangan apa pun, oke saja. Kita tidak terlalu memusingkannya.

Jadi, pada mulanya itu sangat murah; dan saya membeli hanya sebidang kecil tanah. Sekitar berapa? Dua ribu dolar AS untuk empat atau lima hektar. Murah, kan? Atau tidak? Kalian pergi dan beli, sekarang harganya dua ratus ribu. Bahkan tidak bisa beli.

Beda. Itu dulu sangat murah. Kemudian kami tinggal di sana. Pada waktu itu, sudah ada banyak sekali biarawan dan biarawati di sekitar saya, saya perlu tempat itu bagi mereka.

Saya tak bisa hanya berkeliaran di sekitar sungai sepanjang waktu. Juga selama waktu itu, kami punya banyak orang lain, yang disebut pengikut awam, datang kepada kami. Jadi, kami membeli tempat itu. Itu juga sesuai karena tempat itu murah. Kami membelinya, mereka datang, lalu kami pengembangkannya. Kami membeli lebih banyak lagi dengan berjalannya waktu, dan itu menjadi Center Miaoli.

Bagaimanapun juga, bersama-sama di satu tempat tidak selalu sangat
nyaman. Itu sangat baik, tapi kami harus banyak berjuang. Sangat mudah
bagi orang-orang untuk datang ke sana dan menyalahkan kami atas segala
sesuatu yang terjadi pada anak-anak mereka.

Mereka akan bilang. “Oh, dengar, putriku mengikuti Anda…” Meski dia tidak mengikuti saya, dia pergi bersama pacarnya ke suatu tempat. Saya tak pernah tahu dan kemudian mereka datang dan menyalahkan kami. Saya bilang, “Pergi cari putrimu ke mana saja. Saya tak pernah lihat dia.” (Guru tertawa.)

Kadang itu terlalu mudah. Karena kami tinggal di sana di satu tempat sepanjang waktu, siapa pun dapat datang dan mengatakan apa pun kepada kami. Itu juga merupakan suatu kerugian bagaimanapun juga. Tidak selalu baik, tapi
itu baik bagi murid-murid. Itu baik bagi komunitas internasional jika
mereka ingin datang untuk menemui saya atau ketika kami mengadakan
retret.

Jika mereka sentimental, mereka akan berpikir, “Oh, Guru pernah tinggal di sana. Itu adalah tempat Guru, tempat suci. Pergi dan ambillah beberapa batu. (Guru tertawa.) Pulang ke rumah dan menaruhnya ke dalam teh untuk dimasak. (Guru tertawa) Bodoh! (Gelak tawa) – (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_2898" align="alignnone" width="300"] Anang Iskandar[/caption] POSKOTA.CO- Kepala Badan Narkotika Nasional(BNN) Komjen Anang Iskandar mendesak kepada Jaksa Agung Prasetyo untuk segera mengeksekusi terpida mati kasus narkoba. Salah satunya adalah terpidana mati yang kembali mengendalikan bisnis narkoba Warga Negara Nigeria, Silvester Obiek. "Iya, ingin (Silvester) segera dieksekusi mati? Saya laporkan tadi ke Pak Jaksa Agung," kata Anang kepada wartawan di Kejagung, Senin(2/2). Anang berharap, eksekusi mati yang dijalankan pihak kejaksaan, diharapkan tidak terlalu lama waktunya dari eksekusi mati pertama. "Kami ingin efek jera bagi mereka, eksekusi hukuman mati perlu tapi jangan sekali dan jedanya jangan terlalu panjang. Semoga gelombang kedua nggak tahun depan. Kami ingin penegak hukum punya integritas yang tinggi," ujar mantan Kapolda Jambi ini. Sementara itu, Jaksa Agung M Prasetyo mengaku, pihaknya masih menunggu grasi yang diajukan Silvester Obiek ke Presiden Joko Widodo(Jokowi). "Yang bersangkutan (Silvester) ajukan grasi, nanti kita cek lagi,‎" kata Prasetyo. Sebelumnya, petugas BNN mencokok seorang kurir shabu bernama Dewi disebuah parkiran hotel Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada pukul 22.30 WIB.Dari tangan Dewi petugas menyita barang bukti 1.794 gram shabu. Kepada penyidik, Dewi mengaku, dirinya disuruh Andi teman satu sel Silvester Obiek, untuk mengirimkan shabu tersebut kepada seseorang berinsial E yang masih buron. Belakangan diketahui, bisnis narkoba tersebut dikendalikan oleh Silvester Obiek yang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan(LP) Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, dan sudah beberapa kali tersangkut kasus narkoba dan divonis hukuman mati.(sapuji)