DIMANA KITA BERADA CIPTAKAN KAMPUNG SPIRITUAL – bag.sebelas – Poskota.co
Saturday, September 23

DIMANA KITA BERADA CIPTAKAN KAMPUNG SPIRITUAL – bag.sebelas

ch2POSKOTA.CO – Setiap ceramah berpangkal pada topik yang sama. Itulah satu-satunya hal yang harus kalian lakukan: mengingat diri kalian, mengingat bahwa kalian memiliki kekuatan hebat, mengingat bahwa kalian dapat menciptakan apa pun yang kalian inginkan, dengan kekuatan iman kalian, dengan kekuatan kesadaran-diri kalian.

Tapi kadang, karena kita begitu terbiasa dengan keadaan kita yang memiliki lebih sedikit, kita tak berani percaya bahwa kita dapat memiliki ini, itu, dan lainnya. Itu oke saja, itu oke saja. Kita juga tidak perlu memiliki begitu banyak. Kita juga tidak perlu menjadi jutawan, menjadi kaya atau apa pun yang seperti itu, tapi itu mungkin.

SPIRITUAL

Bahkan mungkin dengan pengetahuan spiritual, untuk menjadi apa pun yang
kalian inginkan, untuk memiliki apa pun yang kalian inginkan, asalkan
kalian cukup menginginkannya dan tahu bahwa kalian akan mendapatkannya.

Umumnya kalian bilang, “Oke, saya kira saya toh takkan mendapatkannya,
tapi saya akan minta kepada-Nya.” Itulah yang mencegah kita dari
mendapatkan apa yang kita inginkan, karena kita sudah berharap bahwa
Tuhan takkan memberikan kepada kita.

Itu juga oke. Jika kalian punya cukup makanan, okelah. Jika kalian punya cukup pakaian, okelah. Tak perlu menginginkan terlalu banyak. Tapi, itu mungkin. Saya hanya ingin memberitahu kalian.

Banyak sekali orang telah membuktikannya kepada kalian. Dengan kekuatan
pikiran semata, mereka dapat memindahkan benda-benda, mereka dapat
berjalan di atas api, mereka dapat berjalan di atas air, mereka dapat
menusukkan pisau melalui kepala mereka dari telinga ke telinga dan tak
terjadi apa-apa, bahkan tak setetes pun darah keluar.

NEGERI PELUANG

Bahkan dengan kekuatan pikiran semata, kekuatan astral, kalian dapat melakukan itu. Mereka mengatakan bahwa Amerika adalah negeri peluang, mungkin itu benar.

Orang Amerika memiliki kemauan kuat, mereka percaya bahwa mereka
dapat melakukannya, mereka selalu menuntut, lebih baik dan lebih baik.
Mereka tidak merasa ragu atau merasa malu untuk minta kepada siapa pun
atau bahkan kepada Tuhan untuk memenuhi mimpi-mimpi mereka.

Begitulah kita mestinya melakukannya. Jadi, jangan coba minggat dari rumah,
berlindung ke tempat lain, atau bahkan berlindung kepada guru, guru
adalah diri kalian. Kalian memiliki Guru di dalam, apa bedanya di antara
kita. Mungkin IQ kalian bahkan lebih tinggi daripada saya, siapa tahu?
(bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_2327" align="alignleft" width="300"] Ilustrasi[/caption] POSKOTA.CO - Komisi Pemberantasan Korupsi menerima sembilan laporan penerimaan gratifikasi berupa pemutar musik elektronik Ipod Shuffle yang diterima saat resepsi pernikahan anak Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi. "Sudah ada sembilan orang yang melaporkan Ipod kepada KPK," kata Juru Bicara KPK Johan Budi, Jumat (21/3). Sembilan orang yang melaporkan penerimaan itu adalah Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta Ratiyono, satu orang hakim Pengadilan Tinggi, Ketua Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Made Rawa Aryawan, dua orang hakim Mahkamah Agung, satu orang pejabat Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, satu pejabat Komisi Yudisial dan dua orang pejabat dari Ombudsman. "Laporan ini akan kita analisa dan klarifikasi," kata Direktur Gratifikasi KPK Giri Suprapdiono. Sebelumnya, Ketua Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI) cabang Mahkamah Agung Gayus Lumbuun saat datang ke KPK bersama empat hakim agung lain pada Kamis (19/3) mengatakan bahwa para hakim akan melaporkan pemberian tersebut ke KPK. "Kami akan mempersiapkan surat laporan dari IKAHI cabang MA karena penerima iPod sebagian besar adalah hakim-hakim di MA, hakim agung dan hakim-hakim yang ditugaskan di lingkungan MA," kata Gayus, Kamis (19/3). Gayus juga menyerahkan contoh iPod yang akan dinilai KPK. "Menurut hitungan kami, data yang kami miliki (harganya) di bawah Rp500 ribu, jadi kami berpandangan ini bukan gratifikasi yang dilarang, tapi kami menyerahkan pada KPK untuk menilai, oleh karena itu yang kami urus adalah hakim-hakim yang menerima," ujar Gayus.