DIMANA KITA BERADA CIPTAKAN KAMPUNG SPIRITUAL – bag- keempat – Poskota.co
Saturday, September 23

DIMANA KITA BERADA CIPTAKAN KAMPUNG SPIRITUAL – bag- keempat

20CINGHAIPOSKOTA.CO – Kalian lihat, seperti di India lebih mudah karena cuaca di sana hangat dan kebutuhan orang sangat, sangat sedikit. Mereka hidup sangat dekat dengan alam. Mereka tidak membanding-bandingkan. Mereka tidak memiliki tetangga untuk dipandang, misalnya orang kaya atau hal seperti itu.

Kebanyakan sama. Bahkan orang kaya di India tidak terlihat sangat glamor
seperti di Amerika atau tempat lain. Ketika saya dulu berada di India, saya kenal beberapa dokter, tapi rumah mereka hanya ada barang-barang yang diperlukan saja. Klinik mereka, kalian masuk dan kalian mungkin melihat satu atau dua bangku kayu.

Dan di malam hari, mereka menaruh lembaran kayu, besar dan tebal seperti ini, di atasnya. Kemudian mereka tidur di atas itu. Itu menjadi tempat tidur. Klinik-klinik di sana seperti itu, dan hanya ada satu lemari.

Di dalamnya terdapat beberapa aspirin atau sesuatu yang saya bahkan dapat menanganinya sendiri, klinik swalayan. (Guru dan semua tertawa) Mereka juga tidak menghasilkan banyak uang karena kebanyakan pasien mereka sangat miskin.

Beberapa dokter lain yang saya kenal, satu keluarga, sang istri adalah seorang dokter dan sang suami adalah pengacara, tapi rumah mereka juga nyaris tidak ada apa-apa dibandingkan dengan rumah kalian.

Jadi, orang kaya di India tidak membuat orang miskin lainnya merasa sangat iri. Hidup mereka sedikit simpel, puas dengan apa pun yang mereka miliki.

Jadi, jika mereka memiliki kampung spiritual bersama, mereka juga hanya memiliki barang-barang yang diperlukan saja, gaya hidup yang sangat simpel. Iklimnya juga panas, mereka tidak memerlukan apa pun.

Mereka hanya memerlukan beberapa chapati untuk dimakan, dan kemudian mereka
bermeditasi. Mereka minum air dari sungai atau menggali sumur bersama,
dan mereka menanam padi.

Beberapa komunitas spiritual di India menanam makanan mereka sendiri karena mereka percaya makanan di luar sangat tercemar. Mereka lebih suka menanam gandum, beras, buah-buahan mereka sendiri. Itu mengasyikkan.

Kedengarannya sangat romantis. Tapi, saya tak tahu apakah kalian, perumah-tangga yang terbiasa dengan kemewahan seperti dalam standar Amerika, akan dapat bertahan di sana sangat lama.

Sebagian dari kalian bisa, tapi tidak semua. Selain itu, keluarga kalian
akan menentang, teman-teman kalian akan membuat masalah, dan pemerintah
akan membuat masalah bagi sang guru, dsb. Reaksi berantai.

Gagasan tentang kampung spiritual, saya pikir kita sebaiknya melupakannya untuk sementara waktu. Jika itu terlaksana, itu terlaksana. (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - Permohonan Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan akademisi ke Mahkamah Konstitusi (MK) sejalan dengan isi Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Bahkan, dalam RUU tersebut hukuman perzinaan akan diperberat dari sembilan bulan penjara menjadi terancam lima tahun penjara. Pemerintah menanggapi permohonan akademisi terkait permintaan kriminalisasi lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan kumpul kebo, di mana materi itu juga masih dibahas di dalam DPR. Sebagai contoh, dalam Pasal 484 Ayat (1) Huruf e RUU KUHP berbunyi, "Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan dipidana lima tahun penjara". Pandangan pemerintah dalam hal ini disampaikan oleh Direktur Litigasi Peraturan Perundang-undangan Kemenkumham Yunan Hilmy dalam sidang lanjutan uji materi KUHP di ruang sidang MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (19/7). Yunan menyebut, pembahasan RUU ini terkesan lambat karena ada beberapa kendala. "Lamanya penyusunan RUU KUHP dipengaruhi banyaknya dinamika di antaranya masalah budaya, agama serta hal-hal lain yang dalam implementasinya harus dapat diukur secara jelas," kata Yunan. Sebab, dalam merumuskan ketentuan pidana berbeda dengan merumus ketentuan lain. Yunan mengatakan, untuk mengukur suatu norma pidana harus dapat dibuktikan secara hukum sehingga untuk dapat memutus suatu norma pidana memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, pemerintah mengatakan para pemohon dapat memberikan masukan hal ini kepada pemerintah atau DPR. "Dalam rangka turut serta mengatasi problematika pembahasan RUU KUHP, para pemohon dapat memberikan sumbangan pemikirannya terhadap materi RUU KUHP terutama masalah perzinaan, pemerkosaan dan homoseksual. Materi RUU KUHP itu masih dibahas di DPR, dan akhir Agustus mendatang akan kembali dirapatkan usai masa reses DPR. Hukum Penjara Sebelumnya, Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta homoseks dan pelaku kumpul kebo dihukum penjara. Mereka meminta Mahkamah Konstitusi menafsir ulang Pasal 292. Selain Euis, ikut pula menggugat para akademisi lainnya yaitu Rita Hendrawaty Soebagio SpPsi, MSi, Dr Dinar Dewi Kania, Dr Sitaresmi Sulistyawati Soekanto, Nurul Hidayati Kusumahastuti Ubaya SS, MA, Dr Sabriaty Aziz. Ada juga Fithra Faisal Hastiadi SE, MA, MSc, PhD, Dr Tiar Anwar Bachtiar SS, MHum, Sri Vira Chandra D SS, MA, Qurrata Ayuni SH, Akmal ST, MPdI dan Dhona El Furqon SHI, MH. (*)