DIMANA KITA BERADA CIPTAKAN KAMPUNG SPIRITUAL – bag-enam – Poskota.co
Saturday, September 23

DIMANA KITA BERADA CIPTAKAN KAMPUNG SPIRITUAL – bag-enam

20CINGHAIPOSKOTA.CO – Menjadi biarawan dan biarawati adalah hal yang umum, jadi mereka bergabung dan mencukur kepala mereka, itu saja. (Guru tertawa.) Mereka menempel ke saya, jadi apa yang harus saya lakukan? Pada waktu itu, saya masih baru, saya pikir semua orang sama seperti saya.

Oke saja jika mereka ingin menjadi biarawati, oke saja dengan saya, tak masalah, kenapa tidak? Tapi belakangan, itu menjadi sedikit lebih ruwet. Beberapa dari mereka datang tanpa izin orangtua atau seperti itu, dan kemudian kami mendapat masalah.

Jadi, setelah beberapa waktu, kami bilang, “Hanya jika ada izin dari orangtua maka kalian bisa datang. Seiring dengan perkembangan kondisi, jika kalian menghadapi lebih banyak masalah, maka kalian harus mencari solusinya; jika tidak, kami tidak peduli. Saya tidak peduli.

Kemudian kami menyewa sebuah rumah. Pada waktu itu, kami punya banyak
sekali orang sehingga tak bisa tinggal dalam satu kamar di rumah seorang
murid lagi, maka kami menyewa sebuah ruangan kecil.

Kemudian kami membuat kerajinan tangan atau sesuatu bersama-sama untuk membayar uang sewa dan menunjang hidup kami. Itulah saat-saat awal. Kemudian mereka menjual rumah itu, jadi kami menjadi tunawisma. (Guru tertawa.)

Kami meninggalkan rumah lagi! Kami pergi berkeliling, kami berkemah di dekat
sungai, lalu kami membeli beberapa tenda. Pada waktu itu, kami bahkan
tidak memperoleh begitu banyak uang, kami tidak memikirkan uang.

Hanya saja seiring perkembangan kondisi, karena semakin banyak orang datang
maka saya harus menghasilkan lebih banyak uang untuk membayar sewa dan
hal-hal seperti itu. Saya tidak menerima sumbangan untuk keperluan
pribadi, bahkan sudah sejak dari awal.

Jadi, semakin banyak orang, maka kami harus mengatur dan bekerja lebih
banyak. Kemudian kami membeli tenda-tenda. Pada waktu itu, satu tenda
untuk empat orang. Sekarang kami lebih kaya, satu tenda satu orang;
bahkan satu orang dua tenda! (Guru dan hadirin tertawa.) Itu belakangan,
pada tahun-tahun selanjutnya, ketika kami sudah lebih berkembang.

Semakin banyak orang bergabung dengan saya, maka kami harus membeli lebih banyak tenda. Pada mulanya, kami tidak punya banyak uang, dan kami tidak menerima sumbangan, bahkan tenda, jadi kami membeli satu tenda untuk empat orang; ada orang yang jangkung, ada yang pendek.

Ketika dia tidur, jari kakinya terjulur ke luar dan nyamuk-nyamuk mengunjunginya setiap waktu (Guru dan hadirin tertawa), jari kaki yang sama.

Belakangan, saya bilang, “Oke, tak apa. Jika kita punya lebih banyak
uang, kita akan membeli beberapa tenda lagi.” Jadi, orang-orang yang
jangkung dapat tidur sejajar dari sudut ke sudut. Untuk keperluan tidur,
orang-orang yang jangkung berkumpul bersama.(bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_3182" align="alignnone" width="300"] ilustrasi[/caption] POSKOTA.CO- Hukuman mati yang disandang Silvester Obiekwe alias Mustofa,50, Warga Negara Nigeria tidak membuatnya sadar. Justru Silvester Obiekwe alias Mustofa kembali menjalankan bisnis haramnya. Ulah si hitam itu akhirnya dibongkar aparat Badan Narkotika Nasional (BNN), dari dalam Lembaga Pemasyarakatan(Lapas) Pasir Putih, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Aksi Obiekwe dibantu oleh teman satu selnya bernama Andi,32.” Dia mengendalikan bisnis narkobanya dari balik jeruji besi. Meski sudah divonis mati tidak membuatnya jera,” kata Kepala BNN Komjen Anang Iskandar, Jumat(30/1). Anang menjelaskan, kasus tersebut terungkap setelah petugas BNN menerima inpormasi intelijen, yang menyebutkan bisnis narkoba asal Goangzu, Tiongkok dikendalikan oleh Silvester Obiekwe alias Mustofa, yang mendekam di Lapas Nusakambangan. Berkat informasi itu, kata Anang, petugas melakukan penyelidikan dan menangkap tersangka Dewi disebuah parkiran hotel Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada pukul 22.30 WIB. Dari tangan Dewi petugas menyita barang bukti berupa 1.794 gran shabu. "Kami lakukan pengembangan ke kontrakan di kawasan Kemayoran dan kembali menemukan barang bukti sabu 5.828 gram. Disembunyikan di dalam kardus. Sabu tersebut dikemas dalam 56 pastik berukuran sedang. Jadi total sabunya 7.622 gram," ungkap mantan Deputy Pencegahaan BNN ini. (sapuji)