DIMANA KITA BERADA CIPTAKAN KAMPUNG SPIRITUAL – bag- delapan – Poskota.co

DIMANA KITA BERADA CIPTAKAN KAMPUNG SPIRITUAL – bag- delapan

20CINGHAIPOSKOTA.CO – Jadi, ketika kita memiliki Miaoli, semua orang gembira, ingat? Saat kalian pergi ke sana, kalian merasa nyaman. Itu juga benar karena atmosfer rohani yang terhimpun seiring dengan berjalannya waktu dan kalian menyukainya.

Saat kalian pergi ke sana, kalian merasa seperti berada di rumah. Tapi, saya pikir meski kita tidak memiliki Miaoli atau kita tidak memiliki tempat lain manapun, itu tidak masalah.

Surga ada di dalam diri kalian. Mungkin Tuhan menginginkan seperti itu. (Tepuk tangan) Ada orang yang berpikir bahwa jika saya kehilangan Miaoli atau jika saya tidak dapat pergi ke Miaoli, saya akan merasa sangat buruk.

Saya memang merasa buruk, selama beberapa menit. (Gelak tawa) Saya  bilang, “Wah, tempat indah itu kami bangun dengan tangan kami, mengapa mereka menghancurkannya?”

Saya merasa sedih karena itu adalah tempat yang paling indah di Taiwan,
dan kami membuatnya sangat indah. Kalian belum melihat gunung-gunung di
belakang.

Sebagian orang asing tidak pergi ke belakang gunung karena kami memanjakan kalian, kami mengizinkan kalian memasang tenda di taman depan di mana itu lebih mudah bagi kalian.

Gunung belakang berjarak dua kilometer, kalian harus berjalan bolak-balik dan kami khawatir kalian merasa lelah setelah perjalanan panjang. Jadi, banyak dari kalian belum melihat gua-gua yang kami buat dengan tangan kami sendiri. Indah!

Kami menggali gunung itu, karena kami ingin melindungi lanskapnya. Gunung-gunung itu sangat sulit. Gunung belakang memiliki dua bentuk, yang satu sedikit datar dan sedikit miring seperti ini, dan yang satu lagi sangat miring seperti ini.

Tapi, ketika kami menggali gua ke dalam gunung, dan kalian melihat ke bawah sana, itu sangat indah. Kami juga ingin melindungi lanskap dan lingkungannya, jadi kami tidak merusak bentuk gunung itu, kami mempertahankannya.

Jadi, kami hanya menggali ke dalam gunung itu dan kemudian membangunnya di dalam. Sangat indah, sangat indah! Jika kalian ada kesempatan, pergi dan lihatlah.

Saya dapat menjadi pemandu wisata dan menghasilkan uang. Itu mungkin pekerjaan terbaik bagi saya. (Guru dan hadirin tertawa.) Kemudian saya akan membayar pajak kepada pemerintah. -bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - Sebanyak delapan Pegawai Negeri Sipil (PNS) menggugat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara terkait aturan mengundurkan diri saat mencalonkan diri sebagai pejabat publik di Mahkamah konstitusi. Kedelapan PNS tersebut: o. Dr Rahman Hadi MSi, o. Dr Genius Umar S Sos MSi, o. Empi Muslion AP SSos MT MSc, o. Rahmat Hollyson Maiza MAP, o. Dr Muhadam Labolo, o. Dr Muhammad Mulyadi AP MSi, o. Sanherif S. o. Hutagaol S.Sos MSi, o. Dr Sri Sundari SH MM, Menurutnya Pasal 119 dan Pasal 123 ayat (3) UU Aparatur Sipil Negara merupakan bentuk perlakuan diskriminatif sekaligus mengamputasi hak konstitusional PNS selaku warga negara. "Memang kami akui bahwa tujuan undang-undang tersebut sangat mulia menjadikan PNS sebagai sosok berintegritas, profesional, bebas KKN, namun yang kami sayangkan adalah adanya ketentuan norma yang diskriminatif menjegal eksistensi PNS untuk berbuat lebih jauh lagi untuk bangsa dan negara ini," salah satu pemohon, Rahman Hadi, saat membacakan permohonannya dalam sidang di MK Jakarta, Senin. Menurut Rahman, UU Aparatur Sipil Negara bertentangan dengan Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 28 D ayat (3) UUD 1945. Pasal 27 menyebutkan bahwa segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Sementara pasal 28D ayat (3) berbunyi setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan. Rahman juga menyoroti ketidakkonsistenan penerapan pasal 119 dan Pasal 123 ayat (3) terhadap Pasal 121 yang menyatakan pegawai Aparatur Sipil Negara dapat menjadi pejabat negara. Sedangkan Pasal 122 menyatakan pejabat negara sebagaimana dimaksud Pasal 121 jika dikaitkan dengan Pasal 123 ayat (1) berbunyi jika pegawai Aparatur Sipil Negara yang diangkat menjadi pejabat negara pada pimpinan dan anggota MK, BPK, KY, KPK, menteri dan dubes, maka pegawai ASN diberhentikan sementara dari jabatannya dan tidak kehilangan status sebagai PNS.