Djoko Waluyo 05/03/2016

02 nurPOSKOTA.CO – “Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib”. Mata air itu bisa mengeluarkan serbuk emas..

Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya, seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran serbuk emas itu baru akan berhenti, bila si petani mengucapkan kata “cukup”.

Seketika si petani terperangah melihat serbuk emas berjatuhan di depan matanya. Diambilnya beberapa ember untuk menampungnya.

Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubuk mungilnya untuk disimpan di sana.

Kucuran emas terus mengalir, sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya.

Masih kurang ……,
Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya.

Belum cukup ……,
Dia membiarkan mata air itu terus mengalir, hingga akhirnya ……,
Petani itu mati tertimbun.

Ya, dia mati tertimbun bersama ketamakannya, karena ….. dia tak pernah bisa berkata “CUKUP”.

Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia, adalah “cukup”.

Kapankah kita bisa berkata cukup ?
Hampir semua pegawai, merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya.

Pengusaha, selalu merasa pendapatan perusahaannya masih di bawah target.

Istri mengeluh suaminya kurang perhatian.

Suami berpendapat istrinya kurang pengertian.

Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati.

Semua merasa kurang ……, kurang ……, dan kurang …….

Kapankah kita bisa berkata “cukup” ?

Cukup, BUKAN soal berapa JUMLAHNYA.

Cukup, adalah persoalan KEPUASAN HATI.

CUKUP, HANYA BISA DIUCAPKAN OLEH ORANG YANG BISA BERSYUKUR.

Tak perlu takut berkata cukup !
Mengucapkan kata cukup, “bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya.”

Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yg berbahagia….

Semoga bermanfaat. Tetap semangat..!!

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :