CERITA MENINGGALNYA PANDAWA – Poskota.co
Thursday, September 21

CERITA MENINGGALNYA PANDAWA

POSKOTA.CO – Pada ceritera pandawa sedo (meninggalnya pandawa) ditunjukan refleksi keutamaan Yudistira sebagai anak tertua, pemimpin + sebagai raja hastina pura yg bijaksana mendaptkan kemulyaanya, jiwa raganya boleh masuk kesurga.

Walaupun mengalami banyak kesulitan + cobaan fisik maupun psikis. Pada pendakian gunung jamur dipa satu persatu keluarga pandawa jatuh ke dalam jurang karena karmanya.

ilustrasi
ilustrasi

Dalam cerita ini ditunjukan bahwa Yudistira manusia yg utama, ia tahu memposisikan dirinya sebagai apa saja dan ia tahu + mampu menjalankan kebijaksanaan-2 dalam kebijakan-2nya.

Pemimpin dipercaya memiliki keutamaan tatkala apa yg menjadi kebijakanya membawa dampak bagi meningkatnya kualitas hidup, tingkat kesdaran, kecerdasan + moralitasnya.

Tatkala sebagai pemimpin tidak memiliki / tidak tahu keutamaanya maka sebenarnya ia kehilangan makna dan kepercayaanya bahkan bisa saja ia hanyalah simbol / boneka / pesuruh saja. Keutamaan bg pemimpin sangatlah penting dan sangat mendasar bagaimana ia menjadi role model.

Menjadi suatu ikon/ role model memang tidak mudah bahkan memerlukan suatu perjuangan + upaya 2 dalam pencapainya. Pemimpin yg berkeutamaan setidaknya pemimpin yang :

1. Memiliki kesadaran memperbaiki, siap dimasa kini, + menyiapkan masa depan yg lebih baik,
2. Visioner,
3. Mampu membawa dampak positif dan meningkatkan kualitas hidup,
4.Memahami hal-2 yg utama dalam bidangnya,
5. Memiliki kemampuan membangun sehingga orang mudah melakukan hal-2 yg utama. Yudistira menjadi ikon refleksi, keutaman, dharma, cipta, karsa + karya dlm kehidupan manusia.(CDL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_282" align="alignleft" width="300"] Dalam Pilkada Jatim sebenarnya yang menang adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. (DOK)[/caption] POSKOTA.CO – Terungkap. Mantan Ketua MK Akil Mochtar mengaku, pemenang dalam Pilkada Jatim sebenarnya adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. Putusan terhadap kemenangan Khofifah-Herman itu sudah diputuskan 7 hari sebelum amar putusan dibacakan MK pada 7 Oktober 2013. "Jadi keputusan MK itu sebenarnya sudah ada 7 hari sebelum amar putusan. Dan, itu Pak Akil menegaskan bahwa Bu Khofifah dan Pak Herman yang menang. Tapi ini tiba-tiba putusannya incumbent yang menang," kata kuasa hukum Akil, Otto Hasibuan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (28/1/2014). Otto mengatakan, pada 2 Oktober 2013 Akil ditangkap KPK karena kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013. Padahal, amar putusan PHPU Jatim belum dibacakan, sementara dia adalah Ketua Panel PHPU tersebut. "Pak Akil Ketua Panel, putusan 7 hari sebelum dibacakan sudah ada, tapi pasca ditangkap Pak Akil itu tiba-tiba pihak sana (KarSa) yang menang. Ini ada apa?" kata Otto. Sebelum ditangkap Akil, kata Otto pernah mengirim surat ke MK. Isinya meminta klarifikasi kepada para hakim konstitusi lain, kenapa putusan itu tiba-tiba berubah. "Jadi tadi Pak Akil minta kepada saya untuk menyurati MK, mengklarifikasi masalah tersebut," ucap dia. Dalam amar putusannya, MK memerkuat keputusan KPUD Jatim yang menetapkan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih untuk Provinsi Jatim periode 2013-2018. Akil Mochtar oleh KPK ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013 dan Pilkada Kabupaten Lebak, Banten 2013 di MK. KPK juga menyematkan status tersangka pada bekas politisi Partai Golkar itu dalam kasus dugaan pencucian uang yang diduga berasal dari uang suap. Kejaksaan Agung menyatakan telah menerima surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) tindak pidana narkoba atas tersangka M. Akil Mochtar dari penyidik Badan Narkotika Nasional. Surat tersebut dibuat oleh penyidik BNN pada 20 November 2013 dan diterima oleh Kejaksaan Agung pada 22 November 2013. (djoko)