harmono 28/08/2017

 

Brigjen Pol Crisnanda Dwi Laksana

HARIANTERBIT.CO – Makanan enak dan barang bagus tatkala dikemas seadanya dijual sembarangan tempatnya akankah dihargai dengan layak? Bandingkan pada barang yang sama dengan pengemasan berbeda akankah dihargai seadanya bila dijual di mal atau tempat-tempat bergengsi lainnya? Tentu khalayak akan mahfum dengan harga yang lebih mahal. Prestasi juga membutuhkan prestise. Suasana sasaran pasar untuk pembelinya juga menjadi pertimbangan.

Menjual karya seni berbeda dengan menjual barang kebutuhan sehari-hari. Karya seni dapat menjadi aset yang akan terus bertambah tinggi nilainya. Pasar bagi penjualan barang-barang seni akan ada stratifikasinya. Tatkala seni dipasarkan serampangan, maka apresiasi pun juga serampangan. Tempat memang bisa saja mempengaruhi namun bisa juga justru menambah keyakinan akan keasliannya.

Apakah tabu atau menjadi rendah tatkala seniman menjual karyanya di rumahnya. Tentu tidak salah dan beum tentu buruk. Sisi positif dan negatifnya yang mesti didekatkan sisi jurang yang tidak terlalu dalam atau terlalu jauh. Seniman idealnya mampu memaknai mengemas sekaligus memarketingkan karyanya.

Tak banyak seniman yang ketiban pulung keberkahan banyak rezeki berkelimpahan materi dan dipuja-puji di mana-mana. Ada pula yang bangkrut dan merana di usia tuanya. Ada yang jaya lalu hilang ditelan masa. Tak sedikit yang menjadi top markotop pasca-kematiannya.

Art gallery bisa menjadi penolong sekaligus pembunuh seniman. Tatkala galeri sadar dan tidak berjiwa tengkulak maka akan memperjuangkan sang seniman hidup tumbuh dan berkembang. Sebaliknya yang pikiran hati dan niatnya menjadi pemeras maka akan mematikan senimannya dengan melabel buruk dan mematikan pasarannya dengan standar harga suka-suka yang dibuatnya. Galeri lebih dipercaya daripada sang senimannya? Bisa saja iya, karena galeri memiliki jaringan dan mitra berduit bahkan berkuasa.

Seniman tak bisa hidup sendiri, ia harus membangun komunitas untuk saling menjaga dan saling menguatkan. Ini juga agar tidak disia-siakan kaum berduit dan art gallery yang sontoloyo. Seniman butuh prestasi dan prestise untuk dapat hidup layak yang tahan dalam segala kondisi. Menjadi seniman pilihan hidup dan panggilan hati antara hidup atau mati. Pilihan jelas, namun serba penuh dengan ketidakjelasan. Di sinilah para pahlawan kebudayaan termasuk art gallery, para kurator untuk terus menghembuskan nafas para seniman untuk hidup layak sebagaimana semestina bagi orang yang memiliki prestasi dengan berbagai prestisenya. (*)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :