oleh

KOI dan KONI Sering ‘Berbenturan’, UU SKN Perlu Direvisi

-Olahraga-22 views
POSKOTA.CO- Sejak kehadiran  Undang Undang Sistem Keolahragaan Nasional (UU SKN) Nomor 3 Tahun 2005 sering terjadi tumpang tindih kewenangan di bidang olahraga Tanah Air. Alasan itu menjadikan UU yang berusia 15 tahun tersebut perlu direvisi mengingat olahraga di Indonesia dan dunia terus berkembang.

“Komite Olaharaga Nasional Indonesia (KONI) dan Komite Olahraga Internasional (KOI) sering kali ‘bertengkar’ memperebutkan pengaruh kepada para atlet. Untuk itu, butuh satu saja lembaga olaharaga yang sekaligus mempersatukan para atlet,”tegas Anggota Komisi X DPR RI, Rano Karno,  saat mengikuti rapat dengar pendapat membahas RUU Keolahragaan Nasional dengan Badan Keahlian Dewan (BKD), di ruang rapat Komisi X DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (29/6).

Politisi PDI Perjuangan itu mengatakan, sudah saatnya kedua lembaga olahraga nasional itu beradasatuatap agar tak terus berbenturan. “Di Indonesia ada dua komite olahraga, KONI dan KOI. Sering terjadi pertengkaran di antara keduanya. KONI lingkupnya nasional, KOI lingkup internasional. Sementara keduanya membutuhkan atlet. Selalu ada overlapping kewenangan. Tidak mungkin KOI mengirim atlet tanpa ada KONI,” tutur Rano .

DitambahkanRano, harus disepakati lembaga olahraga di Indonesia ini seperti apa. Setidaknya, ada komite yang mengurus para atlet amatir dan komite atlet profesional. Sementara bicara RUU olahraga sendiri, ia mengharapkan, perlu rumusan regulasi olahraga yang bisa diimplementasikan jangka panjang.

“UU lama tentang olahraga direvisi, karena perkembangan olehraga nasional maupun dunia telah berkembang pesat,” katanya.

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Keolahragaan Nasional sudah 15 tahun berjalan. Sedangkan perkembangan olahraga dunia sudah berubah total, sehingga perlu perancangan yang agak panjang supaya semua target bidang olahraga tercapai.

Sayangnya, lanjut legislator Dapil Banten III itu, olahraga belum menjadi profesi di Indonesia.

“Beda dengan di luar negeri, untuk menjadi petenis profesional, atlet sudah berlatih sejak kecil. Mereka menyadari masa keemasan atlet itu tidak pernah lebih dari 30 tahun. Sementara di Indonesia olahraga itu hanya dipandang sebagai latihan tubuh tidak dipandang sebagai kegiatan profesional yang dapat pilihan masa depan,”terang Rano.(dk)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *