oleh

Unomoz, Kontingen Garuda XVI di Mozambik

Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

UNITED Nation Operation in Mozambique (Unomoz) merupakan operasi perdamaian di Mozambik yang diikuti Kontingen Garuda XVI dari Polri tahun 1994. Persiapan sebelum pasukan berangkat diuji dan dipersiapkan kurang lebih enam bulan sebelumnya pada tahun 1993. Pasukan Garuda ke-16 terdiri 15 personel dipimpin Mayor Polisi Kuswandi dengan 14 anggota lainnya, Mayor Polisi M Nur Maseri, Mayor Polisi Yuwanto, Mayor Polisi Tri Parnoyo Kartiko, Mayor Polisi Andayono, Mayor Polisi Jhony Samosir, Mayor Polisi Burhanudin Andi, Mayor Polisi Gatot Subroto, Kapten Polisi Andi Takdir Rahman Tiro, Kapten Polisi Budi Susanto, Kapten Polisi Zulkarnaen Adhi Negara, Letnan Satu Polisi Andre Karo Karo Purba, Letnan Satu Polisi Joko Lukito, Letnan Satu Polisi Ali Yasin, Letnan Satu Polisi Chryshnanda Dwilaksana. Dalam perjalanan dinas ke Mozambik dikoordinasi dari Mabes ABRI.

Analisis Daerah Operasi menunjukkan bahwa Mozambik merupakan bekas jajahan Portugis dan berbahasa Portugis. Perang saudara berkepanjangan antara Frelimo yang radikal Marxis Lenisme dengan Renamo yang demokratis di-back up Afrika Selatan, berdampak panjang sehingga PBB turun tangan untuk menjaga perdamaian di sana. Nama misinya adalah: United Nations Operation in Mozambique (Unomoz) antara 11 Augustus 1993 sampai 16 Januari 1995. Mozambik merdeka pada 25 Juni 1975, dan partai Frelimo mengambil alih kekuasaan pemerintah. Masalah ekonomi semakin lemah, dan terjadi eksodus besar-besaran dari bangsa Portugis kelas menengah ke atas.

Pada tahun 1980, mulai terjadi berbagai masalah sehingga perekonomian bangkrut dan perang berkepanjangan hingga perang saudara. Pada 1988, antara pemerintah dengan Renamo (Resistencia Nacional Mocambicana) bersepakat untuk melakukan gencatan senjata, dan melakukan perdamaian mengakhiri perang saudara selama 14 tahun. ‘General Peace Agreement’ baru disepakati pada 4 Oktober 1992. Dalam implementasi ‘agreement’ tersebut, maka tim negosiasi dan tim observer termasuk tim perwakilan PBB untuk segera masuk dan mempersiapkan segala sesuatunya tidak lebih dari tanggal 15 Oktober 1992.

Presiden Republik Mozambik Mr Joaquim Alberto Chissano dan Presiden Renamo Mr Afonso Dhlakama menandatangani ‘General Peace Agreement’ di Roma menyepakati prinsip-prinsip dan kesepakatan perdamaian di Mozambik. ‘Agreement’ yang dibuat mengundang PBB atau United Nations berpartisipasi dan memonitor implementasi dari ‘agreement’ tersebut di dalam memberikan bantuan teknis dan memonitor pelaksanaan pemilihan umum yang tidak lebih dari tanggal 15 Oktober 1993. Namun faktanya tidak semua berjalan mulus, sehingga pemilu baru bisa diselenggarakan pada Oktober 1994.

Penulis, Chryshnanda Dwilaksana, saat berpangkat lettu polisi ikut dalam Kontingen Garuda XVI dari Polri yang membawa misi perdamain PBB di Republik Mozambik, pada 1994.

Kontingen Indonesia dibagi dalam beberapa penugasan. Lettu Pol Andre Karo Karo Purba bertugas di Civpol HQ. Mayor Polisi Kuswandi dan Mayor Gatot Subroto bertugas di Maputo Civpol Region. Mayor Pol M Nur Maseri, Mayor Pol Jhony Samosir, Mayor Pol Burhanudin Andi, Kapten Pol zulkarnaen, Lettu Pol Joko Lukito dan Lettu Pol Chryshnanda Dwilaksana ditugaskan di Provinsi Sofala. Mayorpol Yuwanto dan Lettu Pol Ali Yasin di Provinsi Tete. Mayor Pol Andayono dan Kapten Pol Budi Susanto di Provinsi Manica.

Penugsan sebagai civilian police atau civpol ada yang bertugas di kantor regional hq sebagai task force, ada yang bertugas monitor dan post minitor. Tugas civpol yang berada di garis depan pada post monitor selain membuat intel dasar dan peta wilayah juga melakukan patroli dan edukasi serta kunjungan ke petugas polisi lokal maupun stakeholder lainnya. Memonitor situasi keamanan dan mempersiapkan pemilihan umum pada lokasi-lokasi yang akan dijadikan tempat pemungutan suara. Memonitor penyelenggaraan kampanye, dan melaporkan situasi kamtibmas di wilayah yang dilayani. Selain itu juga patroli serta sambang desa. Membantu menangani konflik sosial pada tingkat lokal dan juga membangun jejaring dengan masyarakat maupun stakeholder.

Dari pengalaman bertugas sebagai polisi yg tergabung pada operasi perdamaian PBB, menurut saya, ada berbagai kompetensi maupun keterampilan yang perlu dipersiapkan dan dipahami bagi para petugas kontingen Garuda setidaknya antara lain:

  1. Kemampuan berbahasa internasional secara aktif (membaca menulis dan berbicara).
  2. Kemampuan memahami karakteristik daerah operasi dan intel dasar serta kalender kamtibmasnya termasuk sejarah dan latar belakang negara misi maupun visi misi operasi PBB.
  3. Pemahaman atas penugasan-penugasan yang dapat diisi oleh kontingen Polri pada posisi-posisi strategis maupun representatif
  4. Kemampuan diplomasi atau pemahaman sharing pengetahuan dan pengalaman agar penugasan sesuai dengan kepangkatan atau nevelering pada jabatanya di Polri terutama unguk level menengah ke atas. Penugasan sebagai pemimpin di bidang administrasi, di bidang operasional maupun capacity building.
  5. Kemampuan yang berkaitan dengan ilmu kepolisian, polisi dan pemolisiannya.
  6. Kemampuan akan teknis dasar kepolisian di bidang preemtif, preventif, represif bahkan untuk recovery maupun rehabilitasi.
  7. Kemampuan mengimplementasikan community policing.
  8. Kamampuan untuk mengemudi, survival, kesehatan sebagai tenaga medis lapangan, penanganan situasi emerjensi maupun kontijensi.
  9. Kemampuan intelejen media.
  10. Kemampuan untuk literasi.
  11. Kemampuan dokumentasi, dan laporan.

Masih banyak hal lain yang mungkin dapat diseuaikan dengan situasi dan kondisi sesuai dengan corak masyarakat dan kebudayaannya maupun perubahan yang dinamis dan cepat. Tugas misi internasional pada operasi perdamaian PBB merupakan bagian dari internasional policing. Kontingen Garuda merupakan duta bangsa yang memiliki tugas untuk bergabung pada misi internasional menjaga perdamaian yang dapat berrugas secara profesional, cerdas, bermoral dan modern. Profesional yang bermakna ahli atau berbasis pada ilmu pengetahuan. Cerdas dalam konteks implementasi tugas kepolisian dalam misi internasional adalah kreatif dan inovatif. Bermoral di sini dimaknai adanya kesadaran tanggung jawab dan disiplin. Adapun konteks modern adalah berbasis ilmu teknologi. Profesional, cerdas, bermoral dan modern merupakan satu rangkaian yang semestinya dimiliki bagi petugas polisi dalam misi internasional.

Kenangan bagi:
Alm Bapak Kuswandi.
Alm Bapak M Nur Maseri.
Alm Bapak Tri Parnoyo Kartiko.
Alm Bapak Andi Takdir Rahman Tiro.
Alm Bapak Joko Lukito.
Semoga beristirahat dengan tenang dan mendapat tempat yang layak di surga. Ihsan Amin. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *