harmono 03/02/2019


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

REFORMASI sebagai suatu perubahan menuju sesuatu yang lebih baik diperlukan suatu proses transformasi. Proses transformasi dalam reformasi yang mendasar adalah secara kultural atau transformasi budaya. Kebudayaan yang dipahami sebagai fungsi merupakan keyakinan pengetahuan konsep-konsep bahkan teori-teori yang dijadikan acuan dalam kehidupannya (bisa saja menjadi kebiasaan yang telah tertanam dalam pikiran perkataan dan perbuatantannya) untuk mengeksploitasi atau memberdayakan sumber daya. Sejalan dengan konsep kebudayaan maka pemahaman transformasi budaya sebenarnya adalah mengubah mindset atau cara pandang atau paradigma sebagaimana yang sudah menjadi habitusnya menuju kepada sesuatu yang baru atau yang menjadi tujuan suatu reformasi.

Reformasi dalam pelayanan publik diperlukan suatu perubahan core value atau nilai-nilai inti yang diyakini dan dijadikan kesepakatan serta dijabarkan dalam implementasinya. Di dalam institusi pelayanan kepada publik core value yang menjadi kepuasan atau kebanggaan atau penilaian kinerja semestinya pelayanan yang prima yaitu cepat, tepat, akurat, transparan, akuntabel, informatif, dan mudah diakses. Menuju pelayanan yang prima tentu proses transformasi budaya yang dijadikan acuan adalah budaya di era digital dengan sistem-sistem yang terhubung secara elektronik. Sistem data yang ada dapat ditumbuhkembangkan menjadi model big data menuju one gate service.

Pembangunan big data merupakan dasar pokok transformasi budaya yang dibangun dalam sistem-sistem elektronik. Di era digital ada tiga model yang dibangun secara mendasar yakni:

  1. Back office yang digunakan sebagai pusat analisis sekaligus menjadi pusat komunikasi, komando pemgendalian, koordinasi dan informasi (K3I).
  2. Application berupa peratan atau sistem-sistem untuk inputing data secara manual semi-elektronik dan elektronik.
  3. Network sebagai jejaring penghubung antara objek yang didata dengan aplikasi dan aplikasi menuju back office juga sebaliknya.

Mentransformasi budaya merupakan proses perubahan paradigma atau cara pandang baru yang dikatakan untuk digunakan sebagai:

  1. Proses belajar dan perbaikan kesalahan di masa lalu.
  2. Kesiapan di masa kini.
  3. Menyiapkan masa depan yang lebih baik.

Dalam konteks tersebut di dalam mentransformasi suatu budaya diperlukan adanya langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Political will. Kebijakan-kebijakan yang berpihak pada proses transformasi tersebut.
  2. Kepeminpinan yang transformatif. Para pimpinan di semua lini memiliki visi dan misi yang sama sebagai agen-agen perubahan atau linking pin untuk menggerakan proses transformasi.
  3. Membangun model transformasi sebagi blue print yang merupakan rancang bangun acuan atau panduan sesuai apa yang akan digerakkan dalam proses transformasi tersebut.
  4. Membentuk tim transformasi. Tim transformasi adalah sebagi tim back up atau sebagi tim manajemen yang akan memonitor dan mengevaluasi atau memback up secara konseptual administrasi maupun operasional.
  5. Membangun infrastruktur dan sistem-sistem pendukung di era digital (back office, application dan network) menuju big data dan one gate service yang digerakkan dalam sistem smart management untuk mampu memberikan pelayanan-pelayanan yang prima (cepat, tepat, akurat, transparan, akuntabel informatif, dan mudah diakses).
  6. Menyiapkan SDM yang berkarakter. Sumber daya manusia (SDM) yang berkarakter adalah SDM yang memiliki integritas, komitmen, kompetensi, dan keunggulan. Yang dibangun atas dasar kesadaran, tanggung jawab, dan disiplian, apresiasi atas dasar prestasi kerja dan memegang teguh pada etika kerja.
  7. Menerapkan model-model yang dibangun poin pertama samapi dengan kelima yang dijabarkan menjadi program-program unggulan shg semua lini bergerak saling berkaitan atau berhubungan satu sama lainnya.
  8. Menerapkan pada sebuah pilot project. Untuk wadah percontohan atau implementasi transformasi.
  9. Melakukan monitoring dan evaluasi atas poin pertama samapai ketujuh apakah sudah sesuai atau ada kendala-kendala sehingga dapat segera diatasi.
  10.  Membuat pola pengembangan apabila dinilai berhasil atau ada kemajuan yang signifikan.

Sepuluh poin di atas secara singkat merupakan langkah-langkah transformasi budaya yang dapat dijabarkan atau ditumbuhkembangkan atau yang disesuaikan dalam variasi-variasi corak masyarakat dan kebudayaannya. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*