harmono 28/09/2016

POSKOTA.CO – Kita sudah sering mendengar bahwa makin jarang bergerak Anda, makin besar berdampak pada kematian dini. Tentu kita tak mau hidup yang indah ini harus cepat berakhir hanya gara-gara kurang bergerak.

Tetapi, masalahnya bukan hanya seberapa banyak yang kita habiskan untuk duduk, melainkan juga seberapa efisien atau tidak efisien kita membakar kalori.

Dalam sebuah studi yang dimuat dalam American Journal of Preventive Medicine , para peneliti menunjukkan bahwa berkurangnya waktu duduk akan memperpanjang usia.

Dari sebanyak 93.000 wanita usia menopause yang terlibat dalam studi ini, mereka yang duduk lebih dari 11 jam setiap hari memiliki risiko kematian dini 12 persen dibandingkan dengan wanita yang hidupnya aktif.

Secara spesifik, mereka yang jarang bergerak (sedentari) berpotensi meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah, jantung koroner dan kanker.

Sebenarnya, mengapa terlalu banyak duduk bisa menyebabkan efek yang begitu buruk? Riset menunjukkan, duduk dalam waktu lama akan mematikan sistem metabolisme yang juga mematikan molekul yang disebut lipoprotein lipase (LPL) yang sebenarnya bekerja untuk menggunakan lemak sebagai energi.

Jika Anda sehari-harinya stuck di belakang meja, mulailah untuk memperbanyak waktu bergerak. Perkantoran di negara maju saat ini mulai menggunakan meja kerja berdiri.

Jika tidak memungkinkan, mulailah untuk lebih banyak berjalan-jalan di sekitar kantor. Lupakan kebiasaan makan di meja kerja, tetapi manfaatkan waktu istirahat siang untuk berjalan kaki ke kantin yang agak jauh. Sesekali coba naik tangga ketimbang lift, atau hampiri rekan kerja di departemen sebelah ketimbang meneleponnya.

Menurut siaran pers, peneliti melihat data yang dikumpulkan dari 54 negara antara 2002 dan 2011. Mereka menemukan, lebih dari 60 persen dari populasi dunia, duduk lebih dari tiga jam per hari, dengan rata-rata sekitar 4,7 jam per hari.

Jumlah tertinggi kematian akibat duduk lama terjadi di wilayah Pasifik Barat dan sebagian Eropa. Lebanon dan Belanda menempati puncak sebagai negara dengan kematian terbanyak akibat duduk lama, sementara Meksiko dan Myanmar memiliki kematian terkait duduk lama paling sedikit.

Para peneliti menemukan, mengurangi duduk dapat meningkatkan harapan hidup secara keseluruhan, sementara mengurangi duduk selama dua jam per hari dapat menurunkan angka kematian individu sebesar 2,4 persen. Bahkan, duduk selama satu jam atau kurang per hari dapat memiliki dampak sangat positif pada risiko kematian.

“Hal ini penting untuk meminimalkan perilaku kurang aktif demi mencegah kematian dini di seluruh dunia,” kata penulis utama studi tersebut. (*)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :