Djoko Waluyo 09/06/2014

suasana Genjah ArumPOSKOTA.CO – Secara keseluruhan, desa Kemiren Banyuwangi merupakan ‘miniatur’ desa masyarakat Banyuwangi yang sampai kini masih ada. Di desa ini relatif masih bisa ditemui adat istiadat atau habitat kuno masyarakat Banyuwangi sekitar 50 tahunan lalu, bahkan cara berpakaian wanita-wanitanya.

Kini desa ini terus dikembangkan menjadi heritage. Kata Kemiren sendiri merupakan paduan antara kata ‘kemiri’ dan ‘duren’ (durian), lalu jadi ‘Kemiren’.

Kemiri adalah salah satu rempah-rempah untuk masak, dan duren adalah buah durian. Di desa Kemiren itu dua hasil alam itu berlimpah di Kemiren.

Bahkan di desa Kemiren ada satu pohon durian yang isinya berwarna merah, dan konon merupakan satu-satunya durian merah di dunia, namun jika dicangkok lalu ditanam di tempat lain, warnaya tak akan merah.

“Mungkin karena karakter tanahnya. Jadi kalau ditanam di tempat lain buahnya tak merah,” kata budayawan Banyuwangi, Hasnan Singapdimyan.

Di desa Kemiren ada museum kecil yang diberi nama Sanggar Genjah Arum yang luasnya sekitar 7.000 meter persegi. Sanggar ini didirikan oleh Setiawan Subekti,57, menyimpan banyak kekhasan Banyuwangi, dan merupakan kekayaan tiada tara sejarah budaya Banyuwangi.Dpaglak

 

Disana berdiri rumah khas Banyuwangi dan perlengkapannya, juga wakaf khas Banyuwangi untuk sholat. Bangunan rumah sengaja dibuat tak beraturan sehingga nampak alami, dan tidak mengesankan sanggar atau meseum.

”Rumah-rumah ini sebagaian besar diwariskan sampai kegenerasi ketiga. Rumah yang paling besar itu sudah berumur 100 tahun saat saya membelinya,” ujar Setiawan Subekti yang biasa disapa Iwan.

Disana juga ada lesung Banyuwangi, warung khas Banyuwangi sampai kopi Kemiren. Iwan sendiri memang pengusaha kopi asal Banyuwangi, yang sudah malang melintang mengurus kopi ke seluruh dunia. Bahkan sering menjadi juri kopi hingga ke Amerika dan Brazil.

“Saya asli orang Banyuwangi. Jangan lihat kesing saya,” katanya menyapa Poskota.Co dengan hangat, dengan dialek Indonesia khas Using. Ia memang bermata sipit dan berkulit kuning, tapi fasih bahasa Using, bahasa khas Banyuwangi.

Bahkan ia selalu memakai ikat kepala khas Using (udeng) jika berada di sanggarnya. Jika ia berbicara keras, dan mengaku tak menyukai orang yang tidak menepati janji.

Lalu Iwan pun berbahasa Using kepada Psokota.Co. Ia menawari kopi Kemiren buatannya. “Ayo diminum, dengan kopi kita jadi dulur (saudara)”, tutur Iwan.

Kopinya disuguhkan dalam cangkir keramik mungil bermotif tradisional Banyuwangi, dengan sendok kecil yang terbuat dari kayu kelapa. Kemasan kopi produksi Iwan sendiri tertulis ‘Kopai’ (bukan kopi), karena memang begitulah orang Banyuwangi menyebut kopi, menjadi ‘kopai’.

“Menyangrai kopi jangan sampai gosong tapi jangan terlalu mentah, biar enak aromanya dan diseruputnya. Begini cara menikmati kopi, sebelum meminumnya, hidung didekatkan pada bibir cangkir.

Setelah aroma kopi masuk ke hidung, baru diseruput. Harus berbunyi serupuuut…ha…ha…,” kata Iwan sambil tergelak. Dijelaskan pula oleh Iwan, kopi yang enak dimasak ditungku besar, dimasak dengan kayu dan gerabah, dengan tingkat kepanasan tertentu, biar rasa kopi makin lezat.
dibu-ibu penabuh lesung

Poskota.Co pun menikmati kopi diiringi gending Banyuwangi tradisional yang berasal dari lesung yang didendangkan oleh ibu-ibu tua berpakaian hitam dari kain khas yang biasa digunakan batik Gajah Oling Banyuwangi.

Mereka dengan semangat mendendangkan irama seperti orang menumbuk padi. Uniknya, mereka memainkan lesung dengan mengunyah susur (yaitu campuran tembakau, buah pinang, dan kapur sirih).

Ibu-ibu itu direkrut Iwan dari desa sekitar kawasan Genjah Arum. Sementara para lelaki mengumandangkan musik angklung di paglak, di atas menara. Syahdu dan indah.

Paglak mulanya alat pengusir burung yang biasa digunakan petani jika menjelang panen, yaitu berupa ‘menara’ yang terbuat dari bambu setinggi 15 meter. Diatasnya ada angklung lanang (lelaki) dan angkung wadon (wanita) khas Banyuwangi.

Namun seiring berjalannya waktu, fungsi paglak terus berkembang. Zaman dulu, sebelum ada sound system agar suara angklung itu terdengar jauh, maka dimainkanlah di menara paglak sehingga terdengar jauh, paglak pun menjadi multi fungsi. Naskah tulis DANN JULIAN

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*