Djoko Waluyo 05/11/2014

lukis 1 aPOSKOTA.CO – Mengunjungi rumah dan studio pelukis asal Banyuwangi, Supriyadi, atau yang lebih dikenal dengan nama S.Yadi. sungguh mengasyikkan. Disamping pelukis berambut gondrong dan berkulit hitam ini hangat menyambut tamunya, juga tak pelit cerita soal suksesnya.

Bahkan ia sempat memaksa meminta saya makan bersama malam itu. “Ayo, harus mau makan. Ini masakan istimewa. Ayam dibumbui parutan kelapa yang sudah dibumbui, khas Banyuwangi, agak pedas,” tuturnya. Dan ternyata memang enak menu ayam berbumbu kelapa itu.

Kunjungan saya ke rumah Yadi saat itu pas memasuki waktu senja. Kumandang magrib baru saja lepas. Sebelumnya saya tak membuat janji terlebih dulu dengannya, namun kedatangan kami yang mendadak sebagai wartawan Poskota.Co disambutnya dengan tangan terbuka. Mungkin karena saya dan Yadi sama-sama orang Banyuwangi asli.

Malam itu sebenarnya ia sudah ada jadwal ke dokter. Namun ketika dokternya menelpon dan mengingatkan malam itu ada jadwal tersebut, Yadi membatalkannya. “Ya, sebenarnya saya sudah janji dengan dokter. Tapi tak masalah, saya bisa tunda, besok masih bisa, kok,” katanya kepada saya, dengan logat Banyuwangi yang khas.

Ia pun bercerita tentang perjalanannya sebagai pelukis. Jalan itu melalui lorong tanjakan dan turunan yang sangat panjang dan berliku, dan melelahkan. Di masa remaja ia merasa menjadi ‘underdog’ lantaran hanya remaja yang ayahnya seorang sopir. Di awal-awal tahun 1970-an sentimen kelas (khususnya ekonomi) di kalangan remaja memang masih sangat kuat, apalagi di kota Banyuwangi yang kuat dengan nuansa feodal.
lukis2 a
“Mimpi menjadi orang sukses atau apapun raasanya akan menjadi bahan tertawaan sekitar saya. Karena itu mimpi itu kubiarkan bersemayam di hati, dengan diam-diam,” kenang Yadi sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.

Namun bakat seni lukis yang ada dalam dirinya tak padam oleh predikat underdog, atau pandangan sekitarnya yang meremehkannya.Keinginan untuk terus mengembangkan bakat lukisnya terus bergejolak. “Bagaimana mau memadamkan talenta yang setiap saat seperti hendak mau meledak dalam dada ini,” katanya, mencoba puitis.

Halangan untuk merealisasi impiannya tak hanya datang secara external, tapi juga secara internal. Ayahnya melarangnya untuk menjadi pelukis. Sama dengan orangtua lain yang melarang anaknya menjadi pelukis, alasannya, mau makan apa nanti jika jadi pelukis.

“Mungkin ayah saya pikirannya juga terkungkung oleh paradigama konvesional, apalah arti seorang anak sopir? Karena itu harus memupus habis jika punya cita-cita tinggi, tak boleh mimpi tinggi, nanti jatuh, sakit,” jelas Yadi mencoba meraba jalan pikiran ayahnya saat itu.

Namun pepatah mengatakan, tak ada sukses tanpa halangan, termasuk dari orang tua sendiri. Usai lulus SMEA di Banyuwangi, Yadi pun nekat ke Jakarta, mencoba mengejar mimpinya sebagai pelukis. “Bisa dibilang tak membawa modal apa-apa, kecuali nekat saja. Mau meneruskan kuliah juga tak punya biaya,” ujar Yadi.

Di Jakarta ia sempat menjadi bohemian sekitar tahun 1978. Di ibu kota ia sempat menggelandang di kawasan Bulungan di Jakarta Selatan, tempat para seniman mengejar impian, yang biasa disebut Garajas. Di Bulungan ia satu angkatan dengan Si Jon yang kemudian terkenal sebagai kartunis di majalah Gadis. Juga dengan penulis-penulis yang kini terkenal.

Di Jakarta Yadi sempat menjadi pelukis ilustrasi di majalah anak-anak bernama Kurcaci. “Sulit, sangat sulit hidup di Jakarta, tapi Jakarta menempa saya menjadi pribadi yang kuat. Selama dua tahun di Jakarta saya sempat dijuluki pelukis rimba raya. Karena saya sering melukis Rama dan Shinta,” kenangnya sambil tertawa.

Selama dua tahun di Jakarta, akhirnya Yadi pulang kampung. Sebagaimana umumnya perantau yang belum sukses namun sudah berani pulang kampung, ia merasa terasing di kota kelahirannya, Banyuwangi yang damai dan tak banyak tantangan saat itu.

Ia akhirnya memutuskan marantau ke Ubud Bali. Disana ia banyak menemui para pelukis seperti dirinya yang memperdalam ilmu melukis. Ia seperti menemukan sorga. “Kalau di Jakarta saya merasa ditempa manusia kuat, di Ubud saya menemukan dunia yang inspiratif sebagai seniman lukis,” tuturnya.
Yadi tak bisa menjelaskan bagaimana Ubud menjadi inspirasi, tapi yang jelas, katanya, kawasan ini memang mampu memacu palukis menuangkan karyanya dengan mudah dan baik. “Sulit dijelaskan, tapi itulah Ubud,” tegasnya.

Di Ubud, Yadi saat berusia 25 tahun, saat dimana remaja mulai memikirkan pasangannya. Maka ketika di Banyuwangi ia dikenalkan family-nya dengan seseorang wanita., gayung pun bersambut, Yadi sangat senang. Wanita itu kini menjadi istrinya, dan melahirkan empat orang anak yang manis-manis.

Untuk mendapatkan cinta istrinya itu, tantangan berat menghalanginya, calon mertuanya menentang habis-habisan jika anaknya mengambil Yadi sebagai suami. Alasannya klise, mau dikasih makan apa jadi istri pelukis? “Saat itu orang tuanya demikian keras melarangnya, sampai-sampai ia pernah dilempar parut,” kata Yadi dengan sorot mata tajam.

Namun sebagaimana pepatah mengatakan, kalau Tuhan sudah menjodohkan, tak ada yang bisa menghalanginya. Perkawinan itu akhirnya tak ada yang bisa mnenghalanginhya. Bahkan bahagia sampai sekarang. Nampaknya Yadi telah menjalankan hidup menjadi suami yang baik dan ayah yang baik.

Beberapa tahun kemudian cobaan dari Tuhan datang, salah seorang anaknya tewas secara mengenaskan dalam kecelakaan mobil travel yang ditumpanginya saat hendak mudik dan berlebaran Iedul Adha di Banyuwangi. “Kalau memasuki Hari Raya Qurban, saya pasti ingat anak saya itu,” tuturnya dengan sendu.

Namun kehidupan terus berjalan. Kini hari-hari Yadi diisi dengan terus menghasilkan karya demi karya. Ia banyak berkutat di studionya di kawasan Karang Asem Banyuwangi. Sementara rumahnya tak jauh dari studionya. Ia biasa menempuhnya dengan menggunakan sepeda motor, dan malam itu kami meluncur ke studionya, dengan sepeda motor juga. (bersambung)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :