Djoko Waluyo 06/11/2014

lukis aPOSKOTA.CO – Studio Yadi terkesan liar dan luas. Tumbuhan di luarnya dibiarkan tumbuh kemana-mana, seperti sengaja tak terawat. Tak terlihat asri memang, namun tetap nyaman, karena unsur pedesaan masih sangat kuat. Apalagi hawa di kawasan ini dikenal sejuk, sehingga tanaman cepat tumbuh berkembang.

Di dalam studio, sebagaimana umumnya studio lukis umumnya, kanvas bergeletakan di setiap sudut. Ada lukisan ‘Carnival Banyuwangi’ yang belum selesai. Ada kanvas raksasa tergantung yang siap dinaik turunkan oleh remote, juga ada kasur dan dapur kecil, manakala sang pelukis ingin sekadar melonjorkan tubuh atau mau rehat dengan ngopi.

“Dulu studio saya terletak di rumah saya sekarang ini, di lantai dua. Namun beberapa tahun lalu ayah saya menganjurkan membeli tanah kepada saya. Saat beliau menyarankan untuk membeli tanah itu, saya tak tahu untuk apa?

Bebeberapa tahun belakangan saya sadar, meski bapak saya awam di bidang lukisan, tapi seperti memiliki intuisi kalau saya membutuhkan tempat kerja, namanya studio. Dan saya pikir, antara kantor dan studio memang harus berbeda tempat, jadi setiap hari ketika berangkat ke studio, seperti berangkat kerja sebagaimana orang kerja kantoran pada umumnya,” tandasnya.

Yadi mengaku tak keberatan jika dalam melukis dilihat orang. “Lihat saja, tak ada yang saya sembunyikan dalam proses saya melukis, malah saya senang jika melihat saya akhirnya menjadi tambahan ilmu,” katanya.

Tak bisa dipungkiri, Yadi adalah salah satu pelukis penting yang dimiliki Indonesia. Dan masuk dalam jajaran pelukis mahal,sebagaimana pelukis kondang lain, karyanya bersertifikat. Lukisannya masuk Balai Lelang Christie’s dan Shotheby’s di Singapura.

Juga menjadi koleksi Istana Presiden Republik Indonesia dan Istana Bogor. “Yang di Istana Presiden RI yang membeli ibu Megawati,” jelasnya. Ia tak terhitung mengikuti pameran di Indonesia dan pameran keliling Asean, baik pameran tunggal maupun yang kompilasi.

Sebagai orang Banyuwangi, Yadi banyak melukis berthema Banyuwangi, khususnya seni gandrung Banyuwangi. Lukisan yang diberi judul ‘Penari-Penari Gandrung Berdandan’ banyak menarik perhatian. Sapuan warna yang menjadi kekhasannya seperti memberi label jati dirinya, sebuah pesona yang impresif dalam balutan komposisi warna. Lukisan yang memiliki roh.

Pelukis kelahiran Banyuwangi 6 Agustus 1958 disamping banyak melukis gandrung juga mengangkat kehidupan manusia sehari-hari dengan objek wanita, anak-anak dalam keseharian. “Dulu di teras rumah saya, sering saya undang gandrung. Mereka menari dan ditonton. Agar saya bisa mengangkatnya dalam kanvas dengan sempurna dan total,” kata Yadi.

Yadi juga mnelahirkan lukisan dengan objek wanita no-bra (semi-nude). Mungkin karena saya dulunya seorang pengarah gaya untuk sebuah majalah pria dewasa, saya sangat menyukai lukisan jenis ini.

Bukan karena ‘tanpa bajunya’ tapi yang disajikan Yadi umumnya wanita lugu di desa, bentuk wajahnya sangat Indonesia, bulat khas, matanya lebar dengan sorot jauh dari nakal, hidung tak lancip dan bibir tak sensual tapi menarik karena ketebalannya.

Dan yang bikin indah adalah, payudaranya dibuat tidak sempurna bentuknya. Yaitu wanita kebanyakan di kawasan desa, bisa di Muncar, Kemiren, Pendarungan atau kawasan lain yang terpencil di Banyuwangi.

Lukisan itu dibuat dengan bingkai idiom-idiom tertentu atau metafora yang diinginkan sang pelukis. Sehingga lukisannya menjadi sebuah karya realisme yang disajikan dengan konsep fotografi.

Seperti foto usang yang sebagian sudutnya sudah dimakan waktu, tapi sangat bernilai harganya. Sungguh sangat menakjubkan.
Gaya lukisan Yadi ini jelas sangat dipengaruhi semasa ia masih menjadi pelukis di Ubud, dimana masa-masa itu ia terpesona oleh lukisan-lukisan yang mengangkat denyut nadi kehidupan orang Bali, misalnya Ngaben, Kuningan atau Galungan dan lannya. Serta kehidupan regular anak-anak Bali yang bernuansa dolanan dan ceria, bahkan relegius.

Yadi mengaku pada tahun 1989 menemukan tehnik yang tak terduga, yang sangat mempengaruhi lukisannya hingga ini. Apa itu, hanya Yadi yang tahu, sulit untuk dijelaskan.

Sebuah tehnik anti-teori yang hampir selalu dimiliki oleh pelukis-pelukis kondang. Yang jelas teknik itu bisa dinikmati dalam karya-karyanya sekarang, yaitu hasil ekplorasi pensil, cat minyak, akrilik, yang konon kemudian disudahi dengan siraman air, dan belobor.

Pelukis yang hobi mancing ini sudah menggeluti lukisan sekitar 20 tahun lebih. “Dalam kurun waktu itu, yang selalu saya tekankan dalam diri adalah, bagaimana tetap produktif dan selalu meningkatkan mutu. Kalau pameran lukisan tak ada yang membeli ukisan saya, pede saja,” katanya sambil tertawa.

Ia kini aktif dalam Sanggar Kamboja, komunitas pelukis yang dikelola bersama rekan-rekan sesama pelukis. “Ajang saling tukar pendapat, saling mengisi, agar dunia lukis yang kami geluti tak mengalami stag, terus mengalir, seperti air,” tuturnya.

Malam makin malam. Perbincangan Poskota.Co dengan Yadi akhirnya harus disudahi. Di luar studio bulan nampak nyembul, menerangi desa Karang Asem. Bulan itu seperti ingin bersaksi terhadap proses karya-karya Yadi, yang kemudian dikoleksi oleh ratusan kolektor, mulai dari kolektor domestik sampai tamu-tamu negara yang tertarik dengan lukisannya.

Meninggalkan studio, dari pemukiman penduduk terdengar gending gandrung dari penyanyi lagu-lagu asli Banyuwangi, Koesniah, yang berjudul ‘Podo Nonton’ (‘Kesaksian Bersama’). Syairnya terdengar lamat-lamat…’bapak nundung, emak nundung…” (bapak mengusirku, ibu ikut mengusirku). Sungguh menyayat hati…..

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*