harmono 16/06/2014

jokowi aPOSKOTA.CO – Visi misi calon presiden Prabowo Subianto ternyata sejalan dan seirama dengan Jokowi. Mantan Danjen Kopassus ternyata juga mengendus kebocoran anggaran sebesar Rp1.000 triliun. Bahkan, dengan jiwa besar sependapat den gan rencana kebijakan ekonomi yang dipaparkan mitra Capresnya.

Bagai halilintar di siang hari menyambar sebuah keangkuhan dan keserakahan, saat Prabowo memaparkan  pada 2013 terjadi kebocoran anggaran Rp1.000 triliun. Manakala yang mendampingi maju sebagai Cawapres  adalah  Hata Rajasa menteri yang punya peran strategis pada saat itu.

Minggu (15/6) malam, ketika Prabowo diberi kesempatan untuk menanggapi jawaban dari Jokowi, dengan lugas mengatakan, tim penasihat saya menyatakan apapun nanti yang disampaikan oleh Pak Joko Widodo, jangan pernah setuju. Tapi saya kan bukan politisi profesional, karena itu saya tidak mau mendengarkan penasihat saya. Saya sejalan dengan Joko Widodo.

Suasana semakin sumringah, Prabowo lalu mendatangi Jokowi lalu mengajak Jokowi bercipika-cipiki. “Maaf ya, kali ini saya tidak ikuti tim penasihat saya,” sambung Prabowo sembari tersenyum dan melambai ke arah timsesnya.

Juru bicara Joko Widodo, Hasto Kristiyanto, mengungkapkan, saat paparan dan tanya jawab dengan Jokowi, Prabowo berulang kali mengatakan bahwa kekayaan negara bocor. Prabowo lupa bahwa pasangannya adalah sosok menteri koordinator yang seharusnya telah melakukan kerja nyata untuk melakukan “perang” terhadap para mafia ekonomi

Pekerjaan rumah terbesar Prabowo bagaimana menyatukan gagasan ekonomi kerakyatan dan ekonomi liberal yang menjadi ciri Hatta. Kritik yang disampaikan Prabowo sekaligus tamparan keras bagi SBY yang menurut Prabowo gagal mengatasi kebocoran penerimaan anggaran,” paparnya.

Sebaliknya Jokowi menjelaskan bahwa visi dan misinya diawali dengan alasan mengapa dia berdiri di situ. Tidak lain karena semangtat yang ditunjukkan rakyat kecil yang memerlukan jalan perubahan untuk Indonesia yang berdikari.

“Indonesia yang lebih memilih produk dari petaninya bukan impor. Indonesia dimana pedagang pasar dan pedagang kaki lima (PKL) mendapat tempat untuk berusaha,” ujar Hasto.

Karena itulah, kata Hasto, visi misi Jokowi diawali dari manusia, dengan revolusi sosial, dengan peningkatan kesehatan, dan kecerdasan. Sedangkan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan harus menjadi satu kesatuan.

Netral Institute menyoroti dalam debat kedua calon capres pada dasarnya punya misi dan visi yang seide dan seirama.  Sangat disesalkan seandainya Prabowo yang punya ketulusan memimpin bangsa dikotori oleh orang orang dekatnya.

Kenapa kalau kedua capres  sama -sama punya impian  sebagai pemimpin  berdua tak  duduk sama rendah berdiri sama tinggi memikirkan  bangsa ini menuju negara yang penuh cinta kasih dan kedamaian. Kenapa keduanya meski berebut jabatan? Kenapa keduanya saling menjatuhkan lewat kampanye hitam?

Alangkah indahnya Jokowi – Prabowo melangkah demi kejayaan bangsa. Lupakan masa silam, ke depan langkahmu masih bermanfaat bagi orang banyak. Memberikan kedamaian tak mesti menjadi seorang pemimpin. Buktinya seorang pemimpin belum tentu langkahnya bermanfaat bagi orang banyak.

Semoga para pemimpin negara khususnya kedua Capres Cawapres segera menyadari akan kekeliruannya. Semoga selesai capres  saling tak meninggalkan dendam dan keduanya seiring mengedepankan kepentingan rakyat agar lebih damai dan sejahtera.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*