Djoko Waluyo 09/12/2015

Pulang bersama rembang petang
Semua sudah aku kabarkan
Semua sudah aku jelaskan
Itu tujuanku temuinya

prambanan 70POSKOTA.CO – Mengetahui sebuah cinta, merasa diri dicintai. Diana lega bisa menjelaskan semua yang mengganjal dirinya. Sayang Ia tidak bisa bicara atau tidak bisa menjelaskan langsung. Hingga semua cerita luka selesai ia tuturkan dan pulang dengan tujuh puluh tujuh rasa teraduk-aduk dalam hati, Mas Bayu tidak muncul.

Misi Diana ke Yogya untuk perdamaian mama dan Eyangnya serta menjelaskan kepergiannya yang serta merta ke Jakarta selesai sudah. Lega adalah bagian dari rasa bahagia yang ia rasa. Namun penjelasan yang tidak bisa langsung kepada Mas Bayu memang mengurangi kesempurnaan misinya.

” Woek cah ayu, besok kamu pulang naik pesawat saja biar tidak capek”
Eyang Praja menyarankan Diana untuk kembali ke Jakarta dengan pesawat terbang. Diana berucap terimakasih kepada eyangnya tetapi ia memilih kereta api senja utama. Suasana setasiun keretapi api dengan lalu-lalang penjual asongan adalah pemandangan indah menurutnya.

Tante Dewi mengantar Diana ke Stasiun Tugu. Mbok Wongso dan Eyang Praja berat melepas Diana kembali ke Jakarta. Dua wanita dengan kerut-kerut kulit di wajahnya dan uban rata di mahkota ini berharap Diana tinggal lebih lama di Yogya. Bahkan tersembunyi di balik tatapan sendu Mbok Wingso, ia ingin momongannya kembali pindah ke Yogya. Hal yang tak mungkin karena Diana harus merampungkan sekolah SMA nya.

” Ati-ati di kereta ya woek, kamu tidak ada yang menemani. Jaga tas tanganmu selalu nempel di badan ”
Tante Dewi yang sangat menyayangi Diana ini begitu mengkhawatirkan keponakannya. Ia antar keponakannya hingga menemukan gerbong dan tempat duduknya. Setelah Diana duduk manis di tempat duduknya dan sejenak lagi kereta api Senja Utama hendak berangkat, Tante Dewi pamit pulang dan turun dari kereta api.

Pengeras suara sudah mengumumkan bahwa Kereta Api Senja Utama segera berangkat. Pengantar dan penjual asongan disarankan untuk segera turun dari kereta api. Peluit tanda keberangkatan di tiup petugas, roda-roda besi mulai pelan bergerak. Jendela kaca tempat kepala Diana bersandar ada yang mengetuk. Ia menoleh dan kepalanya mencari sumber ketukan.

Kaget dan tidak menyangka, di luar ada Mas Bayu berjalan tertatih karena kereta api mulai pelan berjalan. Diana tak bisa mendengar suara Mas Bayu karena suara ribut penumpang dan bunyi derit roda besi beradu dengan besi. Ia ulurkan tangannya kepada Mas Bayu, melalui jendela kecil yang terbuka, sejenak tangan mereka bisa saling menggenggam dan meremas halus. Hingga akhirnya Bayu menempelkan dua jarinya ke bibirnya dan memberikan jari yang habis dia tempelkan tadi kepada Diana sambil berucap lirih – By : Wita Lexia

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*