Djoko Waluyo 05/12/2015

Semua tergambar kembali
Setiap sudut di rumah itu adalah kenangan
Ciuman-ciuman itu hadir di pelupuk
Diana bergetar dan berdebar

prambanan 70
POSKOTA.CO
– Tante Anne tertegun beberapa saat kala Diana bertanya tentang Bayu. Dia tidak langsung menjawab tetapi melihat dengan seksama wajah Diana. Antara percaya dan tidak, tiba-tiba di depannya muncul seorang gadis yang telah membuat anak semata wayangnya patah hati berkepanjangan.

” Masuklah Diana”
Tante Anne tadinya hanya membuka sedikit daun pintu rumahnya dan kepalanya saja yang melongok ke luar. Sekarang ia buka daun pintunya agak lebar dan mempersilakan Diana masuk. Sebelum masuk, Diana memberi salam dan mencium tangan Tante Anne.

“Apa kabar Tante?”
Tante Anne dan Diana saliing mencium pipi dan bertanya tentang kabar masing-masing. Salam pembuka layaknya seorang tamu dan si empunya rumah. Dan sejauh itu Tante Anne belum menjawab pertanyaan Diana tentang keberadaan Bayu.

” Yuk kita ngobrol di meja makan saja biar santai dan enak ngobrolnya”
Desir itu kembali muncul ketika Diana harus melewati kamar tidur Bayu untuk menuju ke ruang makan. Semua semakin jelas tergambar dalam ingatannya. Satu persatu semua peristiwa atau kenangan di rumah itu hadir mengaduk-aduk perasaannya.

” Mau minum apa Diana? Hangat atau dingin?”
Diana minta teh manis panas, dia pandangi sekeliling ruang makan sambil menunggu Tante Anne membuat minuman. Masih seperti dulu, ruang-ruang bangunan besar itu nampak sepi dan dingin. Rumah besar peninggalan jaman Belanda ini hanya dihuni berdua.

Tante Anne meletakkan minuman yang dia bua di meja makan. Secangkir teh manis panas untuk Diana dan secangkir kopi susu untuk dirinya. Ada sepiring kecil pisang goreng yang dia suguhkan dan ada toples kecil berisi kacang bawang di meja sejak tadi. Cemilan yang sengaja di taruh di meja makan untuk anak semata wayangnya.

” Silakan diminum Diana, lama kita tak bertemu ýa? Kemana saja kamu?”
” Terimakasih Tante, Diana pindah ke Jakarta dan sekolah disana. Diana sekarang tinggal bersama mama” .

Sore itu cukup sejuk ketika dua wanita yang sama-sama mencintai seorang laki-laki itu mengobrol di sebuah meja makan. Cinta dalam perbedaan warna, yang satu sebentuk cinta seorang mama, sedang satunya cinta antara sepasang remaja.

” Bayu sedang pergi ke rumah temannya, biasanya sampai malam. Itu jauh lebih bagus dari pada dia mengurung diri di dalam kamar”.

Tante Anne bercerita kepada Diana tentang Bayu. Betapa anak semata wayangnya patah hati hingga kini. Sayapnya patah dan tak bisa terbang lagi. Sekolahnya menjadi kacau dan sekarang Bayu menjadi anak yang pemurung.

Belum lama Bayu mau ke luar rumah untuk bermain dengan kawan-kawannya. Baru seminggu ini, setelah pulang sekolah biasanya Bayu mengurung diri di kamar tidurnya. Tante Anne bercerita sambil sesekali menyeruput kopi susunya. Betapa ia harus bersusah payah memompakan semangat kepada anaknya yang sedang patah hati.

Diana mendengatkan curahan hati seorang ibu dalam diam. Mata Tante Anne kadang kosong dan menerawang jauh. Luka seorang anak adalah luka ibunya. Hubungan yang sangat dekat antara mereka berdua paska perceraian, membuat kepedihan itu menjadi luka bersama.

Sesekali tangan Diana mengusap air bening yang kelur dari sudut matanya. Kasihan Tante Anne desak pikirnya. Kasihan juga Mas Bayu harus mengalami sedih yang berkepanjangan. Tetapi mereka juga harus tahu cerita luka hidupku hingga aku meninggalkan Mas Bayu. Cerita yang tak kalah memilukan, sebuah cerita yang Diana sembunyikan.

” Kenapa kamu pergi begitu saja Diana? Bayu sangat sedih karena ia tak tahu salahnya apa”
(Bersambung By : Wita Lexia )

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*