Djoko Waluyo 17/11/2015

prambanan 70Pikiran melayang silam
Berapa musim itu berlalu
Pergi membawa bilur-bilur
Tuk mencari sarang hangat
Temui rahim yang simpan dirinya
Susu yang ia hisap waktu kecilnya
Sosok yang yang dibuat sirna!
Orang sekitarnya tak pernah mau cerita
Bungkam dalam bahasa yang tak dimengertinya!

POSKOTA.CO – Laju roda kereta senja utama mulai kencang. Kadang membuat badan Diana berguncang ke kiri dan ke kanan. Buah dada besar dan ranumnya mau tidak mau bergerak naik turun karna guncangan kereta nakal! Setelah suara pedagang asongan tak ada, kini terganti oleh suara obrolan penumpang yang masih nampak segar. Kipas angin yang berjajar di langit-langit kereta lumayan mengusir sesak dan panas. Ada 7 buah kipas angin tetapi hanya 3 buah yang bekerja. sedang sisanya wafat dan tak pernah bangkit kembali.

Di sebelahnya duduk laki-laki seusia Papa Hary. Diana dapat tempat duduk di dekat jendela,
nyaman dan enak untuk bersandar. Tidak ingin kenalan atau mengobrol dengan orang di sebelahnya,
pikirannya asyik menari dan tenggelam dalam kenangan silam.

Tadi sekilas ia tersenyum dengan orang yang duduk di sebelahnya, ketika harus pemirsi ke luar dari kursi karena ingin ke toilet. Steak dan nasi goreng menjadi menu andalan kereta api Senja Utama jurusan Jakarta -Yogya. Selain itu juga ada nasi rames dan indomie rebus. Es soda gembira membuat yang haus menjadi tergoda untuk memesannya. Diana memilih Beef steak dan teh botol waktu petugas kereta api menyodorkan daftar menu makanan. Daging saat ini sudah menjadi menu hariannya tidak lagi membuat mulut dan giginya geli seperti dahulu.

Suara orang mengobrol mulai senyap, badan mereka rata-rata mulai condong tidak tegak lagi. Ada
yang menggelar koran di lorong atau di tempat kaki di bawah kursi mereka. Ada yang memang sudah
bersiap dengan tikar kecil yang sengaja dibawa dari rumah. Yang banyak duit, mereka sewa
beberapa bantal dan dijadikan kasur darurat untuk kenyamanan tidur sesaat.

Jarum pendek pada arloji kecil di tangan kiri Diana sudah menunjuk pada angka sebelas. Suara
khas orang tidur mulai mendominasi gerbong yang Diana tumpangi. Ada suara berdesis kecil dan ada
suara dengkur kencang yang menyebalkan dan membuat Diana susah memicingkan matanya.

Ketika keadaan gerbong mulai sepi, laki-laki yang duduk di sebelah Diana membuat ulah. Rupa- rupanya laki-laki tersebut tidak tahan melihat paras cantik dan tubuh seksi Diana.
” mbak nyenggol kakinyanya sedikit saja dong”
Kaki laki-laki tersebut menyenggol-nyenggol kaki Diana dengan kurang ajar. Tak ayal membuat
Diana Murka atas pelecehan tersebut. Dia pukul wajah laki-laki tersebut, lalu berlari ke arah
restorasi untuk mengadukan polah lelaki hidung belang tersebut! ” Pak saya minta pindah tempat duduk karena orang di sebelah saya kurang ajar!” ( bersambung)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*