Djoko Waluyo 15/11/2015

prambanan 70Mencoba memperbaiki
Belajar untuk menjadi lebih baik
Berusaha adil walau itu tak mungkin
Langkahkan kaki lurus ke depan

POSKOTA.CO – Sepulang berlibur dari Pantai Anyer, Papa Hary bergegas dengan rencana-rencananya. Sibuk mengurus surat-surat pernikahannya dengan Mbak Retno. Namun hal paling sulit adalah memberi pemahaman kepada istri-istrinya tentang sebuah keadilan. Meminta ijin hingga istrinya tuanya memberi ijin. Semua tidak mudah untuk Papa Hary!

Selama ini nyatanya Papa Hary hanya adil soal pembagian hari berkunjung tetapi selebihnya tidak!
Bertahun-tahun Mbak Retno hanya dia simpan dan tidak mendapat tempat yang layak serta terhormat
sebagai istri.

Istri tua Papa Hary akhirnya memberi restu kepada Papa Hary untuk menikahi resmi Mbak Retno.
Sebuah perjuangan alot karena niat baik Papa Hary tentu tidak mudah dipahami oleh siapapun.

Merelakan sekaligus mengikhlaskan suaminya berbagi cinta bukan perkara mudah bagi wanita.
Namun setidaknya Papa Hary ingin menjadi manusia yang lebih baik, inilah asa yang digenggam
istri tuanya. Sebagai istri yang baik Dia bertugas mendukung, sementara lara dan luka dirinya ia
proses sendiri bersama canda waktu.

” Pa, boleh Diana ke Yogya sehari untuk mengabarkan berita gembira ini kepada Eyanh?”
Di sela-sela kesibukan mempersiapkan pernikahan Papa Hary mengantar Diana ke Stasiun Gambir.
Hari Sabtu sore Diana betangkat ke Yogya dengan kereta api Senja Utama. Hari Senin sore baru Ia
Balik ke Jakarta.

” Ma buatkan surat ijin dan antarerin ke Pak Anton wali kelas Diana Yaaa”
” Nanti Ajeng Saja yang kasih ke Pak Anton Kak, kasihan mama lagi banyak urusan”
.” Iyaa nanti mama bikinin, biar Ajeng saja ya nak yang anter suratnya ke walikelas mu”

Diana akan ke Yogya untuk menemui eyangnya sehubungan dengan rencana pernikahan mamanya. Kabar
ini tidak mungkin Diana sampaikan melalui telephone. Rencana Diana baik, misi bocah remaja ini
kadang membuat decak kagum Papa Hary. Itulah kenapa Papa Hary dan Mama Retno merestui kepergian
Diana ke Yogya.

Diana ingin bercerita utuh tentang mamanya kepada Eyang Praja. Diamnya eyang tentang cerita
mamanya sudah Diana ketahui dan lihat sendiri. Sekarang Diana paham dan mengerti mengapa eyangnya diam dan ayahnya selalu menghujat mamanya dengan kata-kata kasar setiap marah!

Minimal Eyang Praja mengetahui selangkah niat baik tentang anaknya yang ” mbarep”
(sulung). Kehidupan Mbak Retno yang ruwet bak benang kusut, semoga terurai pelan-pelan menjadi benang lurus yang berguna dan bisa digunakan dalam kehiduoan.

“Ati-ati ya nak, salam papa untuk eyang” Roda besi kereta beradu dengan rel yang terbuat dari besi pula. Kadang bunyinya membuat desir yang tidak enak untuk dirasa. Tetapi roda-roda itu yang berjasa membuat kereta melaju selain lokomotif.

Peluit sudah ditiup oleh petugas, pelan- pelan kereta api bergerak meninggalkan Stasiun Gambir.
Dengan kereta malam Diana pulang ke Yogya sendiri. Diliputi bahagia tentang rencana menikah
mamanya. Tetapi ada debu lembut yang menari di sudut hatinya. Sebentuk cinta yang terabaikan karna sengaja ia abaikan! (Bersambung..wita )

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*