Djoko Waluyo 07/11/2015

Pasir dan ombak sarang hangat
Cengkrama dan tawa disana
Mentari menjadi saksi bahagia
Burung elang terbang tinggi di angkasa

prambanan-2POSKOTA.CO – Diana berbahagia ketika melihat mama dan papanya serta adik-adikmya bermain pasir bersama. Saling melempar pasir atau sesekali membuat terkejut dengan air laut yang disiramkan ke muka atau badan dengan sengaja.

” Nanti kalau kalian libur sekolah dan papa ada rejeki, Insya Allah kita pergi ke Bali ya”

Papa Hari menjanjikan sebuah liburan kepada anak-anak dan Mbak Retno. Rencananya ia akan melakukan bulan madu yang tertunda. Mungkin lebih tepat bulan madu yang tak pernah ada dalam benaknya. Ia akan membayar hutang semua ketidak adilannya setelah meresmikan pernikahannya di KUA

Dengan kaki telanjang serta berkain sarung, Diana berjalan menyusuri pantai sendirian. Ia tinggalkan keluarganya sejenak untuk memberi kesempatan diri terbang dalam angan. Angin pagi membelai rambutnya yang ia gelung ke belakang, meniupkan anak-anak rambutnya keluar dari ikatannya

Mas Bayu melintas sejenak pada benak Diana tanpa sengaja. Alam semesta yang indah mungkin menghadirkannya. Bukan sesal tapi ada rasa bersalah ketika ia meninggalkan cinta itu begitu saja. Merahasiakan keadaannya yang babak belur karna bapaknya, menghilang tanpa suara dan kata lalu secara sepihak ia memutuskannya.

Sinar mentari pagi menerpa wajah Diana dalam kehangatan dan kelembutan. Semua menjadi selaras ketika angin, riak ombak dan mentari membentuk sebuah orkestra pagi. Cicit burung di dahan pepohonan tak mau ketinggalan tuk ambil bagian.

Bisakah?
Akankah?
Mungkinkah?
Renda cinta itu akan terajut kembali?
Jika suatu hari Diana punya kesempatan menjelaskan cerita hidupnya kepada Mas Bayu. Betapa Sang Pemberi hidup berpihak kepadanya!

” kakak sini kak, ada kabar bahagia dari papa”

Asih berteriak kencang memanggil kakaknya dari kejauhan sambil melambaikan tangan dan membuat tepukan tangan. Diana melihat lambaian tangan adik-adik dan mama papanya. Ia membalas lambaian tangan dan berjalan kembali ke tempat mereka berkumpul.

(Bersambung By: Wita Lexia
)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*