Djoko Waluyo 26/10/2015

angsaPOSKOTA.CO – Jembatan penghubung untuk menghubungkan sebuah cinta adalah yang Diana pinta kepada Sang Pencipta. Seorang anak yang dalam benaknya tumbuh subur sebuah keinginan untuk dicintai dan mencintai. Cinta itu sudah sedemikian dekat, ada di depan mata beningnya. Tetapi jarak tidak berbanding sejajar dengan sebuah rasa, cinta dan kehangatan mamanya masih sebatas cita dan angan….

Entah sudah berapa kemarau
Entah sudah berapa penghujan
Diana tak mau berhitung, ia semakin merapatkan hatinya kepada Sang Pemberi hidup. Tak mau lelah mendaras doa untuk mama yang telah mengukir jiwa dan raganya.

” mama mau makan apa? Kalau mama masih lelah, Diana ambilin makanan dan dibawa ke kamar ya”

Diana tidak hanya berdoa, melalui aksi nyata juga ia lakukan. Memberi terlebih dahulu dan tidak berharap imbalan. Diana ingin memahami mamanya dan tidak meminta dipahami. Namun asap gelap masih bergulung-gulung di atas kepala mamanya. Ia masih harus mendengar suara pintu pagar dibuka pada dini hari. Matanya masih harus menyaksikan mamanya berpelukan dengan laki-laki yang bukan papanya….

” Ma…Diana lihat semalam pulang pagi, siapa yang antar ma?”

Dengan suara datar dan jauh dari amarah Diana bertanya kepada mamanya. Hardikan dan lagu dengan not-not bernada tinggi adalah jawaban yang keluar dari mulut mamanya.

” Mama mau pulang pagi kek, malam kek ..atau mama tidak pulang, bukan urusanmu!”

Mamanya masuk ke kamar sambil membanting pintu kamarnya. Bantingan itu cukup keras dan Diana jatuh dalam diam….lalu ia pergi ke kamar tidurnya sendiri.
Tembok-tembok kamarnya serasa kaku dan ikut diam menyaksikan kepedihan Diana. Siang jelang sore itu hawa rasanya menjadi lebih panas dari biasanya.

Untuk menenangkan hatinya, Diana mengambil keranjang pakaian dan ia mulai menyetrika baju-baju. Diana menyetrika baju di ubin di kamar tidurnya ditemani Ajeng dan Asih. Ajeng dan Diana bergantian setrika sesuai dengan pembagian yang telah mereka sepakati. Ajeng setrika yang gampang-gampang sedang baju-baju yang butuh disetrika dengan halus adalah bagian Diana.

Adik-adik Diana menghibur ketika melihat kakaknya sesekali mengusap air mata. Mereka mengatakan kepada Diana, tidak perlu bersedih….dimarahi mama. Ajeng menasihati kakaknya agar pelan-pelan bicara kepada mamanya.

” Nanti kalau Papa Hary Datang, mama juga sudah baikan kak….”

(Bersambung..By : Wita Lexia..)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*