Djoko Waluyo 20/10/2015
Senyum manja Wita penulis kisah
Senyum manja Wita penulis kisah

POSKOTA.CO – Hari itu Minggu sore, cuaca cukup bersahabat. Tidak panas tetapi juga tidak dingin. Angin kadang bertiup semilir, membuat daun-daun di pepohonan bergerak pelan. Matari sudah condong ke Barat dan mulai berwarna jingga. Sinarnya sudah tidak begitu menyengat jika menerpa kulit.

Mamanya sedang menonton TV di ruang tamu sambil merokok dan minum kopi ketika Diana dan adik-adiknya berpamitan untuk pergi ke Gereja Bonaventura di Pulomas. Ini untuk pertama kalinya mereka ke Gereja bersama. Praktis Diana dan adik-adiknya hanya ke Gereja jika Sekolahnya mengadakan Misa.

” Ma…Diana dan adik-adik pamit ya, mau ikut misa sore yang jam 17.00 di Gereja”

” Naik apa?” Tanya Mbak Retno

” Gampang ma, naik bajaj saja”

Mbak Retno cukup kaget ketika anak-anaknya pamit mau pergi ke Gereja. Pipinya yang putih mulus itu sempat memerah beberapa detik seperti habis terkena tamparan. Ada sesuatu yang menampar pipinya sejenak, tetapi di belahan lain hatinya berucap….apa peduliku dengan anak-anak pergi Gereja?

Mbak Retno tetap ingin terbang bebas mengarungi dinginnya malam bersama asap-asap yang mengepul. Tertawa cekakak-cekikik bersama laki-laki yang ia sukai. Menikmati nikmatnya hidup, berkhayal banyak uang atau mereguk untung dari hobinya berjudi. Ia hidup dalam fatamorgana, dipuja oleh bibir-bibir penuh kepalsuan. Minuman keras membuatnya melambung tinggi di awan….

Diana merinding ketika memasuki Rumah Bapanya yang indah dan megah. Ini karena hatinya yang ia tutup ingin ia buka kembali dengan sebentuk kunci damai. Ia duduk bertelut di deretan kursi paling depan untuk mengatakan tentang cintanya yang retak. Ia ingin merekatkan kembali retakan tersebut agar utuh kembali.

Ajeng dan Asih diselimuti suasana bahagia penuh suka cita. Diana mengurusi adik-adiknya tidak hanya sebatas kebutuhan ragawi mereka tetapi juga rohaninya. Kakaknya yang berwajah cantik ternyata hatinya juga cantik. Kakak Diana yang masih remaja mampu mengisi sudut kosong adik-adiknya tentang posisi hangat seorang mama.

Selama ini Ajeng dan Asih sebenarnya bingung. Mereka tumbuh bak anak ayam di dalam kandang dengan induk berada di luarnya. Mamanya tidak pernah mengajarkan bagaimana mengasihi, bagaimana mencintai? Mama Retno asyik dengan dunianya sementara Papa Hary yang baik hanya ada di hari Senin-Kamis….itupun hanya di malam hari.

Pada sore jelang malam ini, nampak kakak beradik itu duduk berderet dengan sudut bibir tertarik keatas dan binar mata yang mudah tertangkap oleh orang lain.

“Salam damai…salam damai …salam salam…..”

(Bersambung….)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*