Djoko Waluyo 18/10/2015

angsaPOSKOTA.CO – Setelah melalui permenungan panjang, bincang diam dengan Sang Pencipta, Diana ingin melakukan tindakan yang Ia harapkan bisa membuat hangat jiwa dan roh mamanya sekaligus untuk dirinya. Namun sebelum memberi kehangatan kepada mamanya, tentunya jiwa dan rohnya sendiri tidak dalam keadaan dingin.

Hubungan Diana dengang Sang Penciptanya cukup dingin. Itu bermula ketika ia tidak jadi di Babtis karena alasan yang belun bisa ia pahami. Kemarahannya kepada seorang Pastur yang tidak mau membabtisnya sewaktu kecil, akan ia buag jauh-jauh. Diana ingin berdamai dengan dirinya, berdamai dengan hatinya dan belajar kembali mencintai sebuah jalan yang indah….yaitu jalan keselamatan.

Ada sebuah luka dalam jiwa Diana, luka yang entah harus ia mintakan kemana obatnya. Sebuah peristiwa buruk yang pernah terjadi di dalam kehidupan kanak-kanaknya. Kejadian itu sering melintas kembali dalam ingatannya. Membuat Diana sedih dan marah!

Sewaktu kecil, Diana pernah menangis meraung-raung dan histeris di dalam Rumah Bapanya…di Bait Allah. Rumah tempat bersandar dari lelahnya kehidupan dan mencari kehangatan itu, justru membuatnya terluka dan tersungkur sepanjang hidupnya. Rumah Bapanya yang kokoh, tinggi besar serta megah itu, menolak mencatatkan Diana kecil sebagai anggotanya.

Pada hal susah payah Diana mengikuti pelajaran Katekumen, setahun lamanya! Dinginnya hujan dan malam ia lalui karena cintanya kepada Bapanya di Surga. Waktu itu Ukuran dan langkah Kakinya masih kecil, ia berumur sepuluh tahun dan duduk di kelas 4 SD.

Setiap Sabtu sore ia harus berjalan kaki tertatih dari rumahnya di Jagalan ke Gereja Bintaran Kidul untuk mengikuti katekumen dan dilanjutkan dengan Misa. Tertarik ikut Katekumen karena sejak TK bapaknya menyekolahkan dirinnya di sekolah Katolik. Hingga ia hanya bisa berdoa dengan cara itu. Butuh perjuangan yang tidak ringan dari seorang anak kecil untuk bisa mengikuti semua ritual dan aturan Gereja yang harus dia jalani.

Rok putih berenda, bando putih yang cantik di kepala serta bros bunga yang terbuat dari bunga anggrek tersemat di dada. Diana dan kawan-kawannya yang berjumlah 15 orang berjalan berarak dengan senyum terkembang di lorong Gereja bersama Pastur, misdinar….prodiakon dan petugas liturgi. Bala malaikat dari Surga datang ikut menyanyi dengan Indah dan megah. Denting piano tua yang tetap mengeluarkan nada dengan sempurna membust suasana semakin meriah. Perarakan pada malam Paskah itu begitu membuat Diana terpana dalam kagum!bulan

Semua teman-teman katekumennya dipanggil namanya satu demi satu, maju ke depan Altar dengan taplak berwarna putih bersih, lilin berhias pita dan bunga di pegang dengan tangan kanan. Mereka didampingi ibu baptis masing-masing. Semua dipanggil maju ke depan dan di Baptis.

Hingga upacara Pembatisan usai…Nama Bernadetta Diana tidak pernah dipanggil. Walau volume suara speaker malam itu cukup kencang…DIANA tetap tidak pernah dipanggil untuk maju ke depan di depan Altar. Benak kecil dan sederhana pikirnya belum bisa memahami alur dan aturan Gereja. Anak kecil hanya bisa marah dan menjerit-jetit menangis. Membuat gaduh seisi Gereja yang sedang dalam suasana sakral…..

Urusan-urusan orang dewasa yang tidak masuk diakal anak kecil. Semua ini gara-gara Bapaknya yang muslim tidak memberikan tanda tangan sebagai salah satu syarat untuk pembaptisan.artinya bapaknya tidak memberi ijin Diana menjadi Katolik. Sedang di sisi lain Pastur dan Gereja tidak mungkin membaptis anak kecil tanpa seijin orang tua. Siapa yang akan memelihara iman katolik Diana kecil?

Melihat keadaan mamanya, Diana ingin membuat mamanya berjalan di jalan lurus dan terang. Untuk mengajak mamanya hidup dalam kebenaran….tentunya dirinya harus benar terlebih dahulu, atau paling tidak belajar bersama untuk menjadi benar!!

Setelah beberapa bulan tinggal di Jakarta, Diana belum pernah mengunjungi rumah Bapanya. Bait suci dengan suara orgen, bau dupa, bunga-bunga yang selalu terangkai apik dan cantik. Suara paduan diiringi lonceng berdentang….yang sering membuatnya merinding dan merindu. Angannya sering terbang seperti melihat Bala Surga degan malaikat-malaikatnya datang dan berjalan berarak.

Diana rindu semua suasana itu, heningnya pagi di Bait Allah, air sejuk yang ia torehkan di kening kala memasuki Rumah Bapanya. Diana kecil juga selalu kagum dengan Mezbah yang selalu tertata dengan rapi, taplak putih bersih dan bau wewangian dupa itu sangat magis dalam benaknya. Membuat kagum dan selalu ingin duduk di bangku terdepan.

(Bersambung….)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*