Djoko Waluyo 16/10/2015

angsaPOSKOTA.CO – Meskipun sikap Mbak Retno sering uring-uringan setelah pengalihan uang saku ke Rekening Diana, tetapi ia masih baik kepada anak-anaknya di depan Pak Hary. Malam-malam Mbak Retno dihabiskan dengan laki-laki yang datang silih berganti menjemputnya. Pulang dalam keadaan teler, sempoyoyongan bau alkohol dan ciuman di depan rumah sebelum pagar tertutup adalah pemandangan yang menjadi biasa untuk Diana.

Apa lagi yang bisa Diana perbuat? Diana sering bertanya kepada Allah Tuhannya. Apa yang harus diperbuatnya agar mamanya bisa berjalan lurus. Apa sebenarnya yang membuat Mamanya yang cantik itu berjalan di jalan becek, berbelok-belok dan bau busuk air comberan? Jalan yang seharusnya dihindari seorang ibu agar ia bisa menuntun anak-anaknya ke jalan kebenaran.

Kadang sewaktu terbangun di tengah malam, terjaga dan tersadar mamanya tidak ada di rumah, Diana bincang diam dengan dirinya. Angan kecilku dahulu merindukan peluk hangat seorang mama. Setelah menunggu sepanjang usianya, Diana harus menghadapi sebuah kenyataan, malam-malamnya tetap terasa dingin dan kaku. Ada sesuatu yang tetap terasa jauh…..walau berada dalam atap yang sama.

Pada hal pikir remajanya sederhana, bagaimana ia bisa berbincang tentang cinta dengan mamanya. Ia ingin mamanya melihat pipinya semburat merah karena malu, kala bercerita tentang teman sekokahnya yang jatuh cinta kepadanya. Diana dan tentu adik-adiknya ingin ditanya hasil ulangannya, sudah mengerjakan PR belum, sudah makan belum…..

Ini bukan rama-rama, ini nyata, semua jauh ….jauh sekali…sejauh perjalanan ke padang rembulan, sejauh angan yang tak berbatas! Berangkat malam, pulang pagi lalu tidur di siang hari….sejenak senyum jinak di depan Papa Hary. Diana menemukan seorang mama sekaligus kehilangan mama, dekat tetapi jauh….Mama ada tetapi tiada dan itu bukan sebaris puisi tentang hidupnya.

Keceriaan Diana sempat tercekat sesaat ketika padang rembulan yang gersang harus ia lalui, harus ia lalui bersama Ajeng dan Asih. Adik-adiknyalah kekuatan Diana untuk menjalani kenyataan hidup barunya, ia merasa harus menyangga, harus menjadi penguat dan sekaligus ibu untuk Ajeng dan Asih…

“Jika mama tidak memeluk ku dalam dinginnya malam, mungkin aku yang harus datang memeluk mamaku untuk memberi kehangatan” (Bersambung….)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*