harmono 14/10/2015

bulanPOSKOTA.CO – Sate ayam dan sate kambing menyisakan tusuknya. Tinggal sambal kacang dan sambal kecap yang belepotan di atas piring-piring putih. Makan malam telah usai, alunan lagu keroncong di dalam perut berubah rasa kenyang. Perbincangan uang saku membuat Diana lega sementara Ajeng dan Asih masih agak bingung dalam diam.

Mbak Retno sebenarnya kesal soal uang saku yang akan diberikan langsung kepada anak-anak. Perubahan yang akan mengganggu gaya hidup, cara hidup dan kegemarannya berjudi.Tapi Ia harus memendam semua kejengkelannya jauh….ke dasar jurang hatinya. Marah kepada Pak Hary sama saja menghampiri kemiskinan. Mbak Retno tidak mau seperti itu, Ia sudah kapok menjadi orang miskin seperti waktu habis bercerai dengan suami pertanya dahulu.

Mbak Retno sedang putar otak, bagaimana menekan anak-anaknya agar bisa menyerahkan uang sakunya. Ditrasfer ke Rekenig Bank Diana, membuat Mbak Retno sulit mengakali anak-anaknya. Ia harus melangkahi Diana dahulu….jika ingin menguasai uang tersebut!

Diana atau ide suaminya ini? Jika alasan anak-anak sudah besar dan ingin mengajarkan sebuah tanggung jawab, Mbak Retno tak bisa berkutik! Tetapi jika ini ide Diana …..Mbak Retno mempunyai perhitungan sendiri kepada anak gadisnya yang pertama ini. Ia tidak peduli dan akan berbuat sesuatu yang akan Diana sesali sepanjang hidup. Akan ia berikan hadiah yang pantas karena telah berani melawan dirinya!

Wita saat berlibur ke Pulau Dewata
Wita saat berlibur ke Pulau Dewata

Diana merapikan meja makan bersama Ajeng dan Asih, ada rasa lega dalam hatinya karena usul tentang uang saku diterima positif oleh Papa Hary. Sejauh ini persoalan uang saku diterima dalam diam oleh adik-adiknya. Ajeng dan Asih tidak punya keberanian meminta ketika uang sakunya dibelokkan mamanya untuk bersenang-senang dan memenuhi hasrat nafsunya yang bejad. Bahkan uang belanja untuk hari Kamis hingga hari Minggu juga raib entah kemana….

Papa Hary dan Mamanya sudah masuk ke kamar tidur. Diana dan adik-adiknya masih berkutat dengan buku-buku pelajaran hingga pukul 22.00. Mereka biasanya kompak, memulai belajar bersama dan selesai belajar juga bareng.

Ajeng nyeletuk kepada kakaknya disela-sela belajar. Demikian pula adik bungsunya si asih. Mereka menyambut dengan suka cita keputusan Papa Hary. Mereka bertiga sebenarnya tidak terlalu mempersoalkan jika harus makan seadanya di hari Kamis sampai hari Minggu. Tetapi pulang pergi ke sekolah jalan kaki dan tanpa uang jajan memang cukup berat untuk mereka.

” Wah asyik ya kak, kita bakalan selalu punya uang saku dan tidak jalan kaki kepanasan pulang sekolah”

” iya kak, kita bisa jajan bakso atau siomay dan es campur setiap hari”

Asih cukup polos bereaksi, sedang Ajeng sudah cukup besar untuk mengerti permasalahan. Diana menaruh jari telunjuk tangan kanan di tengah bibirnya yang sedikit dimonyongkan dan mengeluarkan bunyi yang membuat Ajeng dan asih menghentikan celetukannya. Diana tak ingin membahas hal ini di rumah….

(Bersambung.By : Wita Lexia.)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*