harmono 08/10/2015

prambanan-2POSKOTA.CO Kesempatan berbicara dengan Papa Haryadi akhirnya datang juga. Waktu itu hari Selasa sore, Diana disuruh mamanya membeli lauk untuk makan malam. Papa Hary sebenarnya baru saja tiba di rumah, tetapi ia tidak tega melihat anak gadisnya yang cantik sore-sore membeli lauk sendirian.

” Diana nanti papa antar membeli lauk, tunggu papa mandi sebentar yaaaa”

” Papa enggak capek, Kan papa baru saja sampai di rumah?”

Senangnya…. hati Diana, saat-saat yang Ia tunggu akhirnya datang juga. Sudah beberapa hari Diana menunggu kesempatan untuk bisa bicara dengan Papa Hary tentang sangu dan ongkos ke sekolah yang sering tidak di kasih mamanya.

Setelah Papanya rampung Mandi, mereka berdua naik mobil ke daerah Arion untuk membeli sate kambing dan juga mie goreng untuk lauk besok pagi. Diana juga harus membeli sate ayam karena adik-adiknya tidak suka sate kambing.

” Diana jangan lupa bilang sama papa untuk beli buah-buahan yaaa….”

” iya ma, apa lagi? Sekalian belanja yang habis ma…mumpung perginya sama papa dan pakai mobil”

” Beli minyak goreng dan sosis untuk bikin nasi goreng ya”

Diana mencatat beberapa keperluan dapur yang habis. Ia senang mamanya nyuruh belanja, ini berarti ada waktu cukup lama untuk bisa bicara dengan papa hari. Sore sudah hampir gelap ketika Diana berada satu mobil dengan papanya. Ada rasa kikuk dan tidak enak sewaktu Diana ingin mengatakan sesuatu kepada papanya.

” Pa….Diana dan adik-adik itu kan sudah besar, boleh tidak uang jajan dan ongkos ke sekolah di kasih bulanan. Jadi kami bisa belajar mengelola keuangan sendiri dan syukur-syukur malah bisa menabung”

” wah…ini ide yang bagus Diana, kalau perlu papa bikinin rekening Bank agar kalian bertiga bisa menabung yaaa.”

” Tapi kira-kira mama marah enggak ya pa? Diana takut….mama marah kalau papa langsung kasih uang jajan ke kami”

” nanti papa yang akan ngomong ke mama waktu makan, kan ini tujuannya baik. Kalian sekarang sudah bukan anak kecil lagi. Papa setuju dengan jalan pikiranmu untuk belajar mengelola keuangan”.

Diana lega, akhirnya ia bisa mengemukalan masalahnya kepada papa Hary. Ia dan adik-adiknya cukup lelah kalau mamanya tidak memberi sangu dan ongkos bajaj ke sekolah. Sewaktu pulang sekolah, matahari cukup panas memanggang tubuh mereka. Jadi selain lelah harus berjalan kaki, panas plus perut lapar membuat Diana prihatin dengan masalah ini.

Satu persoalan teratasi, Diana masih menyimpan kesedihan melihat polah mamanya setiap kali Papa Hary tidak di rumah. Dia tidak mengeluh dengan pekerjaan rumah yang menjadi bebannya serta adik-adiknya sementara ibunya bangun siang dan berhura-hura jika malam tiba….lalu pulang pagi…

Dari sisi tanggung jawah pekerjaan rumah tangga yang ada di pundak Diana, pekerjaannya lebih ringan dibanding sewaktu Ia tinggal di Yogya….dimana ia harus menimba air sejak jam empat pagi. Diana sudah tertempa untuk bekerja keras sejak kecil. Tapi ada rasa prihatin dan air mata yang menetes melihat mamanya. Apa yang harus atau apa yang bisa ia lakukan untuk membuat mamanya sadar???

Terngiang di telinga Diana perkataan Ajeng, mereka akan sengsara kalau sampai Papa Hary tahu. Ini tidak adil untuk papanya….ingin rasanya Diana berteriak tentang hal ini! Tetapi bagaimana nasib mama serta adik-adiknya juga dirinya? Saat ini ia hanya bisa tertunduk dalam bisu…hanya bisa diam.

Diana berpikir keras untuk mencari solusi, pantaskah…beranikah ia bicara kepada mamanya yang baru sepenggal musim ia temui? Kemarau panjang dan penghujan bergantian datang sepanjang usianya….ia menanti dan mencari mamanya dalam angan dan mimpi. (Bersambung….)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*