taher 13/08/2015

POSKOTA.CO – Jarum jam menunjuk pada angka 5 sore ketika mereka meninggalkan kaki Gunung merapi itu. Praktis jalanan tidak banyak tikungan, aspal yang mulus membuat Bayu bisa memacu motornya dengan kencang. Tidak ada pilihan lain, Diana harus memeluk erat-erat di boncengan belakang. Motor Honda GL keluaran terbaru itu sangat mendukung sang jokey untuk dibawa ngebut.

” Diana, kalau kamu meninggalkan aku, aku bisa gila dan di rawat disini”

Bayu menunjuk sebuah Rumah Sakit Jiwa yang terletak di Desa Pakem. Rumah sakit itu berada di sebelah kiri jalan, nampak berdiri kokoh dan mempunyai taman yang asri. Tampakan dari luar memang tempat yang nyaman untuk istirajat dan menenangkan diri.
Jika sewaktu berangkat jalanan menanjak cukup tinggi, ke arah pulang jalananan menurun. Semakin ke arah selatan cuaca semakin terang dan hangat. Sepanjang jalan mereka tidak banyak berbincang, ini karena laju motor yang kencang menelan suara jika mereka berbicara.

Si cantik Wita, penulis kisah ini
Si cantik Wita, penulis kisah ini

Sawah berpetak tak beraturan diselingi padi menguning dibeberapa tempat membuat pemandangan menjadi indah. Kaliurang yang terletak di Kabupaten Sleman adalah sebuah daerah yang sangat subur. Julukan sebagai lumbung padi tersemat karena hasil padinya yang lebih tinggi dari kabupaten lain. Ini yang mendukung pemandangan di kiri kanan jalan sepanjang yang mereka lalui cukup indah.

Begitu motor sampai di Bulak Sumur, tak ada jejak hujan. Hati Diana semakin dag dig dug begitu rumahnya tak jauh lagi. Amarah apa yang akan dia terima sore ini dari bapak dan ibu sambungnya? Jika itu sebuah hardikan, bentakan….itu hal biasa. Makanan sehari-hari Diana adalah omelan dari ke dua orangtuanya. Lama-lama suara keras bernada tinggi bapak dan ibu sambungnya menjadi alunan musik yang dibuatnya nyaman untuk di dengarkan.

Rembang petang sudah menyapa kota Yogyakarta. Sudah pukul setengah enam lebih. Motor Bayu sudah sampai di Jembatan Sayidan. Diana turun, memandang sejenak wajah kekasih barunya yang baru saja memberinya ciuman pertama yang indah. Akhirnya Diana bergegas berjalan ke arah utara menuju rumahnya di Kampung Jagalan.

Bapak dan ibu sambungnya berada di ruang tamu bersama adik-adiknya. Mereka menonton televisi dan adik-adiknya bercanda dengan riang. Diana berharap, alasan yang akan dikemukakan kepada orangtuanya bisa diterima. Kerja kelompokkan tidak bisa dihindari oleh seorang siswa, begitu logika diana.

Begitu langkah kakinya mendekati rumah, Diana berusaha berjalan dengan pelan dan tenang. Ia ingin melakukan sandiwara kehidupan remaja dengan baik. Ia tidak ingin orang rumah curiga, ia ketuk pintu ruang tamu pelan-pelan…bukan ketukan keras! Ia yakin bapak ibunya mendengar ketukan pintu yang pelan itu karena mereka sedang berada tidak jauh dari pintu.

” Bu buka pintu….ada orang mengetuk pintu. Kayaknya ada tamu”

Diana mendengar suara bapaknya yang meminta tolong ibunya untuk membukakan pintu. Tas yang biasa ia selempangkan menyilang di pundaknya, ia angkat ke dada dan ia peluk. Diana tidak tahu kenapa ia melakukan itu. Ia hanya merasa aman dan nyaman ketika buku-buku pelajaran itu ia taruh di dadanya. Diana pasrah apapun yang akan terjadi dan apa yang akan dia terima!

” Diana! Mengapa jam segini baru pulang?”

(Bersambung .By : Wita Lexia..)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*