harmono 22/09/2015

prambanan-2POSKOTA.CO – Sambil bercanda karena bingung soal transportasi ke sekolah, Diana akhirnya bilang ” ohhh….Ajeng naik bajaj ke sekolah dan Asih jalan kaki. Begitu ya? Pantes adik ku yang paling kecil kulitnya gosong….terbakar matahari”

Mereka bertiga tertawa terbahak- bahak atas candaan Diana. Pertemuan antara adik dan kakak yang sangat membahagiakan. Setelah sekian tahun lamanya mereka terpisahkan, sejak kecil……Kadang si adik lupa kalau punya seorang kakak bernama Diana, demikian pula si kakak lupa kalau punya adik Ajeng dan Asih.

” dua-duanya benar mbak, kadang kami naik bajaj tetapi kalau mama sedang kehabisan uang….jalan kaki deh. Sekolahnya nggak gitu jauh kog”

Asih akhirnya buka suara dan kakaknya Ajeng membenarkan pernyataan adiknya. Mereka berdua, Ajeng dan Asih bercerita dengan jujur keadaan mereka. Tetapi hari pertama kakaknya di Jakarta tidak akan mereka nodai dengan informasi yang menyesakkan. Diana juga bercerita kepada adiknya bagaimana ia pergi ke sekolah, jarak sekolah yang juga tidak begitu jauh dari rumah dan sahabat-sahabatnya yang dengan sedih harus Ia tinggalkan.

” enggak apa-apa, kalau perlu kita berjalan kaki saja setiap hari. Nanti uang bajajnya kita tabung atau untuk jajan”

Gelap malam di luar semakin pekat, mamanya belum pulang juga. Dering telpon dari mamanya mengabarkan bahwa ia akan pulang telat dan mungkin tengah malam. Mamanya menganjurkan Diana, adik-adiknya serta Mbak Dewi agar makan malam duluan.

” Mama akan pulang malam, mungkin agak larut malam, ada urusan yang mama tidak bisa tunda”

Selesai makan malam bersama tante dan adik-adiknya, mereka ngobrol sebentar di ruang tamu hingga kantuk datang menyerang semua peserta. Lelah akibat perjalanan dari Yogya ke Jakarta dengan kereta api Senja utama membuat Diana ingin segera berbaring di tempat tidur. Adik-adiknya juga sudah beberapa kali menguap. Tidur adalah solusi yang paling tepat buat semua.

Ada tiga kamar tidur ukuran sedang, dan satu kamar pembantu. Ibunya menempati kamar tidur utama dengan ukuran 4m x 4 m dengan kamar mandi di dalam. Sedang kamar tidur adik-adiknya berukuran sama dengan kamar tidur tamu yang ditempati Diana dan tantenya. Sebuah kamar dengan ukuran standar 3m x 3m dan kamar mandi berada diantara ke dua kamar tersebut.

Tidak ada pembantu, Diana sudah berpikir untuk membantu mamanya seperti waktu ia tinggal bersama bapak dan ibu sambungnya di Yogya. Pasti disini lebih ringan dan enak karena di Jakarta ia tidak perlu menimba air. Artinya ia harus bersih-bersih rumah bersama adik-adiknya dan nyuci baju serta setrika. Ringan karena ia bisa berbagi pekerjaan dengan Ajeng dan Asih.

Denting jam dinding Diana hitung ada sebelas kali, ia belum bisa tidur. Bolak-balik badannya, miring…tengkurap dan terlentang entah sudah berapa kali! Matanya merem tapi ia belum bisa tidur. Hmmmm….ia tarik nafas dalam-dalam dan ia hembuskan pelan, mamanya belum pulang. Diana masih rindu berbincang dengan ibunya. Disampingnya tante Dewi sudah tidur, mungkin juga sudah dibuai mimpi.

Pertanyaan besar ada dalam benak Diana. Kemana mamanya? Ada urusan penting apa hingga larut malam belum pulang? Adik-adiknya belum carita apa-apa….

(Bersambung WITA LEXIA)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*