Djoko Waluyo 20/09/2015

prambananPOSKOTA.CO – Sejenak Diana dan ibunya saling tertegun. Tidak bisa berkata apa-apa dan hanya saling pandang dalam kagum. Mbak Retno tak kalah kagum melihat anaknya, seperti memutar ulang masa mudanya…masa kejayaannya. Hanya saja Diana kulitnya lebih gelap dari dirinya.

Tetapi tinggi langsing rambut indah dada montok….serupa. Diana benar-benar seperti duplikatnya.Diana punya paras yang berbeda dengan adik-adiknya, boleh dikata berbeda jauh. Adik-adiknya lebih condong mirip ke bapaknya. Benar-benar mbak Retno seperti kakak dan Diana adiknya yang manis!

Akhirnya pelukan antara Diana dan ibunya membuat sebuah ledakan tangis. Sekian lama waktu dan tempat memisahkan mereka berdua. Saling kehilangan tetapi tidak pernah berusaha mencari. Entah kehilangan atau menghilang itu sudah tidak penting. Hangatnya mentari pagi dan seekor kupu-kupu yang terbang melintas menjadi saksi pertemuan itu. Mbak Dewi juga menangis menyaksikan drama kehidupan yang membahagiakan.

Setelah pelukan yang cukup ketat itu mengendor lalu lepas semua masuk ke rumah. Diana masih dalam rangkulan ibunya, seolah tak ingin lepas dan tak ingin dipisahkan lagi. Mbak Dewi menyalami kakaknya dan sekilas berciuman pipi lalu mengikuti dari belakang untuk segera masuk ke rumah. Ajeng dan Asih keluar kari kamar begitu mendengar kakak dan tantenya datang. Pelukan dan saling cium kakak beradik itu tak ayal membuat sebuah ledakan tangis kembali.

Kakak beradik ini sebenarnya tidak saling mengenal. Mereka dipisahkan waktu masih kecil-kecil….bahkan Asih masih bayi. Tetapi kesamaan darah yang membuat mereka tergetar oleh sebuah rasa yang sama.

” Mah….Mbak Diana cantik sekali, dia yang paling mirip dengan Mama”

Perkataan Ajeng dan Asih membuat Diana tersenyum walau pipinya masih basah oleh air mata. Pujian adiknya membuat Diana bahagia.

” Ajeng kulitmu lebih putih dari kakak dan Asih sekarang sudah besar….kamu sangat manis”

wita baliDiana membalas pujian adiknya dengan berganti membalas memuji. Ia ingin mrmbuat adiknya senang. Penampilan adiknya keren-keren layaknya remaja ibu kota. Diana tahu, secara finansial adiknya berkecukupan. Ajeng memiliki kulit sangat putih dan bersih seperti ibunya tetapi wajahnya seratus persen wajah bapaknya. Sementara wajah Asih canpuran bapak dan mamanya tetapi kulitnya seratus persen kulit bapaknya….sawo matang alias coklat cenderung hitam

Keadaan mama dan adik-adiknya semua baik-baik saja. Lalu apa maksud umpatan bapaknya setiap marah kepada Diana tentang ibunya?

” Kamu mau jadi seperti ibumu?”

Kata yang kembali terngiang saat ia sedang berbahagia bisa bertemu dengan mamanya yang cantik dan adik-adiknya! Bapaknya mungkin iri dengan mamanya sehingga berkata seperti itu. Atau…Bapaknya terlalu sederhana untuk ibunya yang cantik dan kinclong seperti ini? Pikiran Diana terombang-ambing, tapi….kenapa eyang juga memutus sebuah cerita tentang ibunya?
Eyang putrinya membuat teka-teki yang Diana juga tidak mengerti apa maksudnya, hingga kakinya menginjak rumah mamanya saat ini. Ada apa ini sebenarnya? Mengapa aku harus mencari jawaban ini sendiri?

” Din ….kita harus segera mencari sekolah untuk kamu. Hari senin kita mengurus sekolah dan semua keperluan mu. Mama lebih suka kamu satu sekolah dengan adik-adik mu agar mudah segala sesuatunya.”

” Diana nurut mama saja, lagi pula berangkatnya bisa bareng adik kalau satu sekolah”

Jawaban manis dari Diana untuk mamanya. Rasanya tak percaya sekarang ini ia punya mama yang bisa memeluknya setiap saat. Hari Minggu yang indah dan cukup cerah. Tetapi kog ada yang kurang ya, kemana ayah tiri yang di ceritakan oleh eyangnys? Diana tak mungkin bertanya. Dia sedang ingin menikmati kebahagiaan yang sedang ia rasakan. Cukup lama ia menanti semua ini!

Meskipun perhatian mamanya pagi ini lebih banyak untuk Diana tetapi sebentar-sebentar mamanya menjawab telpon ….sering sekali telpon masuk untuk mamanya.  (Bersambung WITA…..)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*