taher 13/09/2015

prambanan-2POSKOTA.CO – Hujan sempat reda sebentar mengantar Eyang Praja masuk ke peraduan. Tetapi hujan datang kembali titiknya membuat melodi pengiring lelap seluruh penghuni rumah. Alam sedang mencipta selimut dingin untuk manusia, suasana itu menambah ringkuk tidur mereka menjadi nyenyak di balik kelambu putih.

Nyaris seluruh penghuni rumah bangun kesiangan. Mbok Wongso sebenarnya sudah bangun beberapa saat yang lalu tetapi ia menunggu Eyang Praja keluar dari kamar. Dia ingin memasak bubur untuk momongannya tetapi ia tidak mau lancang. Mbok Wongso cukup tahu diri, dia saat ini tinggal di rumah orang. Pikirannya sederhana, Diana masih membutuhkan bubur untuk makan. Bekas luka dibibirnya sudah membaik tapi ada beberapa sariawan yang muncul di mulutnya.

” simbok yg buatkan Diana bubur ya mbok. Saya akan menyiapkan sarapan dan minuman untuk kita. Mbak Dewi kalau pagi biasanya sibuk beres-beres rumah mbok”

Meskipun agak kagok, Mbok Wongso melakukan yang diminta Eyang Praja dengan senang hati. Dapur dan peralatan yang bagus-bagus membuat Mbok Wongso kikuk untuk memasak. Sebentar-sebentar ia bertanya karena tidak tahu dimana garam dan bumbu dapur serta peralatan yang diperlukan.

Matahari sudah mulai muncul dari persembunyiannya ketika Diana bangun. Diana menghampiri eyang dan Mbok Wongso di dapur. Dia terbiasa bekerja di rumah, saat ini Diana merasa sudah sembuh dan baik-baik saja. Sejak kecil ia tidak pernah manja karena memang tidak pernah ada yang memanjakannya. Diana bertanya kepada eyangnya dan menawarkan bantuan.

” Eyang…apa yang bisa Diana bantu?”

Eyang Praja menganjurkan agar Diana Istirahat dahulu agar cepat pulih, ia tidak ingin cucunya membantunya karena sudah ada mbok Wongso. Wanita yang sudah cukup sepuh ini “trenyuh” ( iba) melihat kondisi cucunya. Ia membayangkan betapa keras tamparan dan pukulan yang diterima Diana.

“pagi ini kamu tidak usah membantu Eyang ya Woek (woek: panggilan sayang untuk anak perempuan). Atau kamu mandi saja dulu biar segar ketika sarapan nanti, ada shampo di kamar mandi woek. Mandi dan Keramaslah biar segar…. rambutmu wangi dan tidak kusut”

Diana menuruti apa yang eyangnya katakan. Sejak kejadian malam itu ia belum mandi seperti biasanya dan hanya dilap-lap oleh Mbok Wongso. Rambutnya yang biasa ia keramasi setiap hari selama sakit bekum pernah Ia keramasi. Rambutnya cukup kusut dan baunya tidak enak.

Setelah acara sarapan selesai dan Eyang Praja sudah rampung mandi, dihampirinya cucunya yang cantik dan sedang duduk di ruang tamu. Ia melihat paras anaknya Retno ada di wajah Diana. Ada sebersit kerinduan mendera perasaannya, desir rindu itu menyayat hatinya. Kenapa anak kesayangannya justru selalu melangkah pada garis miring? Garis yang seharusnya tidak Retno lalui!

” Diana…bagaimana luka-luka mu? Sudah enakan belum? Eyang lihat masih ada bengkak dan lebam-lebam disana-sini. Bagaimana kalau kita ke dokter langganan eyang saja sore ini?”

” Luka dan lebam ini sudah jauh lebih baik kog Yang…..Obat-obatan dari dokter Puskesmas masih ada. Jadi tidak perlu ke dokter lagi.”

Eyang Praja duduk di samping Diana, ia ingin berbincang dan mendengarkan cerita yang komplit dari mulut Diana semdiri. Angin semilir menyertai perbincangan siang itu. Sambil sesekali ia elus rambut cucunya….ia dengarkan drama penganiayaan yang menggegerkan kampung jagalan. Eyang Praja juga mendengarkan cerita kehidupan sehari-hari yang harus dilakoni cucunya.

Air matanya meleleh ketika sepiring sarapan Diana harus dibayar dengan kerja keras. Tante Dewi yang ikut duduk disitu juga tak kuasa membendung air yang keluar dari matanya. Mulut Eyang Praja terkatup rapat, rasanya ia ingin marah….marah kepada Retno dan bapaknya Diana. Cucunya harus menerima derita yang tidak ringan karena polah ke dua orang tuanya.

Mau tidak mau Eyang Praja harus ambil nafas dalam-dalam. Dia juga harus mengatakan hal yang tidak mengenakkan kepada Diana! Nanti biarlah Diana yang menentukan pilihan hidupnya sendiri. Cucunya tetap harus dipertemukan dengan ibunya dan biar Diana sendiri nanti yang memilih. Bagi Eyang Praja yang terpenting Diana tahu, ia punya seorang eyang yang siap memberinya pelukan yang hangat.

(Bersambung.By : Wita Lexia..)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*