taher 11/09/2015

prambananPOSKOTA.CO – Wedang jahe panas menemani Eyang Praja dalam duduknya. Cangkir blirik (cangkir corak loreng) ia pegangi untuk menghangatkan tangannya. Sesekali ia sruput wedang jahenya kala angannya ia hentikan melanglang. Malam kiat pekat dan hujan belum reda, masih samar terdengar bunyi tik tik tik waktu air hujan menyentuh tanah. Ia masih ingin sendiri berteman malam dan rintik hujan, berpikir tentang Hidup cucunya yang baru saja ditemukan.

Persoalan menjadi lebih mudah dan Eyang Praja akan bahagia kalau cucunya yang cantik itu mau tinggal bersamanya. Rumahnya terlalu besar dan sepi untuk ditinggali hanya berdua dengan Mbak Dewi anak bungsunya. Sedang Mas Pur anaknya yang pertama belum tentu pulang setahun sekali. Anak sulungnya bekerja dan menetap di Balikpapan Kalimantan.

Dari mana Eyang Praja akan bercerita tentang Mbak Retno ibu kandung Diana, jika cucunya bersikeras ingin bertemu dan ingin tinggal bersama ibunya. Mbak Retno anak kesayangannya jauh dari jangkauannya, kini bahkan semakin jauh….hidup Mbak Retno jauh dari tatanan yang ia anut. Tapi bagaimana mengatakan kepada Diana? Tidak mungkin ia melarang seorang anak untuk bertemu ibu kandungnya.

Eyang Praja tahu alamat Mbak Retno dan dimana ia tinggal. Tidak terlalu sulit mengantarkan Diana ke rumah ibu kandungnya. Justru bagaimana mempersiapkan mental Diana agat tidak kecewa melihat kenyataan hidup, ini bagian yang tidak mudah. Semua harus dipikir dengan tenang dan Eyang Praja harus bijak dalam mensikapi masalah cucunya.

Tapak kaki hidup yang ditempuh anaknya membuat Ia ingin diam….tak ingin bicara apa-apa lagi! Luka dan kecewa lama Eyang Praja adalah ketika anak kesayangannya Mbak Retno, menikah beda agama, hamil….lalu lari…. Itu sudah membuat dirinya dan suaminya almarhum sakit dan menanggung malu. Kepalanya susah ditegakkan dan harus selalu merunduk malu….

Luka masih menganga, perih masih terasa pedih, ketika pada suatu hari yang panas terik dan daun-daun di kebunnya mengering, Mbak Retno anak kesayangannya mengabarkan dirinya bercerai dengan suaminya. Eyang Praja berpikir perceraian itu akan membuat hubungan mereka membaik. Hubungan yang dingin antara ibu dan anak akan menjadi hangat kembali!

Harapan yang sempat muncul seperti matahari terbit di ufuk timur, segera tenggelam dalam cakrawala berwarna jingga. Anaknya membuat sebuah keputusan dalam gegabah menurut pikuran orangtua. Langkah hidup mbak Retno menyimpang jauh…..anak yang ia sayangi mengabarkan dirinya telah menikah kembali dan menjadi istri ke dua dari seorang laki-laki….

Kaki Eyang Praja menjadi lemas seperti tanpa tulang. Eyang Praja lunglai dan hanya bisa mengelus dada mendengar lankah hidup anaknya. Istri ke dua atau istri simpanan, kata-kata itu semakin membuat dukanya bertambah panjang….dan mulutnya terkunci tak ingin bicara apa-apa lagi tentang Mbak Retno!

Pelan-pelan, bersama hujan yang mulai mereda Eyang Praja menyusun rencana dan kata. Malam kian merangkak menemui pagi, dinginnya udara psgi mengigit kulitnya yang menembus melalui kebayanya yang terbuat dari kain katun. Ia masuk ke peraduannya, hendak mengistirahatkan pikir dan raganya yang lelah. (Bersambung..By : Wita Lexia)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*