taher 09/09/2015

POSKOTA.CO – Eyang Praja merengkuh tubuh yang babak belur itu dalam iba. Diana adalah darah dagingnya sendiri, melihat keadaan cucunya ia lupa persoalan yang menghalangi hubungannya selama ini. Persoalan antara bapak/ibu Diana dengan dirinya. Jurang pemisah itu menganga dan dalam. Sebagai orang tua Ia pedih, kecewa sekaligus malu ketika anak kesayangannya Retno menikah dengan Priambodo ….ayah Diana. Aib di tabur dalam hidup dan ketenangannya oleh anak kesayangannya.

Anak kesayangannya Retno yang cantik, hamil….lari dan menikah dengan Priambodo tanpa restunya. Tak ada janur melengkung di rumahnya, tak ada sungkem tanda bekti (bakti) dan pamitan seorang anak yang mau mengarungi bahtera rumah tangga. Eyang Praja ditinggal anak kesayangannya dalam pilu dan malu.

Senyum manja Wita penulis kisah
Senyum manja Wita penulis kisah

Suami eyang Praja sakit-sakitan dan akhirnya meninggal memikirkan anak perempuannya yang menghilang. Jantungnya kalah dengan lelakon hidup yang harus ia hadapi! Ayah mana yang tidak pedih? Ayah mana yang tidak teraduk-aduk perasaannya ketika anak perempuanya minggat lalu menghilang bak ditelan bumi.

Air mata membasahi kulit wajah Eyang Praja yang sudah penuh dengan garis-garis pertanda ketuaan. Ia lepas kaca mata plusnya yang menghangi ciumannya untuk Diana. Luluh……semua amarah dan kecewanya yang ia pendam dan sembunyikan di sudut kecil hatinya.

” eyang…sakit eyang….”

Diana merintih kesakitan ketika pelukan eyangnya menghimpitnya terlalu kencang. Menghimpir sisa-sisa memar dan lebam. Di satu sisi, kerinduan Eyang Praja kepada Retno terlampiaskan ketika ia bisa memeluk cucunya ini. Seperti es yang mencair… dan sejuk menjalar dalam rasa. Hatinya yang mengeras selama ini lumer oleh Diana dalam cerita kehidupan yang harus ditanggungnya.

” mbok Wongso dan Pak Rt, matur nuwun (terimakasih), anda dan masyarakat Kampung Jagalan sudah menyelamatkan cucu saya dan Mbok Wongso sudah merawatnya dengan sangat baik”

Eyang Praja berbicara untuk berucap terimakasih kepada Pak Rt dan Mbok Wongso yang telah mengantarkan cucunya ke rumahnya. Priyayi sepuh ini mengucapkan terimakasih dalam haru dan air mata yang terus bergulir….Bulik ( tante) Dewi menyaksikan semua kejadian dalam diam dan juga tangis yang tak kuasa ia redam. Diana adalah keponakannya, tak bisa diingkari walau kekesalan kepada mbakyunya juga menyambangi penggalan jalan kehidupannya.

Pak Rt menceritakan kejadian yang menimpa Diana kepada Eyang Praja dan Mbak Dewi, beliau juga bercerita tentang kebaikan dan cinta seorang Mbok Wongso dalam merawat Diana. Pak Rt lega Diana tidak mau pulang ke rumah bapaknya tetapi berada di tangan yang aman yaitu eyangnya.

Sebagai kepala kampung ia sudah merampungkan persoalan keluarga ini dengan baik. Seterusnya ia serahkan semua persoalan keluarga ini kepada Eyang Praja untuk diselesaikan. Pak Rt tahu batas-batas kewenanganya sebagai ketua di kampungnya.

Mana yang harus ia kerjakan dan rampungkan dan mana yang harus ia serahkan kembali kepada keluarga atas kemauan Diana yang tidak mau pulang ke rumah bapaknya. Setelah dirasa cukup, Pak Rt pamit pulang kepada Eyang Praja.

” Terimakasih Pak Rt, sekali lagi saya mengucapkan terima kasih atas semua bantuan untuk cucu saya. Sampaikan salam dan terimakasih saya kepada warga Jagalan ya”

Namun Eyang Praja menahan kepulangan Mbok Wongso. Ia ingin mengucapkan terimakasih secara khusus dan spesial kepada orang yang telah merawat dan memberi cinta kepada Diana selama ini.
Mbok Wongso tentu lebih tahu bagaimana Diana dibanding dirinya…..yang hampir-hampir tidak mengenal cucunya sendiri.

” mbok jangan pulang dulu ya, tidur saja disini dan bantu aku merawat Diana momongan mu”By : Wita Lexia

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*