Djoko Waluyo 01/09/2015
Senyum manja Wita penulis kisah
Senyum manja Wita penulis kisah

POSKOTA.CO – Mbok Wongso yang terbiasa bangun pagi, tak perlu jam wekker untuk membangunkannya. Cukup dengan mengucap niat sebelum tidur dan menyuruh raganya bangun sesuai jam yang diinginkan, ia akan terbangun dengan sendirinya! Ini ilmu turun temurun yang Mbok Wongso percayai dan praktekkan hingga kini.

Sebelum matahari menyapa hari wanita tua ini memulai rutinitasnya. Ia berencana membuat bubur untuk Diana. Berharap bubur dan minuman teh hangat sudah rampung sebelum Diana bangun. Mbok Wongso bekerja dengan tenang dan berusaha tidak menimbulkan bunyi agar Diana tidak terbangun.

Setelah mengurus makan dan luka-luka lebam Diana, Mbok Wongso berencana akan pergi ke rumah Pak RT. Simbok tua ini ingin meminta tolong Pak RT mengambilkan baju ganti serta handuk di rumah Bapaknya Diana. Dia berharap bapak dan ibu sambung Diana segan kepada pak RT. Maklum….Diana masih memakai seragam sekolah sewaktu peristiwa pemukulan itu terjadi. Seragam sekolah bawahan coklat atasan kemeja putih itu sudah tidak karu-karuhan warnanya karena ada bercak darah disana – sini.

Meski Mbok Wongso hanya tetangga dekat namun dia merasa bertanggung Jawab atas kesembuhan Diana. Nanti dia juga akan bercerita kepada Pak RT tentang keberadaan Eyang putrinya Diana. Ini ia lakukan jika Diana memang ngotot tidak mau pulang ke rumah bapaknya.

Matahari sudah muncul dan membuat gubug reotnya cukup terang. Sinar matahari membelah Daun-daun bambu yang berada di samping kanan rumahnya. Geliat pagi para tetangga sudah di mulai. Para ibu sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya.

Diana masih terlihat pulas dalam tidurnya, nafasnya teratur, dadanya bergerak lembut naik dan turun. Mbok Wongso lega Diana bisa tidur dibiliknya yang sederhana dan keras. Kasurnya yang terbuat dari kapuk sudah tua dan agak kumal. Ia memang jarang menjemurnya karena kasur itu cukup berat untuk diangkatnya sendiri. Mbok Wongso akan membiarkan Diana tidur dan tidak akan membangunnya untuk sarapan. Biarlah Diana istirahat sampai bangun dengan sendirinya.

Pelan-pelan Mbok Wongso keluar rumah, dia berharap derit pintu rumahnya tidak membuat Diana terbangun. Dibukanya pintu yang terbuat dari triplek tanpa cat itu dan ia menutupnya kembali dengan sangat hati-hati.
Bergegas ia ke rumah Pak RT, dalam hati dia meminta kepada Gusti Allahnya agar tidak bertemu bapak atau ibu sambung Diana di jalanan yang harus dia lalui.

” Pak RT….ini Mbok Wongso ”

Di ketuknya pintu rumah Pak RT, bel yang berada di pintu tidak berhasil ia jangkau karena tubuh tua Mbok Wongso cukup pendek dan agak bungkuk punggungnya. Sekali lagi ia mengetuk pintu. ” Pak RT….kula nuwun ( permisi) ini Mbok Wongso”

Bu RT yang keluar rumah dan membukakan pintu. Mempersilakan Mbok Wongso masuk dan duduk di ruang tamu yang mewah untuk ukuran Mbok Wongso. Bu RT memberi tahu Mbok Wongso kalau suaminya sedang mandi lalu menanyakan kondisi Diana.

” Bagaimana keadaan Diana Mbok?”

Mbok Wongso bicara kepada bu RT dengan sedikit terburu-buru. Ia bilang kepada Bu RT tidak bisa meninggalkan Diana lama-lama di Rumah. Ia khawatir kalau Diana bangun pasti mencarinya. Mbok Wongso mengutarakan bahwa ia membutuhkan baju ganti untuk Diana juga handuk. Di rumahnya tak ada pakaian yang bisa dipakai Diana karena sehari-hari Mbok Wongso mengenakan “jarik dan kebaya serta setagen ”

” Diana butuh baju ganti dan obat anti sakit bu RT”

Bu RT kasihan melihat kerepotan Mbok Wongso, akhirnya beliau berinisiatif mengambil baju anak gadisnyanya yang seukuran dengan Diana serta handuk bersih.
Bu RT berjanji menyampaikan semua kebutuhan Diana kepada Suaminya setelah rampung mandi.

” Mbok…nanti saya dan bapak yang akan ke rumah Mbok Wongso ya. Sekarang Mbok Wongso pulang dulu agar Diana tidak mencari cari”

Mbok wongso buru-buru pulang setelah mengucap salam dan terimakasih kepada Bu RT yang baik hati. Dibawanya bungkusan plastik berisi baju, handuk serta perlengkapan mandi untuk Diana. Dia kempit di ketiaknya bungkusan itu sembari pamit.

” mbok…mbok Wongso…jangan tinggalin Diana Mbok. Aku gak mau pulang ke rumah mbok”

Mbok Wongso melihat Diana bicara sendiri setibanya di depan pintu rumahnya. Ternyata momongan yang dia “tresnani” (cintai) sudah bangun dari tidurnya. Ia memberi saran kepada Diana untuk tetap berbaring dahulu di tempat tidur dan tidak banyak bergerak!

“Mbok…Diana pengin pipis”

Wanita tua ini akhirnya mendapat akal, ia ambil ember kosong yang jarang dipakai lalu di taruh di samping bilik bambunya dan Diana ia suruh pipis disitu saja. Kamar mandi serta sumur timba Mbok Wongso semua berada di luar rumah. Tepatnya di belakang dapur rumahnya. Tidak mungkin kondisi Diana untuk berjalan sejauh itu saat ini.
(Bersambung….)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*