taher 27/07/2015

POSKOTA.CO – Mas Bayu dengan diriku bak bumi dan langit, kami berdua berbeda dalam segala perkara. Ini yang sebenarnya membuatku agak ragu menerima cintanya. Pacarku Mas Bayu adalah, priyayi atau berdarah biru, anak orang kaya dan mereka adalah dari keluarga terhormat.

Bapaknya adalah pemilik dari media cetak terbesar dan tertua di kota Yogya. Kaya raya dan seluruh penduduk kota gudeg ini tahu siapa keluarga itu. Keluarga yang sangat disegani serta terpandang.

Mas Bayu juga masih ningrat alias keluarga priyayi. Darah biru yang masih kental warna birunya dimana kehalusan berbicara, tindak tanduk serta budi pekerti dijunjung tinggi di keluarga itu.
prambanan
Aku?
Diana?
Siapa?

Rumahku di pinggir Kali Code, sebuah lembah di kota yogya yang semua orang tahu kesederhanaan penghuninya. Aku tidak mau bilang rumah tempat tinggal ku kumuh. Kami penduduk Lembah Code bersama Romo Mangun membangun atau menciptakan sebuah ruang yang cukup bersih dan berseni di pinggir kali.

Kami penduduk pinggir kali berusaha menata hunian atau tempat tinggal dengan baik. Tidak membuang sampah di kali serta menjaga kebersihan dan keasrian kali. Kumuhnya dan kotornya kali coba dihilangkan oleh Romo Mangun bekerja sama dengan masyarakat sekitar dengan menata ruang dan mental. Kampung yang menjadi proyek percontohan dan disorot di negeri ini.

Bibit bebet bobot yang melekat baik dalam diri Mas Bayu tidak ada semua didalam diriku. Orang tuaku berpisah ketika aku masih kecil dan belum mengerti apa itu perceraian. Yah.. .aku dari keluarga broken home, sebuah status yang akan dicibir banyak orang. Bapak Ku pegawai negeri rendahan, golongannya tidak perlu aku tulis karena justru akan membuatku lebih malu.

Otomatis bapak Ku adalah orang yang hanya berpendidikan minimalis. Lulusan SMA dan bukan Sarjana seperti keluarga pacarku. Itulah yang menyebabkan pangkat atau golongan kepegawaiannya tetap rendah walau sudah bertahun menjadi pegawai negeri.

Darahku darah merah, darah rakyat lembah Kali Code. Sebuah kali yang membelah Kota Yogya selain Kali Winongo. Bayu dan Diana dua insan manusia yang benar-benar berbeda jika dilihat dari bibit, bebet dan bobot!

Aku membonceng sepeda motor Mas Bayu yang kinclong dan keluaran tahun terbaru. Di sekolah Budi Luhur siswanya tidak di perbolehkan membawa mobil. Anak orang kaya di sekolahku akan terlihat dari motor yang dipakai, sepatu serta tas.

Kadang ada juga anak-anak yang mencuri-curi membawa mobil ke sekolah. Biasanya mobil itu akan di parkir di halaman Aula di belakang Gereja Bintaran. Di situ biasa terpakir juga mobil kepala sekolah dan mobil tua guru olah raga kami Pak Gagak.

” Diana kita makan bakso dulu sebelum aku mengantarmu pulang ke rumah ya”

Aku tentu mengangguk dan sangat senang dengan ajakannya. Ini berarti perbaikan gizi bagiku. Traktiran Mas Bayu membuat aku terlonjak karena membayangkan….aku bisa menggigit dan mengunyah daging yang hampir tidak pernah aku jumpai di meja makan rumahku. Aku bahkan hanya dapat jatah makan jika aku sudah menimba air! (Bersambung.By: Wita Lexia )

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*