Djoko Waluyo 03/11/2015

Matahari tak pernah ingkar janji
Dia datang temui dan mencumbui hari
Lembut hangat garang lalu mengalah pergi
Dia pergi untuk esok datang lagi!

walhi1POSKOTA.CO – Masih dingin dan masih sedikit gelap. Ssmburat jingga masih samar sekali di ufuk timur. Kakak beradik yang kompak ini duduk di tepi pantai sambil memeluk dirinya masing-masing. Menunggu tetapi tidak jemu, menunggu yang membuat mereka jatuh bahagia.

Diana melipatkan tangannya di dada, merapatkan baju hangatnya karna angin pagi bertiup cukup kencang. Ada setangkup syukur ia kabarkan kepada Bapanya atas sebuah kebersamaan keluarganya. Cinta yang telah ia tanam di ladang hatinya, ia pupuk dalam damai…..cinta kepada Bapanya yang tak bersyarat!

Diana memang meminta kepada Bapanya agar mamanya mau memeluknya dalam hangatnya cinta. Tetapi apapun keadaan mamanya bukan itu alasannya berdamai dengan Sang Pencipta. Diana ingin mencintai Bapanya utuh, ini jalinan pribadi yang coba ia mesrai dari hati….nya.

Meniupkan debu-debu amarah dan kecewa yang membalut luka pada batin Diana. Amarah kepada kehidupan dan Sang Pemberi hidup. Membuatkan alasan-alasan ala manusia, ia balurkan itu di hatinya, hingga dirinya nampak benar semua…..Diana merenungkan kekeliruannya bersama Alam Semesta.

Diana reguk segarnya udara pagi sepuas-puasnya. Ia hembuskan perlahan sambil tatapannya tak lepas dari batas maya antara laut dan langit. Ia senderkan sedikit ke kiri kepalanya ke batang pohon yang ada di dekatnya. Ia takjub akan keindahan paginya. Ia berucap syukur atas kebahagiaan yang sedang dia rasa.

Masih sepi, masih hening dan hanya ada suara kecipak ombak hampiri kaki-kaki mereka. Dikejahuan ada kerlap-kerlip lampu dari perahu-perahu nelayan, ini sebuah keindahan tersendiri bagi yang tahu cara memaknainya. Suara ombak yang pecah ketika menerpa batu karang di sekitar….atau suaranya yang tinggal kecipak lirih ketika sampai di bibir pantai

Sesekali Ajeng dan Asih meninggalkan kakaknya duduk sendiri. Berdua kakak beradik itu menyusuri pantai dengan kaki telanjang mereka. Bercanda…tertawa dan berbincang tentang angan remaja. Tetapi mata mereka bertiga tak pernah lepas dari sumber warna jingga yang pelan-pelan merekah…menyembul dari dalam laut nampaknya.

” Kak ayo kesini, berjalan-jalan sambil mencari kerang”

” iya…nanti kakak nyusul kesitu. Kakak masih ingin menikmati pagi sambil duduk disini”

“Ahh…kakak sedang mikirin pacar ya?”

Hahaha….ajeng menggoda kakaknya sambil lari menjauh. Beberapa penghuni Vila sudah mulai banyak yang keluar dan berjalan di pantai yang berpasir putih dan bersih.. Semua menunggu datangnya Sang empunya sinar.

” Hai jangan melamun, Mama Retno menepuk pundak Diana dari Belakang”

(Bersambung.By : Wita Lexia
..)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*