Djoko Waluyo 02/08/2015

prambananPOSKOTA.CO – Diana sudah lapar sekali dan ia membayangkan mulutnya bakal mengunyah daging yang kenyal. Aroma kuah bakso rasanya sudah ada di depan hidungnya. Ia lupa walau juga tak hirau, kapan terakhir ia memakan bakso dan dimana.

.” Mas Bayu Aku nurut saja deh….perutku sudah menyanyi lagu dangdut nih. Nanti baksonya aku mau dua mangkok yaaaa….”

Diana berbicara dengan riang dan melodi yang rapat. Lincah serta penggembira pembawaannya dimanapun ia berada. Keadaan di rumah juga lelakon hidup yang Ia lakoni berhasil Diana perankan dengan baik! Begitu kakinya keluar dari pintu rumah sosok yang Ia hadirkan kepada penonton adalah remaja ceria seperti yang lain.

Seragam sekolah membuat dirinya tidak nampak berasal dari keluarga seperti apa. Yang miskin dan kaya semua mengenakan baju warna coklat muda khas Sekolah Budi Luhur. Ini yang menolong Diana menjadi sama dengan teman-teman lainnya. Hanya bila pemerhati teliti saja yang bisa tahu status sosial masing-masing siswa.

Uang sekolah di Budi Luhur salah satu Indikator keadaan ekonomi masing-masing siswa. Sekolah Katolik Budi Luhur memberlakukan subsidi silang dalam hal uang sekolah. Si kaya akan dikenakan uang sekolah yang lebih tinggi dari yang keadaan ekonominya sederhana. Uang sekolah dan uang pangkal atau uang gedung ditentukan melalui sebuah wawancara.

Tetapi dunia remaja tidak tertarik membicarakan tinggi rendahnya uang sekolah dan uang pangkal ketika masuk. Topik seperti Itu adalah topik pembicaraan ibu-ibu rumpi. Memang perbedaan status sosial tidak bisa dihilangkan sama sekali di area sekolah. Kendaraan/alat transportasi, sepatu dan tas serta alat sekolahlah yang akan lirih bicara tentang keadaan ekonomi siswa…

Seragam sekolah membuat Diana percaya diri dan riang dalam masanya. Sekolah adalah tempat yang menyenangkan dimana untuk beberapa jam ia terbebas dari pekerjaan rumah, amarah bapak/ ibu sambungnya, rengekan adik-adiknya dan suasana tidak menyenangkan lainnya. Diana lupa sejenak siapa dirinya ketika Ia di sekolah.

Seragam selalu Ia setrika dengan rapi serta licin. Sepatu kets hitam merek Bata serta kaos kaki putih dengan tas slempang dari kain sudah cukup membuatnya menjadi gadis normal serta modis. Rambut Diana yang indah sebahu mengikuti mode yang sedang berlaku. Rambut ala Iis Sugianto menjadi panutan remaja saat itu, sebahu belah tengah, poni yg di sibak, bagian samping rambut sedikit oval namun rata di bagian belakang.

Diana berjalan kaki dari rumahnya di kampung Jagalan Beji ke Bintaran Kidul karena jaraknya memang cukup dekat. Hal ini juga hal normal dan teman-temannya banyak yang seperti ini. Ramai-ramai berjalan kaki ke sekolah juga menjadi hal yang menyenangkan buatnya. Tertawa, bercanda serta pamer rambut indahnya….

” Kamu boleh makan bakso 5 mangkok Diana. ES telernya 3 gelas jika perutmu muat”

prambanan 2Bayu berkata sambil matanya mengerling kepada kekasih yang baru ia dapatkan. Ia panahkan asmaranya kepada Diana melaui sebuah surat cinta yang Ia titipkan kepada Susi sahabat Diana. Ini setelah ia berburu selama 1,5 bulan. Sejak awal tahun ajaran baru dimulai di bulan Juli. Aroma cinta masih semerbak mewangi. Goyangan payudara Diana yang montok masih belum ia lupa dan berasa di punggungnya. Hmmm….kapan aku bisa mencium bibir tipis yang manis diatas gigi putih yang berbaris rapi ini ya?

” Mas Bayu, perutku muat 2 mangkok bakso dan segelas es teler kok. Kalau 5 mangkok nanti perut Ku ” njeblug” lhooooo”

Diana tertawa terbahak setelah berkata, Ia benar-benar ingin memakan 2 mangkok bakso serta segelas es teler. Dalam pikirnya itu bukan sebuah canda, ia benar-benar menginginkan gelinding-gelinding daging bakso yang cukup banyak….mampir diantara gerigi giginya. Mereka berbincang dengan riang sambil menikmati hangatnya kuah bakso dan daging tetelan yg cukup banyak serta pedasnya sambal!

Diana menghentikan sendokan baksonya ketika Bayu tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuat tercekat. Ini cekat melayang yang membuat terbang di awang-awang. Tangan bayu yang sering mengelus tamgannya membuat getarannya semakin tinggi ketika sebuah ajakan terlontar dari mulut kekasihnya.

” Setelah makan bakso kita jalan-jalan sebentar yuk….” (Bersambung..By: Wita Lexia )

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*