harmono 19/07/2016

POSKOTA.CO – Preeklampsia merupakan salah satu kondisi berbahaya yang bisa terjadi pada setiap ibu hamil (bumil). Sayangnya sampai saat ini belum ada cara pasti untuk mencegahnya secara efektif.

Demikian disampaikan Dr dr Didi Danukusumo SpOG(K), di sela-sela sidang promosi doktornya yang diadakan di Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba Raya, Jakarta Pusat, Selasa (19/7). Didi mengungkapkan, preeklampsia memang benar bisa terjadi pada siapa saja dan belum ada cara pencegahan efektifnya.

Menurut Didi, kematian ibu saat melahirkan biasanya disebabkan oleh tiga faktor yakni, perdarahan, preeklampsia dan infeksi. Jika infeksi dikatakan saat ini angka kejadiannya sudah berkurang, dan perdarahan sudah banyak kiat pencegahannya, maka tidak bagi preeklampsia. “Preeklampsia itu penyebabnya kan gangguan penanaman ari-ari dalam rahim, yang bisa disebabkan oleh faktor genetik, infeksi, serta inflamasi atau peradangan. Sehingga salah satu pencegahannya salah satunya adalah yang terkait dengan Annexin V,” imbuh dokter yang praktik di RSAB Harapan Kita Jakarta tersebut.

Annexin V merupakan pembekuan darah yang terjadi di ari-ari. Penelitian sebelumnya pada plasenta pasien dengan preeklampsia menunjukkan adanya penurunan Annexin V. Terkait gangguan pembekuan darah, jika saat diperiksa ditemukan ada resistensi arteri, maka dokter biasanya akan memberikan aspirin dosis rendah, meskipun penelitian bermaknanya secara statistik belum diselesaikan. “Jadi pencegahan yang seperti ‘kalau mau cegah diare maka rajin cuci tangan’ itu untuk preeklampsia belum ada. Yang ada hanya pencegahan sekunder. Jadi kalau sudah ada preeklampsia ringan atau tanda-tanda awal, lalu ditangani secara cepat untuk mencegah berlanjut lebih parah,” ujar dr Didi.

Beberapa waktu lalu dokter spesialis kebidanan dan kandungan Divisi Fetomaternal RSU Dr Soetomo Surabaya dan RS Pendidikan Universitas Airlangga, dr Khanisyah Erza Gumilar SpOG, juga mengungkapkan, setiap wanita berisiko mengalami preeklampsia saat hamil. Oleh sebab itu, cek tekanan darah menjadi hal yang wajib dilakukan setiap kali kontrol ke dokter. “Caranya adalah dengan mengenali faktor risiko preeklampsia. Pengukuran tensi tentunya rutin diperiksa setiap kontrol hamil. Dari hal tersebut kita dapat mengetahui bila ada perubahan tensi,” tutur dr Erza.

Ia melanjutkan, selain cara tersebut, skrining dengan menggunakan Doppler velosimetri melalui ultrasonografi atau USG pada arteri uterina juga wajib dilakukan, terutama bagi wanita yang hamil dengan risiko tinggi preeklampsia.

Didiagnosis Preeklampsia
Ketika dokter kandungan sudah mendiagnosis ibu hamil dengan preeklampsia, ada beberapa hal yang perlu diketahui dan tak boleh diabaikan. Apa saja?

“Yang pasti, pasien preeklampsia dan keluarganya wajib mendapatkan edukasi, informasi dan konseling tentang preeklampsia secara lengkap dan detail dari dokter. Jangan ragu juga untuk aktif bertanya,” ujar dokter spesialis kebidanan dan kandungan Divisi Fetomaternal RSU Dr Soetomo Surabaya dan RS Pendidikan Universitas Airlangga, dr Khanisyah Erza Gumilar SpOG.

Erza Gumilar menuturkan, pasien perlu memahami bahwa preeklampsia bukan kondisi yang wajar dan bisa dianggap sepele. Sebaliknya, preeklampsia justru bersifat progresif alias kondisinya dapat memburuk seiring pertambahan usia kandungan.

Untuk diet, dianjurkan ibu hamil dengan preeklampsia menjauhi asupan-asupan yang mengandung tinggi garam. Ini karena makanan dengan kandungan tinggi garam dapat meningkatkan tekanan darah.

Sementara untuk aktivitas, sebisa mungkin sebaiknya ibu hamil dengan preeklampsia membatasi aktivitas. Jangan terlalu lelah dan memaksakan diri melakukan aktivitas sehari-hari terlalu berat. “Mereka juga perlu tahu apa saja bahaya komplikasi dari preeklampsia. Jangan lupa untuk rutin kontrol untuk evaluasi kondisi ibu dan janin. Yang tak kalah penting, perhatikan kemudahan akses rumah sakit dari tempat tinggal pasien,” pesan dr Erza. (*)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :