taher 18/03/2015

malak adPOSKOTA.CO – Sebuah perlakukan keji dan biadab. Seorang anggota polisi yang menegur ulah geng motor di Cirebon dikeroyok, lalu ditelanjangi dibawa keliling kota. Kebrutalan diluar nalar ini terjadi di kota besar yang nota bene dimana tempat banyak ditemui aparat keamanan. Tapi kenapa terjadi?

Insiden yang membidik anggota polisi marak terjadi di tanah air. Korps Bhayangkara dulu disegani masyarakat kini menjadi pelampiasan aksi brutal dari warga hingga aksi anarki oleh geng motor bahkan penjahat dan teroris.
Perlakuan memalukan terhadap anggota kepolisian bukan hanya terjadi di kota udang. Publik mulai mempertanyakan nama Polri yang dulu dibanggakan. Sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan dan para begundal.

Banyak pihak menilai perlakuan brutal terhadap polisi kerap terjadi karena penghargaan dan rasa percaya publik kepada aparat kepolisian mulai berkurang. Bahkan, kepolisian diminta membangun kembali kepercayaan kepada masyarakat sehingga tidak lagi terjadi perlakuan sadis oleh masyarakat kepada polisi yang bertugas melayani dan menjaga keamanan masyarakat.

Polisi yang dianiaya preman:

o. Anggota Sabhara Polres Jakarta Selatan, Brigadir Samsul Mustofa, ketika hendak melerai perkelahian anak punk, ditusuk dengan gunting pada bagian dadanya di Jalan Fatmawati Jaksel. Sejumlah pelaku berhasil dibekuk. Rabu (22/8-2014).

o. Anggota Polres Cirebon Brigadir Polisi Muhamad Andi Al Mujid,22, babak belur dikeroyok sekelompok warga yang sedang bertikai. Bintara polisi dikeroyok dan ditelanjangi pada Minggu (15/3). Selain dianiaya pakaiannnya dilucuti dan digebuki.” 8 Pelaku yang masih remaja ditangkap,” kata Kapolresta Cirebon AKBP Dani Kustomi.

o. Aiptu Dewa Ketut Ngurah lepas jaga piket di KP3 Benoa NTT, Selasa (17/3) di Denpasar Selatan, Bali menjadi korban pengeroyokan pemuda mabuk asal NTT. “Anggota kami dikepruk balok,” terang Kapolsek KP3 Benoa, Kompol Made Mudra.

Wakil Kepala Polri, Komisaris Jenderal Badrodin Haiti ditanya soal maraknya penganiayaan terhadap anggotanya menjelaskan, penganbiayaan terhadap angotanya terjadi spontanitas. Para pelaku merasa perbuatannya dihalang-halangi, sehingga timbul kemarahan.
Namun begitu anggotanya tetap diminta untuk tidak takut bertindak demi kepentingan orang banyak dan ketentraman umum. “Anggota sudah kita bekali SOP menindak para beganjul jalanan,” tandasnya.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*