harmono 24/08/2016

POSKOTA.CO – Pelari maraton Ethiopia, Feyisa Lilesa (26), gamang usai berakhirnya ajang Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil. Dalam berbagai kesempatan, termasuk ketika melewati garis finis, peraih medali perak ini kerap mengangkat sekaligus menyilangkan kedua tangannya ke udara.

Diketahui, itu adalah simbol solidaritas antipemerintah Ethiopia, tanah airnya sendiri. Seperti dilansir The New York Times, Selasa (23/8), hingga kini Ethiopia masih diwarnai gejolak massa yang menentang pemerintah otoriter. Mereka kerap menunjukkan simbol ‘X’ sebagai tanda menentang penguasa.

Ternyata, Lilesa berasal dari Suku Oromo. Suku ini tersingkir di Ethiopia, menurut aktivis HAM, sudah 400 orang terbunuh dalam aksi bentrokan dengan aparat keamanan Ethiopia. Selebrasi Lilesa adalah untuk mendukung perjuangan sukunya.

“Situasi yang sangat berbahaya dihadapi orang-orang Oromo di Ethiopia. Dalam sembilan bulan, lebih dari 1.000 orang tewas dalam aksi unjuk rasa,” ujar Lilesa kepada wartawan, seperti dimuat The Guardian, Selasa (23/8).

Aksi Lilesa tentu saja dapat membahayakan nyawanya. Karena itu, Lilesa kini berusaha mencari suaka serta paspor Brasil demi keselamatannya. Dengan begitu, ia bisa lari ke negara lain sehingga tidak perlu kembali ke Ethiopia.

“Mereka akan membunuhku. Saya tidak punya visa atau paspor lainnya. Mungkin saya akan tinggal di sini (Brasil). Jika saya berhasil mendapat visa, saya akan pergi ke Amerika Serikat,” ujarnya.

Puluhan ribu orang telah dipenjara, sedangkan ratusan lainnya tercatat tewas dalam aksi protes di penjuru negeri itu. Kerusuhan pecah sejak beberapa bulan terakhir di negara yang terletak di Afrika itu.

Karenanya, Lilesa memilih untuk tetap tinggal di Brasil, tidak ikut dengan kawan-kawannya sesama atlet Ethiopia pulang ke tanah air. Status keimigrasiannya menjadi tak jelas.

“Dia (Lilesa) tak menyangka hal tersebut terjadi. Dia tak mau pulang ke Ethiopia. Dia mau ke negara lain. Amerika Serikat bisa jadi pilihannya tapi kini ia hanya bingung, tak tahu harus ke mana,” kata agen Lilesa, Federico Rosa yang dihubungi The New York Times, Selasa (23/8).

“Dia sebenarnya begitu senang setelah memeroleh medali tapi juga sedikit galau,” sambung Rosa.

Terpisah, otoritas Ethiopia telah menyatakan akan menyambut Lilesa bak pahlawan begitu kembali ke tanah airnya.

Namun, menurut Rosa, sosok Lilesa bukanlah pria yang mudah diyakinkan dengan kata-kata. “Dia tak suka main-main,” ucap Rosa menilai atlet yang dilatihnya itu.

Kini, hidup Lilesa justru terkatung-katung di Brasil. Namun, Lilesa mendapatkan dukungan luas dari netizen di sosial media. Bahkan, aksi penggalangan dana dibuat agar dirinya bisa mencari rumah baru di luar Ethiopia. Hampir 100 ribu dolar AS telah terkumpul untuk nantinya diberikan kepada Lilesa. (*)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :