Djoko Waluyo 14/07/2014

22samsatPOSKOTA.CO  – Kasi STNK Polda Metro Jaya Kompol Ojo Ruslani, belum lama ini memberikan keterangan soal lancarnya pengambilan blanko STNK di seluruh Indonesia, namun kenyataan di lapangan apa yang dikatakan perwira tersebut berbeda dengan fakta.

“Saya sudah lebih dua minggu mengurus STNK Suzuki Ertiga yang bari beli belum juga keluar SNTK yang dijanjikan Cuma dua minggu. Ini mana yang benar,” kata Andi, warga Johar Baru Jakpus.,

Sebelumnya Kompol Ojo memberikan keterangan yang berjudul “Harusnya STNK dan Pelat Nomor di Luar Jakarta Juga Sudah Normal (detik.Rabu, 09/07/2014 17:00 WIB)”

Inikah yang disebut dengan dengan revolusi mental haruskah menerjang tatanan. Tentu harus membedakan yang namanya tatanan dengan revolusi mental.

Kompol Ojo seharusnya tak memberikan keterangan pada kapasitas seluruh Indonesia, karena kewenangan tersebut sepatutnya dikabarkan oleh Kadih Humas atau setidaknya Kabid Humas tingkat Polda atau Dirlantas.

Dikonfirmasi soal kemajuan Kompol Ojo yang berani memberikan keterangan soal blanko STNK, Kadiv Humas Irjen Roni S Sompie menyarankan untuk menanyakan hal tersebut kepada Kabid Humas Polda Metro Jaya. “Saya tidak tahu persisnya coma koordinasi dengan Pak Rikwanto,” katanya lerwat SMS.

Sementara itu, Kombes Rikwanto yang dikonfirmasi akan mengecek isi berita pada situs online dulu. “Terima kasih infonya nansi saya cek dulu Mas,” jawabnya lewat SMS.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto pada Diskusi Revolusi Mental yang diprakarsai oleh Forum Wartakan Polri (FWP) di Balai wartawan Polda Metro Jaya, Jakarta mengatakan, perubahan kultur polisi harus mendapat dukungan penuh dari masyarakat.

Polisi adalah prosuk masyarakat. Artinya, masyarakat harus berani melakukan koreksi positif, atau jika perlu ajari yang baik. Bukan sebaliknya, diajak untuk kolusi di dalam mendapatkan pelayanan. Baik itu di dalam proses penyidilikan atau penyidikan dan pelayanan lalu lintas.

Sementara Neta berpandangan, bahwa selama 68 tahun berdirinya Polri belum menjukan perubaan yang berarti. Karenannya ia berharap presiden terpilih nantinya akan memperhatikan lembaga-lembaga pendidikan yang dapat mendorong perubaan secara cepat.

Kata Neta, ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam perubahan mental, yakni meningkatkan profesional seperti menggunakan senjata api, meningkatkan fungsi-fungsi pelayanan seperti layanan SIM — Kemudian meningkatkan di dalam pelayanan penyelidikan dan penyidikan seperti memberi waktu atau batasan terhadap sebuah kasus, dan yang tak kalah pentingnya adalah pengawasan internal kepolisian seperti memberi sanksi kepada polisi yang nakal.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :