Djoko Waluyo 28/06/2015

tachi4POSKOTA.CO – Setelah mendengarkan cerita saudara tersebut, Chiu dengan emosional mengungkapkan pergulatan batin yang dia alami selama enam bulan itu. Dia berkata, “Setelah melewati pergulatan ini selama lebih dari enam bulan, aku baru memahaminya semalam selagi bermeditasi, dan menguraikan simpul dalam hatiku.

Sukacita yang kurasakan tak terlukiskan, seperti yang telah kamu sampaikan. Aku tak mengira bahwa kamu akan datang untuk menyampaikan cerita ini. Jika kamu datang beberapa hari lebih awal, aku takkan bisa menerima atau memahaminya. Sungguh suatu kebetulan!” Ini pasti sudah diatur oleh Guru.

Ketika aku menyebut Guru sekarang, aku merasa ingin menangis. Sungguh hal memalukan! Dia melanjutkan, “Sesungguhnya, sejak semula, aku salah karena mencari alasan mengapa Guru telah memarahiku. Meski Guru berbuat salah padaku, seharusnya aku tidak menjadi marah. Bukan begini seharusnya aku memperlakukan orang biasa, apalagi Guruku.

Itu semua karena aku terlalu banyak berpikir tentang diriku sehingga aku merasa tidak bahagia dan prihatin sepanjang insiden ini. Aku tak bisa benar-benar memahami tentang ketenaran dan penistaan, pujian dan cemoohan. Praktisi rohani seharusnya tidak goyah meski dihembus oleh ‘delapan angin’. Itu hanyalah angin sepoi-sepoi dan aku merasa terguncang selama enam bulan lebih.

Aku selalu berpikir bahwa aku seorang perfeksionis, bahwa aku lebih baik daripada yang lain dalam segala hal. Aku tidak bisa menerima bahkan satu kesalahan kecil pun. Aku terlalu mengikat erat diriku. Aku terlalu mempermasalahkan.

Itu adalah semacam ketidaksempurnaan. Sekarang aku bisa melihat kebenaran, aku merasa bahwa aku tak berguna. Aku melihat semua orang lebih baik daripadaku, tapi dengan begini aku merasa lebih bahagia dan lebih bebas.

Tak lama setelah aku mengatasi pergulatan batin ini, aku menghadapi situasi di mana aku harus membantu dalam tugas yang sulit. Ada saat-saat aku banyak dimarahi sehingga aku bersembunyi dan menangis, tapi perasaan tak bahagia ini hilang dalam waktu singkat.

Setelah dimarahi sekali oleh Guru, aku telah menjadi kebal! Tak heran jika Guru berkata dengan bergurau, “Jika kamu bisa menahan ‘raungan Singa’ ku, kamu bisa menangani situasi apa pun, ke manapun kamu pergi.”

Sungguh suatu kejutan bagi Chiu bahwa kekuatan batinnya untuk menerima jika dimarahi, telah meningkat jauh. Itu melampaui pencapaiannya dalam seni bela diri yang telah dihimpun selama 30 tahun lebih.

Dia berkata, “Aku ingat bahwa ketika aku belajar Tai Chi di bawah Master Liu Hsi Hung, terkadang aku tak bisa berlatih dengan benar jurus yang dia ajarkan kepadaku, aku juga tidak memahami intisari jurus itu.

Aku merasa malu untuk bertanya, dan Master Liu tidak memperbaiki gerakanku yang salah meski dia melihatnya. Aku berusaha berbagai cara dan berupaya keras, tapi aku masih tidak menghargai sifat sejatinya.

Beberapa hari kemudian, Master Liu akan datang dan memberiku beberapa instruksi yang sesuai, dan kemudian aku akan mengerti! Aku merasa bahwa dalam banyak pelajaran, seseorang pertama-tama harus berusaha mengalaminya secara luas, untuk menjajaki dan mempelajari dari berbagai situasi.

Ketika waktunya tiba dan dengan bimbingan yang tepat dari sang guru, kita akan benar-benar memahami. Tahun lalu aku merasa syok mengetahui tentang meninggalnya Guru Besar Tai Chi, Huang Hsin Shien, aku dipenuhi rasa bingung. Dia telah mempraktikkan Tai Chi selama hidupnya, dan mencapai tingkatan yang orang lain tak bisa melewatinya saat ini.

Sekarang yang tersisa hanyalah nama besarnya; lain-lainnya tak ada lagi. Itu sekonyong-konyong mengubah pandanganku terhadap kehidupan. Aku merasa sangat beruntung telah berjumpa dengan Guru dan mengikuti-Nya di jalur rohani sebelum hidupku berakhir. Maka, sekarang hidupku takkan sia-sia!”

Sumber:
http://www.godsdirectcontact.org.tw/eng/news/49/op7.html

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*