Djoko Waluyo 17/06/2015

taiciPOSKOTA.CO – Saudara Chiu adalah murid utama Master Tai Chi, Liu Hsi Hung. Banyak orang dari kepolisian Formosa datang kepadanya untuk belajar seni bela diri. Meski dia telah mencapai keahlian tingkat tinggi dalam Kungfu setelah berlatih terus-menerus selama lebih dari dua puluh tahun, dia tidak bisa membuat terobosan lebih jauh. Barulah setelah bertemu dengan Maha Guru Ching Hai dan berlatih Metode Quan Yin, dia bisa maju ke tingkat-tingkat yang lebih tinggi.

Suatu kali Guru meminta Chiu untuk berlatih seni bela diri bersama-Nya. Chiu beruntung mendapatkan kesempatan untuk ‘bertukar beberapa jurus’ dengan Guru, tapi dia sangat terkejut. Meski itu pertama kalinya Guru mencoba, Guru menunjukkan bahwa Dia telah menangkap intisari Tai Chi, baik dalam hal menggunakan ‘Chi’ maupun dalam gaya dan bentuk-Nya.

Orang lain bisa berlatih dengan rajin selama puluhan tahun tanpa mencapai hasil semacam itu. Chiu segera menaruh hormat sepenuhnya kepada Guru spiritual agung ini, Maha Guru Ching Hai, dan membuktikan bahwa Dia sungguh merupakan seorang Guru yang sangat langka di antara para guru di semua bidang.

Sejak itu, Chiu semakin tulus dalam mengikuti Guru di jalur rohani, dan senantiasa memberitahu semua orang yang dia jumpai bahwa berlatih Metode Quan Yin adalah bentuk Kungfu yang tertinggi.

Dibesarkan

Sejak lahir, Chiu dibesarkan oleh keluarganya dengan latar belakang seni bela diri. Selama beberapa generasi, para anggota keluarganya sangat antusias dalam berlatih seni bela diri.

Selama masa kanak-kanaknya, demi berlatih berbagai metode seni bela diri, ayah dan paman-pamannya mengatur, dengan biaya besar, agar para ahli yang memiliki reputasi datang dari Tiongkok Daratan untuk mengajari mereka Kungfu.

Selama lebih dari sepuluh tahun, demi membayar upah dan biaya hidup para pengajar itu, mereka menjual hampir semua harta benda yang diwariskan kepada mereka oleh leluhur mereka.

Namun, ini bahkan tidak cukup; ‘saudara-saudara sepelatihan’ paman-pamannya (juga belajar dari guru-guru yang sama) harus menjual harta benda mereka untuk bisa menutupi biayanya. Dalam situasi sulit ini, setiap anggota keluarga itu menghargai kesempatan ini dan berlatih dengan sungguh-sungguh.

Tanah tradisional Tionghoa milik keluarga besar tersebut, yang darinya selalu terdengar suara orang berlatih Kungfu, bagaikan sebuah sekolah seni bela diri. Sering sekali ayah dan paman-paman dari Saudara Chiu harus melakukan sparing satu sama lain. Dia ingat bahwa salah satu rumah di tanah milik mereka di sana terdapat sebuah ruangan tertutup dengan hanya satu pintu masuk kecil.

Ayah dan paman-pamannya sering dipanggil ke dalam ruangan gelap itu oleh ayah mereka atau pelatih seni bela diri untuk melakukan sparing. Tiada yang tahu siapa yang ada di antara kelompok yang bersesakan ke dalam ruangan itu. Siapa yang kalah, atau tidak tahan lagi akan keluar dari lubang kecil itu. Latihan tersebut benar-benar sangat keras.

Chiu berbadan lemah dan sering kali sakit ketika dia masih kanak-kanak. Selama tahun pertamanya di sekolah, dia sering sekali sakit sehingga dia tidak masuk sekolah puluhan hari dalam satu jangka waktu. Dia sangat lemah sehingga akan pingsan setelah berdiri sebentar di bawah sinar matahari. Karena hal ini maka dia lalu berlatih seni bela diri dengan tak kenal lelah dan jauh lebih rajin daripada orang lain.

Dia belajar aliran Shiaolin ketika masih kanak-kanak dan beralih ke Karate pada usia 14 tahun. Melalui latihan keras dari seorang guru Karate Jepang, kurang dari separuh dari 500-600 murid di kelasnya bertahan setelah kurang dari dua bulan. Hanya tersisa 50 orang setelah 18 bulan. Persyaratan dari guru itu bagi murid-muridnya sangat ketat.

Jika ada yang absen tanpa alasan yang masuk akal, dia akan dipukuli oleh guru itu dengan tongkat kayu pada hari berikutnya. Selama latihan-latihan itu, setiap jurus harus diulangi 500 kali. Sering kali murid-murid itu harus berlatih saling menyerang. Hidung memar dan wajah bengkak adalah pemandangan umum. Jari-jari mereka rusak karena berlatih keras seperti menghancurkan batu bata. (bersambung)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*