taher 24/12/2014
Wita bersama sahabat hobi petenis
Wita bersama sahabat hobi petenis

POSKOTA.CO – Keningnya berkerut. “Wit, aku berterima kasih pada Andrew karena telah mengeluarkanku dari kebodohan hidup. Aku membalasnya dengan mencintainya setiap hari.” Kata Menik. ”Dan selama hidup bersama aku mencoba kompromi dengan pola pikirnya untuk memilih dia atau anak-anakku. Ketika sekarang aku menetapkan pilihan, mengapa dia menyesal ?” “Mungkin dia baru sadar kehilanganmu.” Kataku.

Menik mengibaskan tangannya. “Mungkin. Tapi aku tidak merasakan cinta lagi. Nafsu, okelah.” Kata Menik, “Hari ini aku tidur dengannya adalah kesepakatan belaka, besok aku tidur dengan yang lain bukan lagi urusannya.” “Kamu enjoy menjalaninya ?” Kataku. “Seperti yang kamu lihat,” kata Menik, “Jujur saja Wit, aku semakin terobsesi merasakan berbagai jenis dan ukuran penis.”

“Menik, kamu gila.” Menik tertawa. “Wit…jika aku tidak memakai pola pikir mereka soal sex, mungkin aku akan merasa bersalah.” Kata Menik, “Nafsu sex-ku lebih bergelora ketika aku berganti pasangan. Tidak peduli aku melakukannya karena cinta atau just sex. Aku merasa beruntung bisa mengalami berbagai ukuran penis.”

Menik mengakhiri ucapannya dengan mengedipkan mata. Dia ingin meledekku. “Bagiku belalai itu sama saja,” kataku mencoba berkelit. “Jadi ini yang kamu maksud dengan menikmati hidup ?”
|
“Iya.” Kata Menik, “aku sekarang bisa menertawakan laki-laki yang terlalu percaya diri saat sedang berada di atas tubuhku. Padahal…..” Menik menghentikan ucapannya. Dia mencomot pisang goreng. “Tambah kopi ?” Menik menunjuk pada cangkir didepanku.

Aku menjawab „tidak? dengan gerakan tangan. “Padahal apa tadi ?” Menik menggeser kursi sedikit menjauh dari meja dan meluruskan badannya. “Tahu tidak, Wit, kadang laki-laki yang sedang berada diatas tubuhku susah membuatku enak. Aku harus kerja keras meraih kenikmatan.

” Menik memejamkan mata seolah membayangkan peristiwa tersebut. ”Aku menyemangati mereka dengan mengatakan penis mereka besar. Huh, padahal yang sehari sebelumnya lebih besar dan kencang.” Menik membuatku tersenyum simpul sepanjang sore dengan cerita penis-nya. Aku tidak punya banyak pengalaman dengan penis, namun aku membenarkan semua ucapannya. Akhir pekan bersama Menik usai setelah aku naik ke mobil Menik.

Setelah perisitiwa di lapangan tenis, dia tidak pernah lagi membiarkanku pulang naik kendaraan umum.. “Thank you sudah menemani akhir pekanku. Kamu pendengar yang baik, Wit.” “Anytime.”

Menik menyentuh pundakku ringan, lalu menyetir mobil dengan sikap santai. “Oh ya, beberapa hari lalu ada wanita Jerman melabrakku lewat e-mail.” “Hah! Apa yang terjadi ?” “Ternyata salah satu buleku masih berstatus suami orang.” Kata Menik,” mana aku tahu, dia mengaku sudah berpisah.”

Istri Tahu

“Bagaimana istrinya bisa tahu ?” “Mungkin dia memergoki SMS-ku di HP suaminya. Wanita itu mengirim SMS menanyakan emailku.” “Terus kamu ribut dengan wanita itu via email ?” “Wita….Wita, aku tidak ada urusan dengan wanita itu. Aku jawab singkat ‘Hi, siapa kamu ? I don’t care’ Itu saja.” “Jadi kamu merasa ditipu bule itu ?” “Hahahah….hari gini tidak ada yang menipu dan tertipu, Wit.

Aku menjalani hubungan tanpa beban, tanpa target. Aku hanya menikmati apa yang ingin aku nikmati. Selebihnya bukan urusanku.” Tawa Menik terhenti ketika sebuah sepeda motor vega yang dikendarai lelaki remaja berseragam SMU mendadak memotong jalan di depan kami.

Menik mengerem mendadak. Tubuhku terlonjak kedepan. Wajah Menik tegang. Matanya menyala. Menik membuka kaca jendela dan meneriaki si pengendara. “Dasar goblok! enggak tahu aturan. Matanya taruh dimana.” “Sabar Menik….” Aku berusaha menentramkan Menik, ”yang penting kita selamat.” “Gak bisa gitu dong, Wit. Dia telah membahayakan nyawa orang lain.” Aku mengelus-elus lengan Menik.

Butuh waktu 10 menit sebelum Menik kembai menguasai emosinya. “Pengendara motor yang nyelonong seenak jidat tadi seharusnya dicabut SIM-nya,” kata Menik. “Aku iri dengan tata krama pengguna jalan di Eropa, Wit. Begitu tertibnya hingga macet pun terasa nyaman.” Sembari berkonsentrasi pada jalan didepannya, Menik meminta maaf padaku karena sempat kehilangan kendali.

“Itu wajar.” Kataku. “Kalau dipikir-pikir, lelaki memang suka seenaknya sendiri ya, Wit.” Kata Menik, ”Pengendara tadi, mantan suamiku, dan Andrew.” Aku membenarkan pernyataan Menik.

“Lelaki selalu merasa dirinya penguasa dunia. Arogan.” Kata Menik, ”Andrew memaksakan cara orang barat berkeluarga. Mantan suamiku berbuat semaunya…” “Dan kamu berhasil menunjukkan pada mereka bahwa wanita juga bisa tegas.” Kataku.

“Benar, Andrew berpikir aku tidak berani keluar dari rumahnya. Dia yakin ikut dirinya lebih enak ketimbang pergi. Mantan suamiku mengira aku selamanya manut. Sekarang mereka kaget melihat aku berani meninggalkan mereka.” “Aku tidak akan menilai benar tidaknya semua keputusanmu.

Tapi aku salut dengan ketegasanmu mengambil keputusan,” kataku. “Thank you, Wit.” “Omong-omong apa rencana hidup kamu selanjutnya ?” Menik diam. Aku tahu dia menghindari pertanyaanku dengan berkonsentrasi pada jalan. “Kamu akan tetap menjalani pola hidup seperti ini ?” “Wit, aku ingin menikmati hidup yang bisa aku nikmati.

Biarkan saja seperti banjir bandang yang mustahil terbendung.” “Sejauh apapun kapal berlayar, pada akhirnya butuh pelabuhan untuk bersandar.” Menik meminggirkan mobilnya tepat didepan rumahku. Aku tidak tahu apakah dia menangkap atau tdiak makna ucapanku tadi. “Thank You atas akhir pekan yang indah di rumahmu.”

“Aku yang berterimakasih sudah ditemani dan didengarkan.” Kata Menik, ”ok, aku akan menimbang soal pelabuhan yang kamu sarankan tadi.” “Benarkah ?” Aku tidak menyangka Menik mengatakan itu. “ Janji.” Kata Menk. “ Nite-nite…Wita.” Aku memandang mobil Menik sampai hilang dipersimpangan jalan.

Aku senang mengetahui Menik masih terbuka dengan kemungkinan mengubah pola hidup bebasnya. Aku jadi tidak sabar menunggu waktu mendengarkan ceritanya lagi.

Wita, penulis kisah nyata
Wita, penulis kisah nyata

Dilema Datang, menghilang, datang lagi, menghilang lagi. Itulah kebiasaan Menik. Akhirnya setelah 4 bulan tidak bertemu, kami janjian shopping bareng di daerah Pondok Indah Mall. Kebetulan lagi ada sale di Sogo. Kami mengakhiri belanja di Red Bean Caffe yang berada di pojok sebelah utara Basement.

Seperti biasa aku mengiyakan jika Menik memilih tempat duduk di smoking area. Menik lansung membakar sebatang rokok menthol begitu duduk. “Aku lelah, Wit.” Menik memulai obrolan seriusnya. ”Semakin aku mencari kesenangan, semakin aku merasa tidak senang.” “Itu mungkin isyarat untuk mengakhirinya.” Dua cangkir besar cappuccino datang menyela pembicaraan kami.

Permukaan cangkir tertutup buih, melimpah. Menik menyeruputnya penuh perasaan. “Itu masalahnya,” kata Menik. ”Pilihannya cukup sulit. Apakah aku harus berlabuh di Andrew atau… .pacar baruku.” Mendung tebal memayungi sore ini. Kami dua kali mendengar gemuruh geledek.

“Koq bingung ?” “Kamu tahu, Wit, sikap Andrew banyak berubah sekarang.” Menik mulai bercerita tentang perubahan yang dimaksudnya. Tentang rumah besar yang mereka impikan dulu saat masih seatap-seranjang kini dalam proses pembangunan.

Andrew meminta Menik sendiri yang memilih lokasi, desain, beserta segala isinya. “Namun entah mengapa, setiap kali kami berdekatan selalu saja muncul pertengkaran. Urusan makan siang saja bisa jadi pemicu. Andrew tidak pernah bertanya apa mauku.” Keluh Menik. “kami hanya akur saat Andrew diatas tubuhku. Tapi berumahtangga bukan hanya soal sex, kan ?”

Aku dengarkan cerita Menik sambil menyesap Cappuccino dan sesekali memasukkan cake keju ke mulut. “Bukannya kamu sudah kenal karakter dia bertahun-tahun ?” kataku. “harusnya tidak jadi masalah.” Menik memainkan rokok menthol dijarinya. Dia gemar melakukannya setiap kali dia sulit menjelaskan sesuatu.

“Kedengarannya sepele. Tapi mengesalkan jika terjadi setiap hari.” Kata Menik. ”Tapi perubahan sikapnya yang mau menerima aku satu paket dengan anak, adik dan keponakanku untuk tinggal serumah jadi bahan pertimbangan aku untuk memilihnya.” “Lalu apa kelebihan pacar barumu ?” Wajah Menik berubah ceria.

Dia menatapku dengan mata berpijar. “Oh… Wit, bersama dia aku merasa hidup seperti tidak ingin apa apa lagi. Tak ada teriakan. Perkataannya selalu lembut, dan mata teduhnya seolah hanya ingin memelukku, Wit.” Menik tidak memberiku kesempatan menyela saat bercerita tentang pacar barunya.

Tentang pacarnya yang selalu bertanya hendak makan dimana, kemana kita pergi hari ini, dan sikap-sikap gentleman lainnya. “Oh Wit, Dia selalu lembut kala bercinta. Dia menyentuh bagian-bagian sensitifku seolah aku ini porselen.” Kata Menik.

“saat diranjang, dia kerap bertanya, bagian mana yang membuatku nikmat ? Posisi apa yang aku inginkan ?” “Aku sudah tahu pilihanmu condong kemana. Lalu apa masalahnya ?” “Pacar baruku tinggal di Jerman. Pekerjaan dia sangat mapan disana. Dan sulit bagiku hijrah ke Jerman mengingat anak, keponakan, ditambah adikku yang janda bersama anaknya yang masih kecil, sekarang menjadi tanggunganku juga.”

“Aku bisa memahami.” Kataku sembari mengangkat kedua tangan. “tapi jangan lama-lama.” “Bagaimana kalau aku memilih keduanya ?” “Apa ?” “Aku ingin memiliki keduanya.” Kata Menik lagi. “Aku telah menemukan caranya.” Aku senang Menik telah memutuskan berubah.

Tapi rencananya berlabuh pada dua lelaki membuatku kecewa disaat bersamaan. “Wit, dalam sejarah manusia bukan aku saja wanita yang bersuami lebih dari satu ? Pilihan ini adil bagiku, pacarku dan Andrew.” “Terserah kamu saja.” kataku, “Setidaknya ini langkah maju, dari banyak menjadi dua.” Menik tertawa keras hingga seorang lelaki dimeja sebelah memalingkan wajah ke arah kami. Lelaki itu menempelkan telunjuk dibibirnya.

Pilihan Terakhir Aku tidak bertemu Menik selama 2 bulan. Sesekali dia menyapaku via SMS tanpa pernah bercerita tentang ide gila yang dia ucapkan saat belanja di Pondok Indah Mall. Aku juga menghindari mengorek soal itu. “Aku akan segera pindah ke rumah Andrew.” kata Menik melalui LINE Aku membalasnya: “Kapan ?”

“Mungkin awal Juli ini aku pindah.” Aku menawarkan bantuan mengepak barang namun dia menolak. Alih-alih dia malah berkicau soal sex. “Kebayang kan, suara gemericik air sungai dekat rumah mengiringi desah nafas dan erangan kami ? “ “Pacar barumu tahu kamu akan kembali tinggal bersama Andrew ?” Menik menjawab pertanyaanku dengan undangan menginap di rumah barunya akhir pekan. “Baru rampung 80 % sih, tapi okelah buat menjamu sahabat terbaikku. Kebetulan Andrew sedang diluar negeri.” Aku yang sebenarnya tidak sanggup menahan rasa penasaran spontan membalas “Ok, and see You on Saturday evening.”

Rasa kagum menyelimutiku saat tiba dirumah Menik. “Wow Menik, ini istana.” Kataku. “Masuk saja dulu, ” Menik memeluk dan mencium pipiku, “aku senang kamu datang.” “Kamu seperti Cinderella yang diboyong pangeran ke istana.” Menik menggandengku kesebuah ruangan yang luas dengan fasilitas yang hanya pernah kulihat di hotel berbintang 5. Pemandangan dari kamar ke halaman yang tidak berpagar begitu menakjubkan.

Aku melihat air sungai mengalir dari jendela kamarnya. . “Disinilah semuanya terjadi, “ kata Menik mengingatkan aku impiannya bercinta diiringi suara gemericik air sungai, “kita minum kopi di ruang keluarga saja Wit. Ayo. “ Secara umum rumah Menik hampir jadi.

Meski kusen jendela dan pintu belum dicat semua, instalasi listrik masih belum rampung dibeberapa tempat, namun semua itu tidak mengurangi kemewahannya. Menik benar-benar menetapkan standar tinggi pada rumahnya. Dia melapisi lantainya dengan ubin jenis batu granite berukuran 1 x 1,5 meter.

Kusen terbuat dari kayu besi langka, serta segala jenis meubel yang terlihat terbuat dari kayu jati asli dan berharga mahal. “Bagaimana kabarmu, Wit ?” Kata Menik. Kami duduk disofa. Didepan kami telah tersedia sepiring pisang goreng dan 2 cangkir kopi tubruk.. “Baik. Kamu ?“ “Ya….aku menikmati apa yang bisa aku nikmati, selagi aku masih bisa menikmatinya, hahaha….” “Andrew ?” “Hmmm…Andrew di Vietnam selama 3 minggu kedepan.

Jujur aku merasa kesepian. Untungnya aku punya kesibukan membereskan rumah. Beginilah repotnya orang pindahan.” “Lalu kenapa merasa kesepian ?” “Hahaha… maksudku sebenarnya, aku tidak bisa bercinta selama 3 minggu ini. Andrew dan pacar baruku, keduanya sedang berada di luar negeri, hahaha.” “Ya, aku tahu. Ini bukan perkara sepele buat kamu.” Aku ikut tertawa.

“Seperti rasa lapar, Wit. Satu-satunya cara mengatasinya adalah makan. Bagiku sex seperti makan.” Kata Menik. “Loh, apa cuma mereka lelaki didunia ini ?” Aku menggoda Menik. “Aku sedang belajar Wit, hanya tidur dengan lelaki yang kucintai.” “Terus gimana dong rasa laparmu ?” Aku ngotot menggoda Menik.

“Ahhhh…rumah ini masih menyisakan setumpuk pekerjaan buatku.” “Oke, oke, trus bagaimana dengan ide gilamu bersuamikan dua orang hahaha…..” “Aku akan segera tentukan pilihan.” “Wow !” aku tidak menduga Menik bakal menjawab setegas itu. “Aku harus segera menata hidupku, Wit. Aku ingin hidup damai dan bahagia dalam arti sebenarnya seperti….” Aku memeluk Menik sebelum dia menyelesaikan ucapannya.

Makan malam di rumah Menik selalu istimewa. Dia juru masak handal dan nyonya rumah yang detil. Masakannya enak. Caranya menghidangkan pun berseni. Menik menghadirkan dekorasi a la Bali disetiap sudut rumahnya. Bunga-bunnga khas Bali seperti kamboja, lotus, pandan dan melati yang wangi banyak menghiasi taman rumahnya. Aku merasa seperti berada di Bali yang magis dan romantis.

Selepas makan malam kami mengangkat gelas berisi red wine “ Untuk kesehatan dan pilihan yang tepat.” “Aku berharap kamu bahagia di rumah barumu,” kataku. “Dan semoga kamu bisa memgambil keputusan hidup yang baik.” “Rumah ini impian aku & Andrew sejak dulu. Bedanya sekarang aku boleh membawa anak-anakku sehingga aku bisa mendekap mereka setiap saat.”

“Aku ikut senang dengan perubahan sikap Andrew,” kataku. “Tapi di sisi lain aku juga memahami kesulitanmu menentukan pilihan. Ini soal rasa, iya kan ?” Menik mengangguk. “Kamu sudah tahu cara menentukan pilihan ?” “Sudah.” Kata Menik, “Aku akan menantang pacar baruku.” “Aku senang mendengar ketegasanmu.”

Menik menuang red wine yang ketiga untuk dirinya. Aku menolak ketika dia ingin menuangkannya kedalam gelasku. “Lambungku nanti kumat,” kataku. Menik maklum. “Aku sungguh lelah, Wit.” Kata Menik, ”Ternyata dendam pada masa lalu hanya menghasilkan kepalsuan.

Hanya karena marah pada suami yang mengungkungku selama 17 tahun, tidak berarti aku berhak melampiaskannya dengan berpetualang.” “Lalu tantangan apa yang kamu maksud buat pacar barumu ?” Menik memandangku sambil menghembuskan asap rokoknya.

“Jika pacarku benar-benar mencintaiku, dan tidak cuma menginginkan tubuhku, dia harus berkorban demi cintanya.” “Dengan meninggalkan kehidupan dan pekerjaannya di Jerman, terus pindah ke Indonesia ?” Menik mengangguk. Dia menatapku dengan mata berbinar, seolah apa yang baru kuucapkan telah menjadi kenyataan.

“Hanya dengan menantangnya Wit, aku baru punya alasan memilih.” Kata Menik, “setelah aku hidup dengan hanya satu laki-laki, aku berharap itu awal dari perjalananku menuju kebahagiaan.” “Jadi sebenarnya hati kamu telah menentukan pilihan.” Kataku.

“Aku mencintai dia, Wita,” kata Menik tersedu. “Aku seperti tidak ingin apa-apa lagi dalam hidup ini saat berada disampingnya. Pelukannya membuat aku merasa dihargai.” Aku menyodorkan dua lembar tissue kepada Menik, sambil menepuk-nepuk bahunya.

“Aku yakin ini awal dari kebahagian sejati dalam hidupmu. Senyumlah.” Kataku. Kami terdiam lama. Aku mengedar pandangan ke sekeliling rumah. Aku yakin diluar sana banyak wanita bersedia menukar posisinya dengan Menik demi mendapatkan istana ini.

“Hmm… rumah ini benar-benar impian para wanita.” Tanpa sadar aku mengguman. Aku baru sadar telah keceplosan setelah Menik meraih badanku agar menghadap tepat kewajahnya. “Aku akan tinggalkan rumah megah ini. Aku tinggalkan segala kemewahan dan kenikmatannya, jika pacar baruku bersedia pindah ke Indonesia.” TAMAT Jakarta, 7 Desember 2014

==========================
Penulis
Wita Lexia lahir di Jogjakarta, 16 Juli 1964. Sekarang dia lebih banyak menulis, travelling & mendongeng buat cucunya Alexa & Draco. Saat ini dia tengah merampungkan novel pertamanya; Perempuan Tua Anda bisa terhubung dengan Wita Lexia via : Facebook : https://facebook.com/wita.lexia
Email : lexia.wita@gmail.com

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*